Sindrom 20

Apakah usiamu menginjak kepala dua? Belum menikah, belum siap menikah, atau belum saatnya menikah? Kamupun hobi banget ngomongin tentang nikah, pasangan hidup, karakter lawan jenis, anak, atau hal2 lain yang terkait itu? Hoho.. Hati2 kawanz! Bisa jadi kamu kena sindrom 20. Entah sejak kapan istilah ini ada, aku yang membuatnya *masa iyaa?* atau aku mengutip kata2 orang lain *siapa yaa?* yang pasti, istilah ini cukup populer di kalangan teman2 seangkatan dikampus dan SMA.

SINDROM 20
Biasanya, istilah sindrom digunakan oleh orang kedokteran sebagai suatu penyakit. Kalo kata mbah Wiki, sindrom dalam ilmu kedokteran dan psikologi adalah kumpulan dari beberapa ciri2, tanda2, simtoma, fenomena, atau karakter yang sering muncul bersamaan. Nah, istilah sindrom bisa digunakan hanya untuk menggambarkan karakter dan gejala, bukan diagnosa. Jadi, ga salah juga ternyata pemilihan kata sindrom untuk gejala2 yang pas awal tadi udah disinggung. Nama sindrom biasanya berasal dari nama dokter yang menemukan suatu penyakit, lokasi, atau situasi tertentu. Tadinya mau aku namain sindrom Ai, tapi takut ntar malah jadi banyak yang ngefans jadi ga jadi deh. Hehe.. (huexs!). Maka, dipilihlah nama sindrom 20 *lah, serasa aku yang buat niy!* angka 20 menunjukkan usia 20 tahun. Usia 20 merupakan awalan seseorang menyandang gelar kepala dua. Usia 20 dianggap sebagai gerbang awal menuju kedewasaan. Dan di usia 20 juga, dianggap wajar ketika seseorang ngomongin tentang nikah. Soalnya, waktu temanku umurnya 19 tahun, dia dianggap belum cukup umur, belum ngerti kalo kita lagi bahas tentang pernikahan. Padahal, belum tentu juga mereka ga pernah ngomongin hal itu, cuma mungkin intensitasnya ga banyak.

GEJALA SINDROM 20
kalo kita menggunakan istilah sindrom, maka wajib hukumnya untuk membuat gejala2 yang terlihat. Aku sebenernya ga terlalu punya patokan yang jelas tentang gejala sindrom ini. Secara, istilah ini lahir bukan dari penelitian. Cuma pengamatan kecil2an aja. Makanya, masih banyak yang harus dikritisi dari tulisan ini. Nah, aku melihat kalo sindrom ini dihinggapi orang2 dengan range usia 19-25 tahun. Bibit2 sindrom sudah mulai terlihat di usia 19 tahun. Biasanya, sindrom ini muncul saat ada teman yang menikah. Gejalanya yaitu senang mendapat undangan nikah, kagum sama teman yang nikah muda, hingga akhirnya muncul pertanyaan2 ringan: kamu kapan nyusul? Siapa yaa pasanganku nanti? Atau sedikit malu2 cerita dengan mengatakan: liat nanti ajalah, kalo jodoh mah ga kemana! Dan obrolan itu hanya muncul di “musim2 nikah”

Batas atas sindrom ini adalah usia 25 tahun. Ini merujuk pada Rasulullah yang menikah di usia 25 tahun. Buat yang belum juga nikah di usia itu, artinya jodoh belum datang! Sabar! Dan waspadalah karena sindrom ini akan berlanjut dan mungkin akan lebih parah. Obrolan tentang nikah bisa jadi konsumsi utama. Atau kalo yang punya blog, isi jurnalnya sebagian besar tentang nikah *ada yang merasa tersindir ga yaa?* Buat yang ada di usia pertengahan, obrolan ini cukup sering. Ekstremnya, apapun topiknya, semuanya bakal berujung ke arah nikah dan yang terkait dengan itu (UUN=Ujung Ujungnya Nikah). Contoh yang masih hangat saat aku dateng ke kumpul angkatan SMAku. Awalnya sih ngebahas tentang MP, eh tiba2 malah nyasar ke ngomongin tentang nikah.

Yaph, obrolan tentang nikah memang sepertinya menarik untuk diperbincangkan. Apalagi buat mereka yang stress dengan urusannya. Tapi berhati2lah kawanz, jangan terlalu sering ngomongin tentang itu, apalagi kalo akhirnya jadi candaan yang kelewat batas. Masih banyak loh yang harus kita pikirin. Sekali dua kali bolehlah, asal jangan keseringan. Kalo emang belum siap ato belum ketemu jodohmu, puasa aja! InsyaAllah itu lebih baik! Akhirnya, ku tutup tulisan ini dengan ayat Alquran yang mungkin ga nyambung, tapi aku suka:

“perempuan2 yang keji untuk laki2 yang keji, dan laki2 yang keji untuk perempuan2 yang keji (pula), sedangkan perempuan2 yang baik untuk laki2 yang baik, dan laki2 yang baik untuk perempuan2 yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” [QS. AnNuur: 24: 26]

ayooo jadi anak baik dengan berbuat baik dan menyerukan indahnya kebaikan!!

*fiuuh, akhirnya selesai juga nie tulisan*

80 responses

  1. hha,,k ai..bs jg posting gniyanH.. ;PbtW,, aq suks kta” t’akhirnya..Q.S. An-nur 24:26tu artinya….apapun status qt skrng,, Allah dah nyediain banyak ksempatan u qt bbwad baik..maka jgn sia-siakan it..urusan jodoh..tnang sajha..i.4W dah da yg m’handle..

  2. Oh, meli adikku..Inilah komentar yg ku tunggu2..Ditengah orang2 yang mengambil sudut pandang yang aneh, kau berhasil menangkap pesan luar biasa dalam tulisanku ini..To all: berbuat baik dan menyerukan indahnya kebaikan itu lebih baik loh!!

  3. Aku jadi courious ma lanjutan n kesimpulan Sindrom 20 mu, Ai *menanti*Nikah = awal berkeluarga, yaitu terpilihnya calon ayah/ibu dari bakal penerus. Bgus u/share n nyari solusi, tpi klo jd obrolan kacang mendingan tidur d :pEmang,,ngomongin ini gak kn da habisnya ^-^

  4. aku lum komen yak kayaknya n_n.. aniwei, aku nikah di batas waktu.. di usia 25th.. Gitu suka diledekin sm mama.. Kamu nikahnya ketuaan, mama dulu usia 23 udah punya anak dua. Heuuu… kejam >_<!–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s