Milikilah ia, meski ia bukan milikmu!

Kadang aku suka bikin orang lain geram dengan sikapku yang pasrah kronik. Sifat ini ga bagus sebetulnya. Berharap ga ada yang punya sifat yang sama. Entahlah, sebuah kehilangan besar mungkin membuatku meremehkan setiap kehilangan2 kecil. Mulai dari flashdisc sampai handphone.

Kejadian yang paling parah sih waktu HPku ketinggalan di mushola jurusan beberapa hari yang lalu. Aku sama sekali ga panik bahkan ga menghubungi no HP tersebut. Mungkin kebawa mood yang lagi ga enak juga. Dalam hati cuma bilang, “ga ada di dalam tas”. Atau ketika temen ngomel2, “kok aku telpon ga diangkat siy?!”. Aku dengan santainya bilang: “maaph, HPnya ketinggalan, ga tau di mana..” Trus 2 hari kemudian, pas ketemu temen jurusan, dia bilang, “lo parah banget siy, Ay..Gw tau hp lo udah jelek, tapi bukan berarti lo bisa ninggalin hp lo seenaknya gitu..!” *Alhamdulillah, ternyata masih berjodoh n_n

Pasrah kronik sungguh perbuatan yang tidak dianjurkan dalam Islam. Pasrah atau tawakkal barulah lahir setelah usaha yang dilakukan sudah maksimal. Mungkin kita udah cukup sering mendengar kisah di zaman Rasulullah SAW tentang orang Badui dan untanya. Saat itu, Rasulullah SAW menanyakan pada orang Badui yang hendak beribadah, mengapa dia tidak mengikat untanya. Si Badui menjawab, “aku tawakkal kepada Allah”. Lalu, Rasulullah berkata, “Ikatlah dulu untamu lalu tawakkal kepada Allah” Yuph,,dari kisah itu bisa disimpulkan bahwa usaha dulu baru pasrah. Tapi yang perlu diingat adalah usahanya harus maksimal karena Allah menyukai hambaNya yang bersungguh-sungguh..

Melihatku yang sering melakukan kecerobohan, abangku bilang, “lo tuh cuma kurang punya rasa milikin, ai.. Kalo rasa memiliki lo tinggi, pasti lo akan lebih sayang sama barang2 lo..” Kata2nya ngena banget! Akhir2 ni, mungkin fakta bahwa Allah Pemilik seluruh isi bumi dan langit terlalu besar menyelimuti pikiranku. Tapi aku melupakan fakta lain, bahwa setiap milik Allah yang dititipkan kepada kita perlu dijaga dengan baik. Karena itu adalah amanah. Kita memang tak bisa memiliki sesuatu seutuhnya, tapi kita bisa memilikinya dalam arti kata lain, yaitu menjaganya..

Nah, masih ada pertanyaan yg blum terjawab neh. Ada yang mau bantu jawab?
1. Sampai sebatas manakah usaha yg maksimal itu?
2. Perihal jodoh, apakah ikhtiar dibutuhkan?
Semoga Allah memberikan yang lebih baik atas setiap komentar yang diberikan n_n

9 responses

  1. kadang rasa memiliki kita terhadap suatu benda akan terasa jika kita memang membelinya dengan hasil jerih payah kita sendiri..kalo aku ngerasa beda,, ketika aku mendapatkan benda atas hasil jerih payahku dengan benda pemberian orang lain (ini di luar konteks bahwa apapun yang ada pada kita adalah pemberian-NYA), entah kenapa aku akan lebih menjaga benda hasil jerih payahku..padahal sih,, semua yang ada pada kita ya sebisa mungkin dijaga dgn baik..

  2. akuai said: Nah, masih ada pertanyaan yg blum terjawab neh. Ada yang mau bantu jawab?1. Sampai sebatas manakah usaha yg maksimal itu?2. Perihal jodoh, apakah ikhtiar dibutuhkan?Semoga Allah memberikan yang lebih baik atas setiap komentar yang diberikan n_n

    terkait dengan pertanyaan di atas,,1. usaha maksimal itu usaha yang bener2 udah kita lakukan dengan segala kekuatan dan potensi yg kita miliki2. ikhtiar ya pasti dibutuhkan dalam apapun. belum dikatakan tawakal kalo tanpa disertai ikhtiar

  3. Pasrah itu bkn pasif lho. Berusha semampu yg kt bs kmudian memasrahkan hasilnya, bhw ada proses doa disana. Kt aktif berdoa, dg sgl rasa pasrah, dan alam akn membantu utk mewujdkan ikhtyar kt…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s