Hari Minggu di Pasar Minggu

Lama sekali aku tidak menyapa pasar tradisional ini. Tapi aku beruntung, tiap kali menyambanginya, aku bisa mendapatkan hal-hal yang menarik. Sebagai awalan, aku akan bercerita tentang supir angkot yang kunaiki. Dia meminta maaf padaku karena memberikan uang kembalian dengan tangan kiri. Langka! Ada juga seorang gadis yang meminta maaf karena menginjak sandalku tak lama setelah aku turun dari angkot. Hei, bahkan aku tak terlalu peduli saat sandalku terinjak. Bukankah itu kejadian yang umum di pasar? Aku pun yakin gadis itu tak sengaja menginjak sandalku. Tapi, aku sungguh menghargai sikap mereka. Bukankah meminta maaf merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan? Maka, jangan malu lah untuk meminta maaf.

Aku harus berjalan sejauh 300m (sesuai standart kirologi-ilmu kira2-tentunya) untuk bertemu dengan angkot yang akan kunaiki selanjutnya. Maka, selama kurang dari sepuluh menit, aku akan melewati deretan pedagang yang menjual beraneka macam kebutuhan, mulai dari sayur mayur sampai pakaian dalam. Tapi tentu saja, aku hanya akan menceritakan yang menarik. Dimulai dari seorang pria penjual sayur dengan wajahnya yang teduh. Dia menawarkan dagangannya padaku. Eh, bukan. Dia justru bertanya, “Cari apa, Dik?” Dan kutinggalkan penjual itu setelah meragu, beli brokoli atau tidak yaa?! Kebiasaan buruk. Padahal ingin sekali membeli sesuatu, tapi kadang ada rasa lain yang mengganjal (entah takut, malu atau rasa lainnya) yang seringnya menahan inginku. Lupakan tentang brokoli itu. Mataku kini tertuju pada stroberi segar yang dijual seorang ibu berusia sekitar tiga puluh-an tahun. “5000, sayang..” kata si ibu. Ah, aku tak terlalu peduli pada harga sekotak plastik ukuran sedang berisi buah warna merah segar itu, yang jelas, ibu itu memanggilku ‘Sayang’. Lagi-lagi aku tak terlalu peduli jika sapaan itu diberikan hanya untuk menarik pembeli polos sepertiku. Tapi, kuyakin sapaan itu lahir dari dalam hati. Bahkan saat aku selesai bertransaksi, dia masih memanggilku ‘Makasih, Sayang’. Hei, aku sungguh tersentuh. Sekali lagi kutemukan penjual yang ramah. Tidak seperti SPG di mall yang hanya berdiri menyaingi patung, yang baru datang ketika dipanggil.

Tak jauh dari penjual buah-buahan itu, banyak kutemukan pedagang pakaian dan alat tulis sekolah. Oh, yaa. Sebentar lagi kan liburan sekolah usai. Lucu sekali saat melihat banyak kaver buku tulis bergambar Upin-Ipin. Aku jadi ingat, dulu, di jamanku, yang populer adalah gambar Yoko dan Bibi Lung-pemeran utama sinema kolosal Return of the Condor Heroes. Harusnya kaver tidaklah penting, karena pastinya bu guru akan meminta murid-muridnya menyampul coklat buku tulis tersebut.Aneh kan?! Dan melihat menjamurnya pedagang-pedagang itu, aku jadi semakin yakin bahwa untuk sekolah memang belum gratis. Bayaran sih boleh saja ditanggung pemerintah. Tapi tidak untuk buku pelajaran, seragam, alat tulis, dan uang jajan. Hah! Di dunia ini mana ada sih yang gratis? Bahkan udara pun harusnya dibayar dengan rasa syukur. Bahwa kita punya bulu-bulu di hidung yang menyaring kotoran dalam udara. Dan kita punya paru-paru yang menjadi pusat transaksi gas oksigen dan karbon dioksida dalam tubuh kita. Dan kita harus bersyukur karena Allah menciptakan kita dengan demikian sempurna. Apakah Allah memberikannya secara cuma2? Nyatanya tidak tuh. Ada sebuah pengabdian yang harus ditukarkan. Jadi, masih berpikir udara itu gratis? (waspadalah! Mungkin kita sudah berhutang banyak untuk itu ^_^).

Walah.. Sampai di mana ceritaku? Sudah yaa? Dicukupkan dulu, meski otak ini sedang memutar cepat kenangan-kenangan bersama pasar tradisional. Tentang ‘perburuan’ seru bersama ibuku, perjalanan pulang sekolah bersama sahabat berseragam putih-biru, serta fenomena menyedihkan tentang berkurangnya jumlah pasar tradisional di Indonesia. (Bahkan aku curiga bahwa kebakaran yang sering meniadakan pasar tersebut adalah disengaja. Cih!). Hmm.. Tapi mungkin kubahas lain waktu. Angkot berikutnya tlah menungguku. Dan aku bersiap menuju tempat lain, yang berkebalikan dengan tempat yang baru saja kulewati, sebuah town square.

Start: Pasar Minggu, pk. 10.59 wib
End: TM Book Store, pk. 14.55 wib

7 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s