[ACEH] Mengenang Aceh, Mengenang Dua Wanita

Mungkin jika ada yang bertanya, “Apa yang kau ketahui tentang Aceh?” Maka sebagian besar dari kita akan menjawab: Serambi Mekkah, rencong, tsunami, Cut Nyak Dien, GAM. Tapi, Aceh telah memberikan kesan lain bagiku. Bukan karena aku putri Aceh, atau aku lahir di Aceh. Bahkan aku belum pernah menjajaki kota di ujung Sumatera itu. Aceh telah mengingatkanku pada dua orang wanita, yang kini tlah berada di suatu tempat yang nantinya juga akan ku kunjungi.

Diana Roswita, seorang penulis yang tergabung dalam FLP Aceh. Dialah wanita pertama yang akan ku ceritakan. Buku Lukisan Sakura yang dikarangnya adalah buku kumpulan cerpen pertama yang ku beli saat aku duduk di bangku SMA dulu. Uangnya ku peroleh dari THR Lebaran. Awalnya membeli buku itu hanya karena tertarik dari judul dan cover depan bukunya. Soalnya dulu aku cukup maniak dengan hal2 yang berhubungan dengan Jepang. Bahkan saat itu aku juga membeli novel Helvi Tiana Rosa yang berjudul Akira. Juga karena novel itu bercerita tentang Jepang.

Ternyata aku ga salah pilih buku. Tema yang diangkat sungguh beragam dan latar tempatnya yang beda dari yang lain. Aku bukan hanya diajak untuk menjelajahi Jepang, tapi juga negara2 lain, seperti Palestina dan India. Begitu pun dengan cerpen2nya yang lain. Gaya bahasanya pun mudah dicerna, membuatku tak bosan untuk membacanya.

Bencana Tsunami lebih dari empat tahun yang lalu merupakan peristiwa alam yang sangat menggemparkan seisi dunia. Beritanya selalu dinanti smua orang. Ku saksikan melalui televisi di rumah bagaimana air bah itu menelan banyak korban. Semua media setiap harinya mengupas berita tentang bencana itu, termasuk majalah Annida. Dari salah satu rubrik yang ada di majalah itu, aku mengetahui bahwa Diana Roswita telah menjadi korban dalam peristiwa itu. Ia meninggal bersama dua putra kembarnya, Muhammad Jihad al Fathi dan Muhammad Imad Farahat. Tulisan itu dibuat oleh suaminya yang selamat dari bencana.


Tanpa sadar, aku meneteskan air mata saat membaca tulisan itu. Teman yang ada di sampingku menunjukkan raut kebingungan.

‘kamu kenapa, Ai?”
“Diana Roswita, meninggal..”
“emang dia siapa?”
“penulis, meninggal pas tsunami itu..”

Tak ada pertanyaan lagi. Akupun masih larut dalam kesedihanku. Entah kenapa aku merasa kehilangan. Dia bukan keluarga dekat. Bahkan wajahnya pun belum pernah ku lihat secara langsung. Aku sempat bertanya2, kenapa Allah mengambil nyawanya? Bukankah perjalanan hidupnya masih terlalu singkat? Bukankah karyanya juga masih dinanti banyak orang? Termasuk diriku.

Tapi begitulah kuasa Allah. Tak peduli apakah karier seseorang itu sedang bagus atau tidak, kesiapan dirinya dijemput oleh sang Khalik, atau seberapa tabah keluarga menerima kepergian orang yang terkasih, jika sudah takdirnya untuk kembali padaNya, maka tak ada yang bisa menghentikanNya. Yaph, satu pelajaran tentang kematian yang ku dapat saat itu.

Wanita kedua adalah ibuku. Dia bukan orang Aceh. Seingatku pun dia tidak pernah bercerita tentang Aceh. Tapi secara tidak langsung, ibuku berkaitan dengan kesanku terhadap Aceh, lebih tepatnya terhadap mie Aceh. Makanan itu menjadi salah satu menu sahur dan berbukaku saat ibuku terbaring di RS Bunda, Depok setahun yang lalu. Maklum saja, tenda tempat menjual mie itu terletak di samping RS itu.

Kesempatan yang pertama saat mencicipi mie Aceh justru di moment yang ga tepat. Padahal, teman2ku bilang kalo mie aceh itu rasanya enak. Apalagi buat yang suka pedas. Tap berhubung saat itu lagi sibuk mikirin ibuku di rumah sakit, aku ga terlalu bisa mendeskripsikan rasanya. Yang ku bisa jelaskan hanya, mie aceh itu diameter mienya besar2, kenyal, hampir mirip dengan spaghetti.

Takdir tlah memilih RS Bunda sebagai tempat terakhir ibuku menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ibuku pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Mie Aceh pun tak lagi menemani perutku yang mulai keroncongan. Hingga beberapa waktu setelah itu teman2 mengajakku untuk makan di kedai mie aceh di samping RS itu.. Ada perasaan ragu saat tawaran itu datang. Bangunan di samping kedai itu pastinya mengingatkanku pada sosok yang telah melahirkanku.

Karena ga enak jika menolak ajakan temanku, akhirnya akupun menerima tawarannya. 4 porsi mie aceh pun telah dipesan. Kami hanya perlu bersabar menunggu mie itu terhidang di meja karena memang banyak pelanggan yang sudah antri untuk mencicipi mie aceh tersebut. Tak disangka, seorang teman memintaku mengantarkannya ke toilet yang ada di dalam RS. Haduhh,, kenapa harus aku sih! Penolakanku justru membuatnya terus membujukku untuk mau mengantarkannya. Satu hal yang menguatkan langkahku kembali memasuki RS tersebut yaitu saat temanku itu berkata, “hadapilah kenyataan! Jangan terlalu terbawa suasana sedih”

Aceh. Mungkin tak banyak cerita yang bisa ku bagi tentangnya. Tapi dua wanita yang telah pergi mendahuluiku itu menjadi salah satu pelajaran yang berarti bagiku. Bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti. Kita tak dapat menghindarinya. Kita hanya perlu bersiap jika suatu saat Allah memanggil orang2 teerdekat kita, bahkan diri kita sendiri. Semangat mnegumpulkan amalan kebaikan, karena hanya itulah bekalan yang dapat kita bawa pergi.

*ssssssssssstttt,,penulis ga bertanggung jawab jika ada yang ngeces setelah melihat foto mie di atas. mohon maaf jika mengganggu ibadah puasa anda ^^v

**untuk info lomba bisa diliat di sini

18 responses

  1. riefalz said: hahaa.. .numpank liwat.. . :)emank bwt ngecess nh mie. . .yummii. .:Dbagus rie lyat’y pas dah bka, ,huehuee. .

    ga bertanggung jawab kalo besok pas puasa mampir kesini lagi loh yaa?!hehe..

  2. puasaaaaaaaaaa padahal pengen mampus tuh ama si mie acehmudah2an lusa bisa buka puasa ama mie aceh di stasiun kalibata :Dmbak..kisah mbak mengingatkan aku akan banyak hal. terutama ibuku.Almh Ibu, karenanya juga aku menyukai banyak makanan aceh, terutama mie aceh. dia mengajariku untuk mengetahui apa2 yang kurang dalam suatu masakan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s