Perkenalkan, Aku Lilin


“Hai, salam kenal!”

“Salam kenal juga..”

“Kamu siapa?”

“Aku lilin.”

“Lilin?”

“Iya, memang kenapa?”

“Pantas cahayamu redup, tidak seperti matahari yang mampu menyinari seluruh penjuru bumi.”

“Tak masalah, yang penting aku bercahaya. Meski hanya menyinari sekelilingku, orang-orang terdekatku..”

“Tapi mereka hanya memanfaatkanmu. Mencarimu karena ada maunya. Meninggalkanmu jika sudah tidak dibutuhkan.”

“Aku senang bisa bermanfaat untuk mereka..”

“Dan membiarkan dirimu terluka?”

“Apa maksudmu?”

“Sudahlah. Kamu pasti mengerti maksudku. Kamu itu terlalu peduli pada orang lain. Di satu sisi menolong mereka, tapi lihat, tubuhmu sendiri terbakar!”

“Sekali lagi kukatakan, aku senang jika bisa bermanfaat untuk mereka. Itu prinsipku!”

“Jangan lupa, suatu saat kamu tidak lagi dapat memberi karena tak ada lagi yang kamu miliki. Habis. Kehilangan cahaya.”

“Aku tak perlu bersedih. Itu adalah sebuah keniscayaan. Aku pasti akan mati.”

“Baiklah, aku mengerti. Sangat mengerti. Siapapun kita, pastikan kita yakin dengan jalan yang akan kita pilih. Karena semua akan dipertanggungjawabkan.”

“Tepat sekali. O, ya. Kamu belum memperkenalkan diri.”

“Aku lilin. Sama sepertimu.”

**gambar diambil dar sini

14 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s