One year ago..

Gadis itu harus bergegas ke rumah sakit. Sebuah sms mengingatkannya untuk kembali k rutinitas yang selama 2 minggu terakhir ini harus ia jalani. Agak menyesal sebenarnya bahwa ia harus berangkat ba’da dzuhur. Karena itu berarti telah habis waktunya untuk bertemu sang bunda. Sebagai pasien di ruang ICU, bunda tidak boleh terlalu sering dikunjungi. Hanya di waktu2 tertentu dan terbatas untuk keluarga dekat. Bukan hanya fisik yang harus dijaga, tetapi juga kesehatan jiwanya. Suster melarang keluarga gadis itu melibatkan emosi bunda dalam setiap kunjungan mereka. Khawatir bunda tak bisa tenang.

Saat tiba di rumah sakit, gadis itu hanya menemukan salah satu keluarganya. Tak masalah. Bahkan ia pernah sendirian berjaga dalam ruang tunggu yang cukup besar dengan AC yang terlalu dingin untuk dinikmati sendiri. Lalu, saat mengecek inbox HPnya, terdapat satu pesan yang belum terbaca.

aslm.Klo lg d jln n klo sempet k resto samping rs dl ya.Gw ama ayah dsini.Ayah mo ngomong.Tq

Telat baca. Sang gadis pun tak berminat dengan obrolan itu. Hanya berkutat dalam diskusi seputar ikhlas dan tawakkal. Ia bosan. Meski sms yang ia kirim kemarin kepada saudaranya seolah memberikan kelegaan bagi keluarganya.

aslm.A,insya4wl aq udh ikhlas..Allah Pasti ksh yg Terbaik Bwt qt.

Sang gadis kini tak perlu lagi memberontak. Ia harus menerima keputusan yang nantinya diambil keluarganya. Tapi ia bersyukur bahwa keluarga melibatkannya dalam pengambilan keputusan ini. Yang mengajarkannya tentang arti menjadi dewasa.

Tak berapa lama, seorang kawan datang berkunjun. Waktu yang tidak tepat. Entah kenapa mood gadis itu sedang tidak bagus. Biasanya ia selalu menunjukkan keceriaan di wajahnya saat menerima tamu2 yang setiap hari datang mengunjunginya. Yang membuatnya harus melayani mereka, menceritakan kronologis kesehatan bunda, hingga menerima nasihat yang pada satu titik membuatnya muak untuk mendengarnya, “sabar yaa!”

Tapi tidak untuk hari ini. Ia memilih mengacuhkan sang kawan. Sendiri tanpa ada yang mengusik. Walau ia tahu, kawannya datang bukan tanpa maksud. Dia mengajak sang gadis untuk ikut halal bi halal ke rumah guru mereka. Sedikit rasa ingin ikut. Baginya ujian ini tak boleh membatasinya untuk beraktivitas di tempat lain, meski teman2 kampus telah memintanya untuk berhenti bergerak. Dan akhirnya ia putuskan untuk tetap tinggal. “aku ga ikut yaa! Salam aja buat mbak. Afwan yaa kamu dari tadi ku cuekin..” Yaph, hari ini terasa berbeda. Dan sang gadis hanya ingin di sini, di rumah sakit ini..

[to be continued]

6 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s