rain, library, novel, dream, and me

Hujan di kota Depok belum juga reda. Gadis itu awalnya masih duduk manis di depan komputer lembaga. Sendirian, menguasai sekretariat yang cukup luas. Tak ada yang mengganggu aktivitas berselancarnya. Tidak Rangga, ataupun Ega. Mereka sedang ke luar kota. Yang satu ikut lomba, yang satu lagi ikut forum lembaga legislatif nasional. Gadis itu tentu saja tak melewatkan waktu berharga tersebut. Hingga hujan cukup mereda, dan sang gadis bersiap pergi. Muridnya pasti telah menunggu di rumah.

Belum sampai seratus meter motornya melaju meninggalkan pusgiwa, gadis itu harus menerima kenyataan bahwa hujan kembali turun cukup deras. Gadis itu hampir kuyup. Ia tak mengenakan jas hujan. Bukan karena malas, tapi karena gadis itu tak punya. Cukup bisa dimaklumi mengingat sang gadis masih pemula sebagai pengendara motor. Gadis itu pun masih menimbang2, ingin membeli jas hujan yang seperti apa dan bagaimana. Hmm, terlalu banyak berpikir rupanya.Tapi yang pasti sang gadis harus bergegas mencari tempat berteduh. Dipilihlah perpustakaan pusat yang tak jauh dari pusgiwa. Seorang bapak satpam menyambutnya dengan baik.

Dikeluarkannya novel Negeri 5 Menara yang belum lama dibelinya. Gadis itu ingin memastikan bukunya selamat. Ia pun teringat tawaran seorang pelayan di toko buku tempatnya membeli N5M. “mau skalian disampul mba..?” Dengan cepat sang gadis berkata, “engga..” dan hampir berbarengan dengan penolakan sang gadis, pelayan itu melanjutkan ucapannya, “gratis..” Hah! Kata tidak sudah terlanjur terucap. Waktu pun terus memburunya. Sang gadis pun pergi dengan membawa novel yang masih tersegel rapi.

Mr. Noujo yang menemaninya menunggu hujan memutarkan sebuah lagu yang pas sekali dengan suasana hatinya, Laskar Pelangi oleh grup band Nidji. Mimpi itu masih tergantung tinggi di langit asanya. Awalnya sang gadis berpikir sejenak menghentikan langkahnya. Tapi nyatanya mimpi itu terlalu kuat untuk dihibernasikan. Sang gadis ingin tetap meneruskan langkahnya mengejar mimpi, tanpa membuat kecewa seseorang yang juga ingin diwujudkan mimpinya oleh sang gadis. Mungkinkah? Man jadda wajada. Bukankah novel yang ada di hadapannya telah meyakinkan gadis itu?! Maka, sang gadis hanya perlu bersungguh-sungguh dalam menjemput mimpinya. Dan Allah bersama hambaNya yang sabar.

..jangan berhenti mewarnai jutaan mimpi di bumi..

29 responses

  1. akuai said: Mimpi itu masih tergantung tinggi di langit asanya. Awalnya sang gadis berpikir sejenak menghentikan langkahnya. Tapi nyatanya mimpi itu terlalu kuat untuk dihibernasikan. Sang gadis ingin tetap meneruskan langkahnya mengejar mimpi, tanpa membuat kecewa seseorang yang juga ingin diwujudkan mimpinya oleh sang gadis.

    hayo siapa aiii????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s