benarkah aksi turun ke jalan tidak berarti??

Sumpah Mahasiswa Indonesia

Kami Mahasiswa bersumpah..
Bertanah air satu Tanah air tanpa penindasan
Kami Mahasiswa Indonesia
bersumpah…
Berbangsa Satu Bangsa yang Gandrung Keadilan….
Kami Mahasiswa Indonesia
Bersumpah..
Berbahasa satu bahasa tanpa kebohongan.. .
(Sumpah Mahasiswa, Mei 1998)

Sepuluh tahun yang lalu hampir seluruh mahasiswa Indonesia bersatu melawan rejim yang dinilai korup dan menindas..
Hari ini, mengapa mereka bungkap?
Tidakkah mereka melihat di Porong-Sidoarjo, ribuan orang telah tergusur dan dirampas hak-haknya akibat lumpur lapindo…
Mereka dihinakan…ya. .mereka dihinakan
Para pangeran dan saudagar kaya telah meludahi mereka dari kereta kencana…
Kemana mahasiswa Indonesia?
Bangunlah mahasiswa… bangunlah. …
Berhentilah sejenak pergi ke Mall…
Berhenti sejenak pergi ke Kafe
Berhenti sejenak pergi ke bioskop
Kini..sejenak alihkan pandaganmu ke Porong, Sidoarjo…
Sejenak saja kawan…sejenak…
Rasakan penderitaan mereka…
Dengarkan jerit hati mereka….
Bangunlah mahasiswa…
Kembalilah memakai jas almamatermu untuk kembali turun ke jalan…
Tinggalkan sejenak saja bangku-bangku kuliahmu…
Tinggalkan sejanak buku-buku kuliahmu…
Berteriaklah sekeras-kerasnya. ..
Agar para pangeran di dalam istana keluar dan mendengar…
Agar para pangeran dan saudagar kaya itu berhenti meludahi saudara-saudara kita..
————————————————————————————————————————-
tulisan ini baru banget di dapat dari milis lingkungan..
mengingatkanku pada sebuah polling yang mengatakan bahwa aksi turun ke jalan oleh mahasiswa itu tidak berguna, sia-sia, dan tanpa makna..benarkah?
bukankah turun ke jalan juga merupakan salah satu bagian dari bentuk aksi kita pada ketidakbenaran yang telah dilakukan pemerintah??
slain belajar, melakukan kerja sosial, serta menulis buku atau artikel di koran2,,
[yang ternyata juga kurang diminati]
ataukah memang benar kenyataannya saat ini mahasiswa sudah kehilangan taringnya??
akibat terlalu sering bermain di mall, kafe, dan bioskop??
bahkan terkadang ku berpikir, sedikit rasa simpati yang terlintas di benak kita saat mendengar jerit tangis rakyat hanyalah rasa sesaat, ya..sesaat!
dan tanpa adanya kerja nyata untuk mengubah itu semua..

jangan pernah menyerah, kawan..
karena menyerah berati mati..
jangan pernah berhenti, kawan..
karena behenti juga berarti mati..
teruslah bergerak..
teruslah berjuang!!

55 responses

  1. pohonpakis said: @sayangmasemang angkatan sekarang punya rasionalitas…..? kalo punya pun …memprihatinkan……..lihat korban tahun ini….banyak maba yang wawancara keringanan saja ampe jam setengah dua pagi……Jadi, rasionalitas apa yang digunakan……rasionalitas birokrat ya…..jadi loyalis rektorat….

    hahaha, saya tahu ini siapa !mas, spt yang udah sy&senior saya bilanglah, langsung aja kita bakar tempat….oke mas ?!

  2. oke, kalo di bawah comment yg OOT,sekarang, comment tentang artikel di atas,sepakat dengan sayangmas tapi kata2 pertamanya aja setiap jaman ada tantangannya, tetapi, bisa jadi seperti yang dibilang pohonpakis, kita(sy akui secara objektif) menjadi tumpul dan sensitifas plus rasionalitas kita menjadi berkurang(bahkan sang pemilik MPpun, mengakuinya!)tantangannya disini saya pikir adalah zaman sekarang membutuhkan bukan hanya sekedar pahlawan perang tapi juga pahlawan ilmu yang bisa berperang seprti yang dikatakan Anis Matta, bahwa bisa jadi kita masih berkutat dengan peperangan padahal tidak membutuhkan perang, dalam keadaan damai pahlawan perang tidak dibutuhkan, hanya pahlawan ilmu yang bisa berperang yang dibutuhkan untuk menjaga kedamaian

  3. @joehahnjohanTentara amerika sepulangnya dari irak itu cenderung mengalami PSTD (Post Syndrome Trauma Disorder) jadi dia tidak lagi bisa membedakan kondisi medan yang ada di depannya yaitu apakah masih berada di medan perang atau medan damai. Sekarang coba pikirin gimana angakatan 2004 ke atas tidak tergencet biaya mahal dan sebagainya itu, pas acara widuda semester genap tahun 2008 ini terlihat banyaknya jumlah lulusan dari S1 angkatan 2004 secara signifikan daripada tahun-tahun sebelumnya ini menunjukkan indikasi yang jelas karena tingginya faktor biaya memaksa para mahasiswa berpikir dan berupaya keras untuk lulus, masalah yang semestinya juga menjadi perhatian mereka juga seperti pengkritisian kepada penguasa kampus walhasil menjadi tidak teroptimalkan pelaksanaannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s