Cikepuh Ranger on Vacation!

05 April 2010: Mendadak Cikepuh!
Mendadak. Keberangkatanku menuju Cikepuh begitu mendadak. Diawali sebuah sms di kemarin sore dari Ira, teman seangkatanku yang ingin mengambil data penelitian di TN Cikepuh, Sukabumi. Bayangkan, H-1 dia memintaku untuk menemaninya mengambil data. Aku harus membuat keputusan dengan cepat hingga akhirnya mantap berkata, “Oke, aku ikut!”. Dan dimulailah segala persiapan perjalanan untuk satu minggu, mulai dari pinjam sleeping bag, tas carrier, sampai packing.

06 April 2010: Dari Basecamp Polhut Hingga Basecamp Citirem
Alhamdulillah, menjelang shubuh sampai juga di basecamp milik polisi hutan (polhut). Selepas sholat shubuh semua temanku tertidur karena selama perjalanan mereka nggak tidur. Hoho, untung aku udah nabung tidur pas di mobil, jadi bisa menikmati matahari terbit dari teras rumah.

Siang hari, saat menunggu kepala polhut memberikan pengarahan, kulihat anak-anak SD yang baru pulang sekolah. Ada yang berjalan sendirian, ada juga yang bergelombol beriringan. Yang putri semuanya memakai jilbab sedangkan yang putra memakai celana panjang. Ajaran Islam memang masih cukup terasa di pedalaman Sukabumi ini.


Diskusi yang cukup alot tentang jalur yang tepat untuk tim kami berakhir dengan keputusan bahwa kami hanya akan tinggal di basecamp dekat muara sungai citirem selama satu pekan. Penelitian di jalur tengah dan hilir sungai Citirem lebih efektif ditempuh dari basecamp polhut. Okelah, kami pun siap berangkat menuju basecamp citirem! ^_^


Perjalanan menuju muara sungai Citirem ternyata nggak secepat yang dibayangkan. Kami harus melewati kebun kelapa sejauh 4 Km. Harusnya sih udah terbiasa jalan kaki sambil bawa-bawa “televisi” di punggung. Tapi berhubung udah lama nggak ke lapangan, jadi gampang pegal2 dan capek.


Untungnya, Mang Duyeh, salah satu polhut yang menyertai perjalanan kami, menangkap kelelahan yang terpancar di wajahku dan teman-teman. Mang Duyeh mengajak kami beristirahat sejenak di sebuah rumah tempat pembuatan gula aren sambil menikmati kelapa yang langsung dipetik dari pohonnya. Aiiih,,, maknyus tenaaaan…!


Saatnya melanjutkan perjalanaaan..! Setelah melewati ribuan pohon kelapa, kami pun mulai memasuki kawasan hutan. Kami bergerak cepat menuju arah muara sungai seolah mengejar matahari yang akan tenggelam. Dan tantangan baru muncul ketika kami harus melewati muara sungai sedalam 1,4 m. Inilah risiko sampai di tepian muara di kala senja.


Ga nyangka banget kalo ternyata basecamp yang akan menjadi tempat peristirahatan kami, yang jauh dari peradaban itu, adalah sebuah bale dari kayu mirip saung yang tanpa pembatas sama sekali. Bersyukur masih ada atap yang melindungi dari hujan. Tapi harus bersiap dengan serangan nyamuk dan angin laut neh.. kamar mandinya sendiri terpisah cukup jauh, terletak sekitar 50 m dari saung. Oya, di depan saung itu ada 3 kolam tukik yang kosong. Dan kolam itulah yang akan jadi “kamar eksklusif” bagi para pria. (Yang wanita tidur di saung). Lahan kosong di samping saung dijadikan dapur alam. Rasanya kayak kembali ke jaman dulu saat masak cuma pake kayu bakar. Bener2 pengalaman baru neh!

07 April 2010: 8 Km Menuju Cibulakan
Aku merasa tidurku sangat nyenyak meski sempat terbangun pukul 02.00 dini hari. Pembagian waktu pengamatan telah dibuat. Aku, Ira, Ka Dimas, dan Mang Duyeh yang tergabung dalam tim burung akan pengamatan burung di sore hari. Selepas masak nasi dan lauk untuk makan siang, kami pun siap berangkat! Hari ini kami akan bergerak ke wilayah Cibulakan. Wilayah tersebut sengaja dipilih karena cukup mengalami kerusakan. Dan untuk sampai ke Cibulakan, kaki kami haruslah kuat berjalan di atas pasir, menyusuri pantai sejauh 8 Km. Mantab jaya!!!

Ternyata, jalur pengamatan kami tersebut merupakan jalur yang sering dipakai para wisatawan untuk menikmati keindahan alam di sini. Beberapa fotografer dan peselancar juga sering jalan-jalan ke lokasi ini. Akan tetapi, mereka rata-rata memulai perjalanannya dari Pelabuhan Ratu menuju wilayah Cikepuh, lalu kemudian menuju beberapa lokasi. Berikut lokasi-lokasi yang menarik sepanjang perjalanan Citirem-Cikepuh:

Muara Sungai Citirem – Pandan Jangkung – Karang Cantigi – Ombak Tujuh (Cibuaya) – Cibanteng – Pulau Keris – Cibulakan – Batu Beulah – Cikepuh

Berharap pulang di malam hari agar dapat menikmati bintang-bintang yang bertaburan di langit dan bertemu penyu hijau yang hendak bertelur akhirnya pupus sudah. Hujan lebat membuat langit gelap. Dan pastinya,, dingiiiin…!

08 April 2010: Cooking Time!
Setelah pengamatan pagi sebentar di dekat basecamp, kini saatnya tim burung masak untuk makan siang. Lihatlah menu hasil buatan Chef Ira Quinn dan Chef Ai-Bara di bawah bimbingan Chef Dimas. Hehe..

09 April 2010: Arti Sebuah Perjuangan
Hari ini pengamatan terakhir. Satu teman kami, Surie, sudah pulang lebih dulu karena ada agenda penting di akhir pekan. Pengamatan pagi dilakukan di sekitar basecamp hingga Karang Cantigi. Inilah lokasi yang sangat ingin dikunjungi oleh aku dan Ira. Eeh, sebenernya kami udah melewati lokasi ini saat pengamatan pertama kali. Tapi waktu itu belum sadar betul kalo di lokasi ini banyak terdapat pohon cantigi di antara karang. Itulah mengapa disebut Karang Cantigi. Oya, jika beruntung, kalian bisa menemukan penyu yang sedang mencari makan looh! Sayang saat itu penyu-nya malu-maulu jadi kita ga ketemu. Huhu..


Sore hari kami melanjutkan pengamatan lagi. kali ini ditambah Dimar. Lumayan dapet banyak burung yang belum ditemukan di hari sebelumnya. Menjelang senja, kami istirahat lagi di Karang Cantigi. Subhanallah, pemandangan senja di Cantigi sungguh indah. Untungnya kamera Ka Dimas masih lumayan banyak baterainya. Jadi bisa ber
narsist-ria dengan berbagai gaya. Hoho.. Kameraku dan Dimar udah abis euy baterainya. Eh, eh, lain kali kalo ke lapangan yang nggak ada listriknya jangan boros baterai yaa! ^^b


Lagi-lagi Mang Duyeh menyarankan kami untuk berangkat selepas maghrib. “Mungkin aja sekarang mah kita ketemu sama penyu,” katanya meyakinkan. Ah, rasanya kami sudah pasrah kalau-kalau memang tidak bertemu dengan si penyu. Setiap hari kedatangan mereka dinanti, tapi nggak pernah mucul. Sampai setengah perjalanan terlewati, Mang Duyeh menginstruksikan kami untuk mematikan senter dan headlamp lalu meminta kami berhenti sejenak, “Tunggu yaa.. saya cek dulu, kayaknya ada penyu yang naik neh..” Hwaaa,, rasa senang sekaligus ketidakpercayaan saat Mang Duyeh kembali dan berkata, “Kita tunggu dua jam lagi sampai penyu-nya selesai bertelur!”

MasyaAllah, rasanya dua jam bakal lama banget neh. Pengen deh langsung segera ke sana untuk melihat wujud langsung hewan laut tersebut. Ah, tapi inget pesan Mang Duyeh kalau kita harus bersabar. Jangan sampai penyu-nya nggak jadi bertelur. Saat itu pula kami memanggil teman-teman yang ada di basecamp. Dan nyatanya, waktu terasa begitu cepat karena selama itu Mang Duyeh bercerita tentang banyak hal, mulai dari transmigran yang ditipu pihak pelayaran (harusnya mereka ke Borneo, tapi hanya diajak mengitari pulau dan diturunkan di Cikepuh), hingga cerita tentang penduduk sana yang sudah 80 kali menikah seumur hidupnya. Whatz??!

Laluuu,, puncaknya adalah ketika Mang Duyeh berkata, “Okeh, saatnya melihat penyu!” Hoho, ibarat anak kecil yang baru memasuki wahana baru, begitulah kami yang melonjak kegirangan menuju ibu penyu yang sedang kepayahan mengeluarkan puluhan telur dari dalam rahimnya. MasyaAllah, beruntung banget bisa melihat proses langka ini. Ah, sifat antroposentrisku mucul lagi saat aku menyaksikan ibu penyu mengeluarkan airmata dari pelupuk matanya, “Aiih,, pasti sakit yaa bu??!” (Btw, penyu aja waktu bertelur perjuangannya sedemikian hebat begini, bagaimana dengan ibu yang melahirkan kita yaa?? Hwaaa,, mama! Maafkan akuu T-T)

Chelonia mydas

Dan rasanya kurang lengkap kalo belum berfoto bareng penyu. Hihi.. lagi-lagi momen ini diabadikan oleh kamera Ka Dimas. Senangnyaaaa ^__^

norak banget yaa? hihi ^^

Selesai foto-foto baru sadar,, basecamp kosong ga ada yang jaga! Hueeee…

10 April 2010: Pulaaang..!
Masih nggak nyangka kalau aku bakal mendapatkan pengalaman luar biasa ini. Serasa Cuma ada di novel-novel travelling. Coba kalo saat itu aku baru berangkat di pekan kedua, mungkin nggak akan menikmati senja di Karang Cantigi dan melihat hebatnya perjuangan si ibu penyu. Semua itu nggak akan kudapatkan di pekan kedua, karena saat itu, tim akan berpindah ke lokasi lain. Yaph. Dan hari ini adalah hari terakhir kami di basecamp Citirem.

Saat teman-teman yang lain melanjutkan perjalanan menuju wilayah lainnya, aku memilih pulang ke rumah. Berat rasanya meninggalkan mereka. Pastinya akan banyak hal seru lagi yang akan kudapatkan. Sayang, aku terlanjur janji kepada ayah bahwa aku hanya pergi selama seminggu. Dan itu adalah kesepakatan yang kubuat hingga izin berangkat itu kukantongi.

Pulang sendirian ternyata seru juga! Aku tak perlu bersusah payah melewati 4 Km kebun kelapa karena ada seorang polhut dengan motornya yang siap mengantarkanku kembali ke basecamp polhut. Selesai bersih-bersih pun seorang polhut lain mengantarkanku menuju Terminal Surade. Alhamdulillah.. benar-benar irit ongkos karena aku tak perlu naik ojek. (Harusnya juga ada angkot tapi entah kenapa saat itu nggak muncul-muncul).

Ternyata aku terlambat sampai terminal. Bis MGI jurusan Surade-Bogor telah berangkat satu jam yang lalu. Akhirnya aku menaiki angkot ELF menuju Terminal Lembur Situ, dilanjutkan angkot menuju Sukabumi, baru kemudian naik bis Sukabumi-Depok. Malam minggu ini melakukan perjalanan yang luar biasa selama 12 jam. Hwaaa… Akhirnya sampai juga di rumah pukul 23.00 wib.

***

Ehm, kawanz.. seru kaan?!
Kalo mau ke sana juga, jangan lupa bikin simaksi yaa! Soalnyanya kan kita akan mengunjungi wilayah taman nasional! Suratnya bisa dibuat di BKSDA yang ada di Bogor. Untuk rute keberangkatan dengan menggunakan angkot, lebih enak berangkat malam hari ke Terminal Bogor trus naik MGI jurusan Bogor-Surade. Nanti, sampe terminal Surade di waktu shubuh, ga perlu nunggu lama, kita udah bisa ketemu angkot yang menuju basecamp polhut. (angkot ini Cuma beroperasi sampe jam 4 sore!)

Okeh, have a nice trip! ^___^
*wuiiih,,panjang juga yaa nie tulisan.. hihi!

tulisan ini dibuat awalnya dalam rangka mngikuti lomba travelling-nya mba Ari. tapi berhubung aku udah keburu ke Baluran, Jatim jadi belum sempat di upload deh tulisannya. hoho.. trus trus sebenernya ada beberapa foto yang mendukung, tapi ga bawa cardreader jadi foto tambahannya menyusul yaa! ^^v

16 responses

  1. mylathief said: novelnya tere liye yang ‘senja bersama rosie” settingnya gili trawangan…keren juga…jadi pengen ke sana

    belum baca…ke mana? gili trawangan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s