Ketenangan Di Bawah Pohon Jambu

Malam Ramadhan ke-24, di bawah pohon jambu

Langit masih menyisakan mendung setelah sore tadi kota ini diguyur hujan deras. Tak ada bintang yang berkelap-kelip indah. Bahkan rembulan pun harus merelakan diri untuk terselimuti awan hitam. Sesungguhnya, tidak ada yang menarik dengan pemandangan langit malam ini. Tapi, entah mengapa, wanita paruh baya itu memilih duduk di teras depan rumahnya. Mungkin ia sedang memandang langit yang tampak sempit karena terhalang atap-atap rumah tetangganya. Atau mungkin ia sedang menikmati pohon jambu di depan rumahnya yang belum jua berbuah.

Wanita itu masih terduduk di teras depan rumahnya. Sendirian. Udara dingin menusuk kulitnya yang mulai keriput. Putra tertuanya pun akhirnya memanggil sang ibu. “Bu, ayo masuk. Di luar dingin..”

Malam Ramadhan ke-24, di kamar depan

Gadis itu sedang asyik menyantap mie ayam bakso malam ini. Hujan yang menggujur kota sejak sore tadi telah sukses membuat sensasi dingin yang luar biasa. Mie ayam memang pilihan yang tepat untuk menghangatkan tubuhnya. Gadis itu juga belum makan malam selepas maghrib tadi. Dan mie ayam pastinya juga akan memberikan energi untuk tubuhnya. Malam ini ia siap begadang lagi.

Sebenarnya mie ayam dan lagu religi bukanlah paduan yang serasi. Namun, gadis itu tetap memilih memutar lagu-lagu Opick dari notebook berwarna hitam untuk menemani makan malamnya. Volume suara yang keras membuat panggilan telepon dari ruang tengah tak terdengar. Suara sang ayah nyatanya lebih kuat menyadarkannya untuk segera menjawab panggilan telepon.

Dari ruang tengah, sepupu ayah telah lebih dulu mengangkat gagang telepon. Suara si penelpon tak terdengar. Hanya sepupu ayahnya yang setengah mengantuk membalas

“Iya..”

“Innalillahi…”

“Sakit apa?”

“Oh, iya.. iya.. Ntar disampein..”

Gadis itu meletakkan mangkok yang dipegangnya ke lantai. “Siapa, Ceu?” Adiknya yang baru saja terlelap pun terbangun dan memasang telinga untuk mendengar jawabannya.

“Itu.. Ceu Biah meninggal di depan rumahnya. Nggak sakit apa-apa. Tadi Mang Dadha pas nyuruh Ceu Biah masuk, eh, katanya malah tergeletak jatuh ke lantai..”

Gadis itu kembali masuk ke dalam kamar hendak meraih handphone-nya. Winamp baru saja menyelesaikan lagu Cukup Bagiku Allah. Dan kini memutar lagu yang berbeda.

bagaimanakah bila saatnya
waktu terhenti tak kau sadari
masih adakah jalan bagimu
tuk kembali menguraikan masa lalu

innalillahi wainnailaihirajiun..
Sungguh tak ada pilihan saat kematian datang menjemput kita. Tempat dan waktunya telah ditentukan. Bagaimana teman sejatimu? Sudah dapat?

Ruang tengah,
2 September 2010 pk. 22.30 wib

17 responses

  1. Afwan, ini bukan cerita fiksi ki. Saudara ayah emang meninggal malam ini. Ditemukan anaknya di teras depan rumah udah nggak bernyawa. Padahal nggak ada tanda2 sakit sebelumnya. Sy di sini cuma mau menyampaikan, kematian itu niscaya. Dan kita nggak pernah bisa milih mau meninggal dalam keadaan, waktu, dan tempat yang bagaimana..

  2. akuai said: Sy di sini cuma mau menyampaikan, kematian itu niscaya. Dan kita nggak pernah bisa milih mau meninggal dalam keadaan, waktu, dan tempat yang bagaimana..

    iya bener T_Tsemoga khusnul khatimah ya kakaamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s