Teman Sejati

Dadaku masih naik turun. Jantung ini memompa darah lebih cepat dari biasanya. Ada gemuruh yang lama tak hadir dalam sanubariku. Selaksa rindu.

saat aku mencoba merubah segalanya
saat aku meratapi kekalahanku
aku ingin engkau selalu ada
aku ingin engkau aku kenang

Sebuah tulisan yang kubaca malam tadi telah membuat bendungan airmataku bocor. Tidak ada secuil nama atau lakunya di situ. Hanya kisah yang sedikit mirip, tapi sudah cukup membuatku merindukannya. Merindukan kehadirannya meski hanya lewat mimpi. Ah, sayang seribu sayang, dia tak hadir di dalam mimpi. Justru sosok lain yang tidak terlalu kukenal-lah yang beberapa kali menjadi penghias bunga tidurku.

adakah kau mengerti, kasih
rindu hati ini tanpa kau di sisi
mungkinkah kau percaya, kasih
bahwa diri ini ingin memiliki lagi

Hanya angan. Kusadari bahwa mimpiku telah melewati ambang batas harapan. Jangankan kecupan, bahkan sapaku tak berbalas saat aku mengunjunginya. Yaph, kemarin, saat mentari berada tepat di atas kepala, aku mendatangi rumahnya. Sempit sekali. Hanya cukup untuk satu orang. Jangan harap ada TV atau internet. Listrik saja tidak sampai ke rumahnya. Maka, aku bisa membayangkan bagaimana kondisi rumah itu: gelap, pengap, sepi.

Adakah dia memiliki teman? Aku hanya berharap amalan kebaikan yang selama ini dilakukannya dapat menjadi teman yang akan menerangi dan melapangkan kuburnya. Bukan cacing atau serangga! Ah, ya! Yang kudatangi itu lebih tepat disebut kuburan dibanding rumah. Dan dia memang takkan pernah lagi mengecup dan membelaiku mesra. Dia, penghuni kuburan itu.

Allah izinkanlah aku bahagiakan dia
meski dia tlah jauh,
biarkanlah aku berbakti untuk dirinya
oh, ibu….

Huff..
Aku, bahkan belum memiliki banyak teman, Ma!
Bagaimana doaku bisa sampai?
Berat! Menjadi anak sholeh itu tidak mudah! Sungguh!
Dan dadaku kembali naik turun. Berdetak kencang seiring dengan rinduku yang meluap-luap.

***
Ruang Tengah,
07 Agustus 2010 pk. 23.10
Memangnya apa yang kau pikirkan tentang teman sejati? Hehe ^_^

14 responses

  1. amin, ya rabb…kami juga butuh teman sejati. tapi tiada kesenangan yang lebih mengharu biru hati kami kecuali mengetahui bahwa mereka, orang-orang tua kami, ada di bawah payung lindungan dan rahmatMu, telah terhapus segala kesulitannya selama di dunia, dan telah Engkau ganti dengan keteduhan di sana…taqobbal, ya mujib…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s