Nulis tanpa beban jilid 3 *bukan cerbung*

Aku suka nulis. Aku mau jadi penulis. Dan aku akan jadi penulis handal. Hmm.. De javu kah membaca kalimat ini? Hah, aku mungkin emang ga kreatif merangkai kalimat yang baru. Tapi kenyataannya, aku memang suka menulis dan ingin jadi penulis. Penulis beneran atau aku lebih suka menggunakan kata handal untuk menggambarkannya.

Pernah dalam sebuah seminar kepenulisan, pembicaranya (Kang Arul) bertanya kepada peserta yang hadir, “sejak kapan mulai menulis?” Ia pun menghitung mundur tahun demi tahun. Dan aku masih mengangkat tanganku saat ia menyebutkan angka 10. Yuph, seingatku, aktivitas menulisku sudah dimulai sejak aku masih duduk di bangku SD. Yang ditulis ga lain dan ga bukan yaa curhatan anak SD. Tentang temanku, keluargaku, dan siapa2 yang menarik perhatianku *haha, masih kecil dah genit euy! Untung pas udah gede ga genit lagi. Amin..* Lalu, saat kelas satu SMP, aku membeli sebuah orgy alias buku organizer. Uangnya ku dapat dari abang, uang gajinya yang pertama. Trus pas naik tingkat ke kelas 2, aku asyik kirim2an surat pas jam istirahat dengan temanku yang udah beda kelas. Tak lupa aku mengisi buku diaryku.

Saat berganti rok dari biru jadi warna abu2, tepatnya saat kelas 2 SMA, aku mulai diarahkan oleh guru BP untuk memikirkan masa depanku. “Apa cita2mu?” hmm, kalo waktu SD aku bisa dengan yakin mengatakan “mau jadi dokter!”, saat itu rasanya tak mungkin. Sempat membatin, apa jadi dokter hewan aja yaa? Setidaknya meneruskan cita2 ayah yang terhenti hanya karena ga ada biaya. Tapi, hati kecilku berbisik lagi, sepertinya bukan. Hah, jika saja di sekolahku ada pilihan jurusan bahasa, maka sudah ku pilih ia, walau mungkin harus mengecewakan ayah yang ingin aku masuk jurusan ipa. Pada akhirnya aku memang tak mengecewakan ayah, tapi masih sempat nego waktu diskusi soal jurusan saat kuliah nanti. “Ai pengen ambil sastra Jepang, yah” dan lagi2 ga bisa meyakinkan ayah yang kolot dengan pemikirannya, “Mau jadi apa kalo masuk sastra? Nanti susah nyari kerja!” huh!Maka aku minta kursus bahasa jepang di tengah kesibukan persiapan UAN. haha, parah dah! Dan pada akhirnya, aku malah nyasar di biologi. Impian ayah agar bisa buka praktek dokter hewan pun kandas. Dicukupkan sajalah, ini cerita lain lagi n_n

Suatu hari dalam lingkaran, kembali terjadi diskusi tentang masa depan. Aku ingat, saat itu aku menggebu2 tentang minatku dalam kesusastraan. Haha, sang biolog masih ingin menjadi anak sastra rupanya. Mungkin, jika ku telusuri lebih jauh, ibuku juga memiliki hal yang sama. Suka menulis. Membaca puisi, menyanyi, berpantun, dan hal2 lain yang jauh dari ilmu eksak. Dan mungkin gen itu dialirkan ke anak2 perempuannya. Tapi tetep, ayah sangat memperhatikan perkuliahan anaknya. Hingga kami tak benar2 menjadi penulis.

Dua tahun merasakan asyiknya dunia biologi: naik gunung, pengamatan lapangan, menikmati indahnya biota laut, cukup bisa mengalihkan dunia tulis-menulisku. Namun, saat aktivitas itu mulai berkurang, karena aku lebih banyak nongkrong di lembaga ketimbang di hutan, jadilah semangat jadi biolog sejati mulai berkurang dan kembali menyelami dunia menulis. Dan akhir2 ini, mulai banyak yang bilang, “ai berbakat jadi penulis..” hwaaa,, dan aku semakin melambung tinggi bersama mimpiku.

Awh. Sakit. Aku terjatuh. Tiba2 ayah menarikku yang asyik bermain di atas awan.
“kenapa siy kamu selalu ilang semangat di akhir?”
“yang penting lulus dulu..”
“kamu tuh kebanggaan ayah, beda sama kakak2mu”
“kamu dengerin ayah ga siy!”
ehehe,,iya ayah. Ai denger kok. Temen2 juga udah cukup berisik mengingatkanku. Bukan cuma yang di dunia nyata, temen2 maya juga ga kalah cerewetnya kok😀. Tapi,, gimana dengan impianku? Aah,, dilema lagi deh..

Eh, eh, kok jadi panjang gini yaa? Haha.. Gapapa yaa! Namanya juga nulis tanpa beban. Jadi biarkan ia mengalir hingga sampai pada muaranya..

Maka, sekali lagi ku katakan. Aku suka nulis. Aku mau jadi penulis. Dan aku akan jadi penulis handal. Mungkin bukan hari ini, esok, lusa, atau dalam waktu dekat ini. Maafkan aku wahai mimpi, karena mungkin kau akan sangat lambat ku hampiri. Tentu saja aku takkan menghentikan aktivitas menulisku. Tapi mungkin porsi bercengkerama denganmu tak sebesar dulu. Dan mimpi itu masih akan menggantung di langit. Untuk ku raih, suatu hari nanti.

61 responses

  1. akuai said: Maka, sekali lagi ku katakan. Aku suka nulis. Aku mau jadi penulis. Dan aku akan jadi penulis handal. Mungkin bukan hari ini, esok, lusa, atau dalam waktu dekat ini. Maafkan aku wahai mimpi, karena mungkin kau akan sangat lambat ku hampiri. Tentu saja aku takkan menghentikan aktivitas menulisku. Tapi mungkin porsi bercengkerama denganmu tak sebesar dulu. Dan mimpi itu masih akan menggantung di langit. Untuk ku raih, suatu hari nanti.

    ai yang baik hati dan tidak sombong… gue suka banget paragraf terakhir ini… berasa banget kalo ai nulisnya emang dari hati yang terdalam… Buya Hamka pernah bilang “apa yang keluar dari hati akan masuk ke hati.. apa yang cuman keluar dari kepala cuman sampe ke kepala..”paragraf terakhir itu masuk ke hati gue… sesama pemimpi, gw bisa merasakan gimana itu nikmatnya mengejar impian… dengan keyakinan penuh bahwa suatu saat nanti mimpinya akan tercapai, halangan hanya menjadi tangga kenaikan… gue doakan semoga mimpinya cepet berhasil diraih… amiiinn…

  2. Bang ogie yg juga baik n ga sombong.. Daku suka banget comment darimu. Menambah semangatku untuk mengejar mimpiku itu.Hwaaa,,bener2 pengen melayang ke angkasa! Amiin.. Trims yaa bang ogie..*sejak kapan yaa gw panggil lo abang, heheu..

  3. akuai said: Pernah dalam sebuah seminar kepenulisan, pembicaranya (Kang Arul) bertanya kepada peserta yang hadir

    kayanya gw dateng seminar ini, dan gw nyesel karena udah milih seminar ini ketimbang kajian siroh, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s