husnudzon, sampai kapan?

Malam itu rasanya ujian datang padaku dan dua saudari yang saat itu bersamaku. Ujian yang mungkin tidak terlihat berat, karena bukan ujian fisik yang kami hadapi, tapi yang diuji adalah rasa persaudaraan kami terhadap saudara kami, sejauh apa kami berhusnudzan kepadanya. Yaph, malam itu aku mengetahui bahwa saudaraku itu mengambil keputusan yang menurut kami ga tepat. Parahnya, kabar itu ku ketahui justru bukan dari dia. Lebih parah lagi, waktu mau diklarifikasi, dia ga angkat telpon kami. Bahkan temen2nya ga tau dia ada di mana.

Kami berekspresi dengan gaya masing2. Temanku yang pertama udah cukup panas dengan tindakan yang diambil saudaraku itu. Prasangka2 buruk mulai bermain2 di pikirannya. Temanku yang kedua ga segitunya, tapi raut kesal n bingung harus berbuat apa tergambar jelas di wajahnya. Dan aku, aku memilih diam. Sesekali kembali menelpon saudaraku itu. Mencoba terus dan terus berhusnudzon. Ok, saudaraku itu mungkin salah. Tapi bukankah dia masih punya kesempatan untuk memberikan penjelasan kepada kami?! Lalu, temanku yang pertama mulai menunjukkan kekesalannya lagi. Ku balas dengan senyuman. Dan tiba2 muncul kata2 yang mengagetkan, “gw ga bisa yaa Ai bersikap husnudzon kaya lo gitu?” weizz,, dalem sist!!

Eh, eh, kok gitu siy? *loh, kok jadi kaya lagu yaa?!* cuma aku jadi bingung aja. Bukankah husnudzon adalah selemah2nya tingkatan ukhuwah yaa? Apa karena ga mau dibilang lemah? Ah, tapi kan tetep aja dia sodara kita. Aku sampe tanya, “emang gw salah yaa kalo mencoba untuk husnudzon.” trus dia bilang, “engga, lo ga salah kok. Justru bagus kaya gitu. Tapi gw ga bisa.” Laah,, emang husnudzon itu milik orang2 tertentu aja yaa? Aku juga pernah denger kalo kita tuh harus punya 700 prasangka buat saudara kita. Tentunya prasangka yang baik.

Seminggu berlalu. Kabar saudaraku itu tak lagi ku dengar. Hingga sore tadi ku temukan wajahnya. Raut mukanya sungguh berbeda. Sepertinya dia menyadari kesalahannya. Tapi aku tak menyangka, saat menatap wajahnya perasaan ini campur aduk. Antara kesal dan rindu. Sosok yang terlihat menyebalkan itu, yang dengan berani menampakkan wajahnya di hadapan kami, adalah saudaraku. Yaa, saudara yang harus pula ku tanggung suka dukanya. Yang ku rasakan lukanya saat tubuhnya terluka. Dan sisa-sisa husnudzon itu masih tersedia dalam hatiku. Entah sampai kapan. Ku harap hingga kami bertemu dengannya di Jannah Allah, buah rasa saling mencintai karena Allah di antara kami.

7 responses

  1. jgn sampe kita terbelenggu sm kt “ga bisa”, klo dr buku yg aku baca yg ada itu bukan “ga bisa” tp krn kita “ga mau” (lupa judul bukunya). Ada pepatah juga yg mengatakan “Ga da yang ga mungkin di dunia ini”. Kita sama2 berhusnudzon ya!

  2. @uniquepunya: yuph..@perempuanlangitbiru: n_n@pemikirulung: maaci ludi sholihat..gw gantinya kalo dah ketemu kompy aja yaa!@donakawaii: bisa karena terbiasa!@menjadiyanglebihbaik: iyaa, aku keren :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s