Pria Yang Kejam Atau Wanita Yang Terlalu Berharap?

Berikut akan kuceritakan beberapa kasus. Menurut kalian, pria yang kejam atau wanita yang terlalu berharap? Jawaban bisa digabung jadi satu atau perpoin. Mari berdiskusi ^_^

Kasus 1
Pria A sudah setahun pacaran dengan wanita B. Sejak awal (anggaplah januari 2009) A memang ingin menjalin hubungan serius dengan B. Sayang, lamaran pertamanya ditolak oleh orangtua B dengan alasan karier B sedang baik. Perlu diketahui, keduanya adalah pegawai bank. Otomatis, jika ingin menikah, salah satunya harus keluar dari bank tempat mereka bekerja. Selain itu, kakak perempuan B (sebut saja C) juga belum menikah, dan C nggak mau dilangkahi oleh B. Awalnya A memilih mundur. Cinta sih mungkin iya, tapi kalo nunggu sampe C nikah rasanya terlalu lama (kalo nggak salah C maunya nikah tahun 2011). Namun, ternyata B memberi harapan bahwa C akhirnya mempercepat pernikahannya jadi awal tahun 2010. A akhirnya balikan lagi dengan B. Sayang, saat lamaran kedua, orangtua B memberi syarat2 dan waktu yang memberatkan A. Jika ingin menikah, tidak bisa tahun 2010 (sesuai target A) karena C baru saja menikah. Kalo mau, mereka menikah tahun 2011. Huff,, lamanya… Dan akhirnya dengan berat hati (menurutku begitu), A meninggalkan B yang kadung cinta di akhir 2009 dan rencananya, A akan menikah dengan D, wanita teman sekantornya yang siap menikah dan siap meninggalkan pekerjaannya. Proses lamaran pun dimudahkan meski terbilang cepat. Bahkan, saat itu keluarga A tidak terlalu mengenal D, justru selama ini lebih dekat dengan B.

Kasus 2
wanita E, sahabatku, curhat kalo dia diajak untuk proses (baca: ta’aruf) dengan pria F yang dikenalkan G, teman F dan E. F adalah seseorang yang sudah siap menikah dan sepakat untuk dijodohkan oleh G. Sayangnya, saat E bercerita ke ibunya, beliau hanya cengar-cengir dan kemudian -secara halus- melarang putrinya untuk menikah. Pasalnya, E masih kuliah dan kakak perempuannya belum menikah. Hah.. Banyak betul kasus kaya gini yaa? Meski sudah siap menikah tapi terhalang oleh keluarga. Padahal, dalam Islam tidak ada larangan untuk melangkahi kakaknya. Dan akhirnya, F memilih dicarikan wanita lain yang lebih siap untuk dinikahi. Lalu, meninggalkan tanya di hati E, “Kenapa dia nggak nunggu aku lulus 6 bulan lagi aja yaa? Semudah itukah dia berpaling?”

Kasus 3
Perhatian pria H seringkali menimbulkan wanita I ke-ge-er-an. Komen atau jempol H di hampir semua status I, bantuan H dalam keseharian I, serta perhatian2 kecil yang membuat I bertanya2 dalam hati, “Ada apa sih dengannya? Apa dia suka sama saya?”. Hingga akhirnya, dalam chat-nya H kembali membuatnya bingung dengan berkata, “Anti memiliki tempat yang khusus di hati ana. Hanya itu. Tapi, kalo jodoh kan nggak akan ke mana!” Yaph. H tidak pernah membuktikan pada I tentang kesungguhan cintanya (dengan melamar I). Dan I mungkin salah tafsir bahwa ucapan H adalah bahasa halus dari “Nantikanku di batas waktu!” Hmm.. Investasi murah meriah kali yee…

Jika ada kesamaan situasi dan tokoh, mungkin itu memang cerita kalian. Hehew…

–Tulisan ini dibuat tgl 5 Juni. Sayang juga ah kalo cuma disimpen di note HP ^^

58 responses

  1. aishachan said: Kok aku ngerasa kocak ya ama katakata “semudah itukah dia berpaling” hhe..maaf kak E😀

    kocak yaa? ah, syaraf kocakmu terlalu peka sha😀

  2. carrotsoup said: dan akhirnya AM pun menikah dengan PW. and they live happily until now, and (hopefully) ever after.

    lalu, AM pun menceritakan kisahnya di multiply. ID-nya carrotsoup :))

  3. perempuanlangitbiru said: kalo emang bukan jodohnya,, ya gak bakalan berujung ke pelaminan mau sedeket apapun mereka..tapi kalo emang dah jodoh,, mau di belahan dunia lain manapun pasti bakalan berujung di pelaminan..hmmm.. jadi teringat perkataan ustadzah ketika mabit ‘manajemen istri sholihah’..”sharusnya sbg wanita sholihah, qta mempersiapkan diri sebaik2nya agar nanti ketika jodoh sudah menghampiri, qta berada dalam kondisi baik..”yakin aja, bukankah wanita baik2 akan mendapatkan laki2 baik2??toh qta gak akan pernah tau jodoh qta nantinya, mau orang yang belum qta kenal skalipun ato bahkan org yg ternyata dekat dgn qta..yang terpenting adalah menyiapkan kondisi qta dalam kbaikan, insya ALLAH,,jodoh mau datang kapanpun, qta dalam kondisi baik.. n ga ada kata-kata ga siap..oya, ‘proses’nya jg perlu baik tuh n bersih,,karna katanya mempengaruhi keberkahan keluarga yg terbentuk nantinya..

    aiiih,, mantab bener deh ukhtiy ini jawabnya :))

  4. akuai said: Berikut akan kuceritakan beberapa kasus. Menurut kalian, pria yang kejam atau wanita yang terlalu berharap? Jawaban bisa digabung jadi satu atau perpoin. Mari berdiskusi ^_^Kasus 1Pria A sudah setahun pacaran dengan wanita B. Sejak awal (anggaplah januari 2009) A memang ingin menjalin hubungan serius dengan B. Sayang, lamaran pertamanya ditolak oleh orangtua B dengan alasan karier B sedang baik. Perlu diketahui, keduanya adalah pegawai bank. Otomatis, jika ingin menikah, salah satunya harus keluar dari bank tempat mereka bekerja. Selain itu, kakak perempuan B (sebut saja C) juga belum menikah, dan C nggak mau dilangkahi oleh B. Awalnya A memilih mundur. Cinta sih mungkin iya, tapi kalo nunggu sampe C nikah rasanya terlalu lama (kalo nggak salah C maunya nikah tahun 2011). Namun, ternyata B memberi harapan bahwa C akhirnya mempercepat pernikahannya jadi awal tahun 2010. A akhirnya balikan lagi dengan B. Sayang, saat lamaran kedua, orangtua B memberi syarat2 dan waktu yang memberatkan A. Jika ingin menikah, tidak bisa tahun 2010 (sesuai target A) karena C baru saja menikah. Kalo mau, mereka menikah tahun 2011. Huff,, lamanya… Dan akhirnya dengan berat hati (menurutku begitu), A meninggalkan B yang kadung cinta di akhir 2009 dan rencananya, A akan menikah dengan D, wanita teman sekantornya yang siap menikah dan siap meninggalkan pekerjaannya. Proses lamaran pun dimudahkan meski terbilang cepat. Bahkan, saat itu keluarga A tidak terlalu mengenal D, justru selama ini lebih dekat dengan B.Kasus 2wanita E, sahabatku, curhat kalo dia diajak untuk proses (baca: ta’aruf) dengan pria F yang dikenalkan G, teman F dan E. F adalah seseorang yang sudah siap menikah dan sepakat untuk dijodohkan oleh G. Sayangnya, saat E bercerita ke ibunya, beliau hanya cengar-cengir dan kemudian -secara halus- melarang putrinya untuk menikah. Pasalnya, E masih kuliah dan kakak perempuannya belum menikah. Hah.. Banyak betul kasus kaya gini yaa? Meski sudah siap menikah tapi terhalang oleh keluarga. Padahal, dalam Islam tidak ada larangan untuk melangkahi kakaknya. Dan akhirnya, F memilih dicarikan wanita lain yang lebih siap untuk dinikahi. Lalu, meninggalkan tanya di hati E, “Kenapa dia nggak nunggu aku lulus 6 bulan lagi aja yaa? Semudah itukah dia berpaling?”Kasus 3Perhatian pria H seringkali menimbulkan wanita I ke-ge-er-an. Komen atau jempol H di hampir semua status I, bantuan H dalam keseharian I, serta perhatian2 kecil yang membuat I bertanya2 dalam hati, “Ada apa sih dengannya? Apa dia suka sama saya?”. Hingga akhirnya, dalam chat-nya H kembali membuatnya bingung dengan berkata, “Anti memiliki tempat yang khusus di hati ana. Hanya itu. Tapi, kalo jodoh kan nggak akan ke mana!” Yaph. H tidak pernah membuktikan pada I tentang kesungguhan cintanya (dengan melamar I). Dan I mungkin salah tafsir bahwa ucapan H adalah bahasa halus dari “Nantikanku di batas waktu!” Hmm.. Investasi murah meriah kali yee…Jika ada kesamaan situasi dan tokoh, mungkin itu memang cerita kalian. Hehew…–Tulisan ini dibuat tgl 5 Juni. Sayang juga ah kalo cuma disimpen di note HP ^^

    ya udah mba aja yang timpuk,,, hha….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s