Eits,, Jangan Asal Melangkah Yaa!

Kebetulan melihat postingan MP’ers yang bertanya-tanya seputar larangan melintasi orang yang sedang shalat, jadi ingat dengan keinginan untuk buat tulisan ini tapi sayangnya selalu tertunda. (mungkin kolaborasi antara pikun dan malas bermain di sini, hadeuh..). Dan hari ini, akan kuhapus rasa pikun dan malas itu. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Entah, mungkin ini kebiasaan yang aneh. Dari lantai dua Masjid Ukhuwah Islamiyah aka MUI, aku sering mengamati gerak gerik para pria yang hendak dan sedang shalat. Ingat yaa! Yang kuamati adalah aktivitas mereka ketika shalat! (ceritanya su’udzon kalo kalian su’udzon padaku, hehe..). Banyak hal menarik yang terlihat. Ada yang sedang saling merendah (atau saling menolak, ya?) untuk dijadikan imam, ada yang sedang menepuk bahu seseorang yang menjadi satu-satunya makmum (berharap si makmum mundur satu langkah), dan ada juga yang dengan santainya berjalan di depan jamaah yang sedang shalat sedangkan beberapa makmum tak bertabir. Untuk moment yang terakhir, sering juga terlihat di jamaah wanita. Eeh, trus masalahnya di mana?

Okeh, simak baik-baik hadits berikut yaa!

“Apabila salah seorang di antara kamu shalat dengan menghadap kepada sesuatu yang mendindingnya dari manusia kemudian seseorang ingin berlalu di hadapannya, maka hendaklah ia mendorong bagian leher orang itu -dan sebisa mungkin ia menolaknya dengan keras- (di dalam sebuah riwayat dikatakan: hendaklah ia mencegahnya dua kali), dan apabila ia enggan, maka hendaklah ia membunuhnya, karena tidak lain ia adalah setan.”

“Sekiranya orang yang berlalu di hadapan orang yang shalat itu mengetahui apa yang akan menimpanya, niscaya untuk berhenti selama 40 tahun, adalah lebih baik baginya daripada untuk berlalu di hadapannya.”

Keduanya diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Riwayat lainnya oleh Ibnu Khuzaimah.

Nah, makanya, kalo kita mau shalat, untuk berjaga2 dari orang yang lewat di depan kita, pastikan ada tabir yang menjadi pembatas, bisa berupa sajadah, tas, atau apapun. Rasulullah SAW pun pernah menggunakan pohon, kendaraan, dan pelana sebagai tabirnya.

Beliau membawa semacam pelana, lalu meluruskannya, kemudian beliau shalat menghadap kepada ujung pelana itu. (HR Bukhari dan Ahmad)

Ingat juga yaa! Kita pun ga boleh sembarangan lewat di depan orang yang sedang shalat. Bahkan dalam hadits yang tersebut di atas dikatakan bahwa menunggu hingga 40 tahun lamanya lebih baik.

Oya, lebih lengkap perihal ini silakan baca buku Sifat Shalat Nabi atau search di google dengan keyword: tabir dalam shalat. Maaf nggak bisa banyak menjelaskan. Berharap ada teman-teman yang mengoreksi jika ada penjelasan yang salah, menambahkan, atau mungkin mau berbagi link tentang ulasan ini. Sok atuh n_n.

4 responses

  1. SHALAT DENGAN MENGGUNAKAN SUTRAH ATAU PEMBATASOlehSyaikh Khalid al HusainanSabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”Artinya : Apabila ada yang shalat diantara kalian maka sholatlah dengan menggunakan pembatasr dan hendaklah dia mendekati pembatas tersebut, janganlah membiarkan seorangpun lewat antara dirinya dan pembatas tersebut” [1]Ini merupakan dalil/nash yang umum tentang sunnahnya mengambil sutrah ketika sholat baik di masjid maupun di rumah. Sutrah berlaku baik bagi laki-laki maupun perempuan. Ada sebagian orang-orang yang mengerjakan sholat telah melarang dirinya dari sunnah (menggunakan sutrah) tersebut sehingga dijumpai ketika sholat, mereka tidak menggunakan sutrah.Sunnah ini berulang kali berlaku bagi seorang muslim dalam kesehariannya. Hal (menggunakan sutrah) itu berlaku juga pada sunnah-sunnah yang Rawatib, pada Sholat Dhuha, Tahiyatul Masjid, Sholat Witir, dan sunnah tersebut juga berlaku bagi seorang perempuan yang sholat sendirian di rumahnya. Sedangkan ketika sholat berjamaah maka yang menjadi penghalang/tabir bagi para makmum adalah imam sholat.Permasalahan-Permasalahan Seputar Sutrah[a]. Sutrah ketika sholat dapat menggunakan apa-apa yang berada di arah kiblat seperti tembok, tongkat, atau tiang dan tidak ada pembatasan tentang bentangan/lebar sutrah.[b]. Tinggi sutrah kira-kira setingggi mu’akhiraturr [2], yaitu yang ukurannya kira-kira satu jengkal tangan.[c]. Jarak antara kedua kaki dan sutrah adalah kira-kira tiga hasta (siku sampai ujung jari tengah) dan diantara dia dengan sutrah masih ada tempat (ruang) untuk melakukan sujud.[d]. Sesungguhnya sutrah (tabir penghalang) disyariatkan bagi imam dan orang-orang yang sholat secara munfarid (sendiri) baik sholat wajib lima waktu maupun shalat sunnat[e]. Sutrah makmum mengikuti sutrah imam, maka diperbolehkan melewati makmum apabila ada hajat (kepentingan).Faedah Menerapkan Sunnah Ini[a]. Sesungguhnya sunnah tersebut (dengan menggunakan sutrah ketika sholat) menjaga sholat agar tidak terputus yang disebabkan oleh lalu lalangnya siapa saja yang bisa memutuskan/membatalkan sholat (yaitu perempuan, keledai, dan anjing yang hitam) atau mengurangi pahalanya.[b]. Mencegah pandangan dari melihat orang-orang yang lalu lalang karena orang yang memakai sutrah secara umum pandangannya ke arah sutrah dan pikirannya terkonsentrasi pada makna-makna bacaan sholat.[c]. Orang yang sholat memakai sutrah telah memberikan kesempatan bagi orang yang berlalu-lalang maka tidak perlu menjauhkan orang-orang yang berlalu lalang di depannya.[Disalin dari kitab Aktsaru Min Alfi Sunnatin Fil Yaum Wal Lailah, edisi Indonesia Lebih Dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Penulis Khalid Al-Husainan, Penerjemah Zaki Rachmawan]_________Foote Note[1]. Hadits Riwayat. Abu Dawud no. 697 dan 698. Ibnu Majah no. 954 dan Ibnu Khuzaimah 1/93/1. [Lihat Sifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Syaikh Al-Albany hal. 82.][2]. Sandaran pada bagian belakang pelana kuda yang ukurannya kira-kira dua pertiga dziraa’ (1 dziraa’= sepanjang siku-siku tangan sampai ujung jari tengah) [Lisaanul arab III/1495]

  2. Busr bin Abi Sa’id mengatakan bahwa Zaid bin Khalid menyuruhnya menemui Abu Juhaim. Ia perlu menanyakan kepadanya, apa yang pernah ia dengar dari Rasulullah mengenai orang yang berjalan di depan orang yang sedang mengerjakan shalat. Kemudian Abu Juhaim berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Seandainya orang yang lewat di muka orang yang sedang shalat itu mengetahui dosa yang dibebankan kepadanya, niscaya ia berdiri empat puluh lebih baik daripada ia lewat di depannya.”‘ Abu Nadhar (perawi) berkata, “Saya tidak mengetahui, apakah beliau bersabda empat puluh hari, atau empat puluh bulan, atau empat puluh tahun.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s