Cantik dan Anggun (another flash fiction)

Langit tampak cerah berawan menyambut pagi di awal bulan Syawal ini. Warga di gang kecil itu sudah menunjukkan kesibukannya. Bapak-bapak sudah lebih dulu bergerak menuju lapangan kampus dekat rumah. Remaja putri berjalan santai, pakaiannya hampir seragam: celana jeans, kemeja lengan panjang, dan kerudung yang asal menempel di kepala. Para ibu masih menata piring dan gelas, cucian perdana setelah sarapan pembuka. Anak-anak kecil berlarian di sepanjang gang. Pakaian mereka berwarna-warni, lengkap dengan kantong yang siap menampung uang baru.

Cantik dan Anggun, seperti biasa bertemu di ujung gang. Janjian untuk berangkat shalat Ied bareng. Dua sekawan sejak kecil ini memang lengket kayak perangko (baguslah, daripada seperti sepasang sendal jepit butut, toh! hehe..). Masih segar di dalam ingatan, Ramadhan setahun yang lalu, mereka saling menyapa saat berjumpa. Anggun bilang, “Tik, kamu anggun banget..”, lantas dibalas oleh Cantik, “Loh, Ang, kamu juga cantik sekali..”. Mereka pun tertawa serempak. Tak peduli yang lain kan berkata, “Dasar! ABG labil..!” Ah, tapi kini suara mereka tertahan. Cantik menatap Anggun lekat-lekat. Kali ini Anggu mengenakan gamis hitam plus jilbab putih menutup dada.

“Kamu terlihat anggun..!” kata Cantik yang masih terkesima memandang penampilan Anggun. Matanya terus menyusuri ujung kepala hingga ujung kaki sahabatnya itu. Anggun hanya tersenyum.

“Dan coba lihat, ke mana pula sandal gunungmu? Pasti sepatu putih dengan pita hitam ini kamu pinjam dari kakakmu yaa?” tambah Cantik. Anggun masih tersenyum. Senyum yang lebih mengembang, seperti bros bunga mawar yang ia kenakan. Cantik makin terpesona. Rasanya, Anggun mendapat dua paket sekaligus. Anggun dan cantik.

“Udah ah, kamu kebanyakan muji aku. Tapi, makasih loh! Memang aku cantik dan anggun, hehe..” Akhirnya, Anggun pun bersuara.

“EEEHH…” Cantik terdiam sejenak. Lantas tertawa lepas.

“Loh, kenapa? Ada yang salah? Kok ketawa?” Anggun terlihat bingung.

Cantik menutup mulutnya. Berusaha menahan tawanya agar tidak meledak. “Iya.. Yang salah itu suara kamu. Kenapa jadi nge-BASS gitu? Ahaha….”

Dan radang tenggorokan telah melunturkan segala pujian itu.

***
Ruang Tengah,
1 Syawal 1431 H, pk. 00.04 wib
Selamat Hari Raya Idul Fitri! SELAMAT BERBUKA KEMBALI!
Taqabbalallahu minna waminkum ^_^

16 responses

  1. @mylathiefHeeu… Ga maksud gitu.. Nanti kalo mau slsesai nulis, aku pindah ke dapur atau kamar mandi skalian aja kali yaa? Haha..*jangan pake tanda seru, om! Seperti sdg mengomel saja. :p@dhaimasraniShobahul khair, mas haitami. Wah, bahagia sekali sepertinya :DTaqabbal yaa karim..Okeh… Shalad ied dulu yo smua! Jangan lupa makan!

  2. kmrn just alvin jg ditanya hal yg sm oleh aa gym dan menjawab no2, kata aa gym, ‘berarti msh mengharapkan penilaian orang lain’, luruskan niat sempurnakan ikhtiar. Btw, siap2x kawan bakal ada grebek lebaran, mau meng-grebek atau di-grebek alkarim ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s