Berhenti Menulis Untuk Sejenak Menikmati Rasa

Suatu hari, teman mayaku bercerita kalau dia tak lama lagi akan menikah. Seneng campur kaget: Eh, kok gue dilangkahin sih? Hehe, nggak ding. Aku kaget karena nggak ada angin nggak ada hujan tiba2 kabar itu tersiar (dudul neh si Ai, jelas2 tiap hari jakarta ujan :D). Dan, seperti orang2 kebanyakan, pertanyaan basi pun meluncur lewat udara (maksudnya via sms, heheu..): Ka Ai kapan nyusul?. Untungnya aku masih setia dengan jawaban: I’m single and very happy!😀 Eeh, mungkin karena kurang puas ngompor2in, dia pun membalas begini:

cepet2 double atuh ka, kali2 aj ide2 nulisnya makin kian cemerlang gitu krn udh ad sumber inspirasi, hee

Begitu kah? Menikah berarti memperkaya ide menulis? Haghag. Sesaat aku terbius oleh kata2nya. Lalu tersadar, hah! Pinter banget nie anak, menyerang titik kesukaanku.

Okeh, sampai di sini semoga udah banyak yang ngintip dan baca karena paragraf pembuka yang (mungkin) menarik, heheu.. Saatnya masuk ke inti cerita :p

Aku suka nulis. Aku ingin jadi penulis. Dan para fans-ku tahu akan hal itu (sok punya fans :D). Dan yang kadang menyebalkan adalah saat teman2 mulai meledek:

‘eh, lihat tuh Ai, menyimak dengan baik obrolan kita, ntar cerita kita hari ini jadi bahan tulisannya’

‘Ga apa2 nyasar. Kali aja kisahnya bisa buat bikin novel.’

‘cari suami yang bisa ngajak pulang kampung, Ai. Ntar kan bisa nulis pengalaman mudik.’

Dan pertanyaan2 setipe. Hmmpf….

Kalo boleh jujur, kadang aku memang terlalu ‘gila’ menulis. Semua kejadian seolah ingin dituangkan ke dalam tulisan (karena bicara kadang melelahkan, meski aku sangat suka bicara :p). Tapi kadang ngerasa nggak tulus. Mendengarkan curhatan temen2 tentang kisah cintanya, bertanya ingin tahu, tapi kadang hanya untuk memperkaya bahan tulisan (aku miskin ide jika harus menceritakan kisah sendiri soalnya).

Pernah juga menerima tawaran bocah tukang ojek payung saat aku hendak menyebrang jalan menuju Detos dari Gramed Depok. Jaraknya terlalu dekat. Hujan pun hanya gerimis. Aku sudah terbiasa menerobos air yang tumpah dari langit itu. Tapi kasian melihat si bocah. Lalu, muncul banyak tanya, tinggal di mana, kelas berapa, uangnya untuk apa, kecuali namanya siapa. Ah, untuk pertanyaan penting ini aku justru lupa. Ingin rasanya kisah itu segera dituliskan, tapi urung. Karena aku khawatir tidak tulus saat menikmati kebersamaanku dengannya. (Gubrak! Pada akhirnya ditulis juga, hoho!)

Ini hanya perasaan yang kadang muncul. Tapi rasa yang kadang ini kadang menyebalkan (halah, nulis apa sih nie anak? :p). Maka, aku ingin sejenak menikmati setiap rasa yang menelusup ke dalam jiwa. Saat mendengarkan saudari2ku bercerita, saat mengamati ibu2 yang berkerumun di tukang sayur, saat menghadiri perjumpaan yang menyenangkan, juga saat bertanya ini-itu, bukan karena untuk mengumpulkan bahan tulisan, tapi karena aku menikmatinya. Menikmati setiap rasa yang muncul. Karena saat itu, hikmah justru mengalir dengan derasnya. Dan biarkan aku berhenti menulis untuk sementara. Hanya sementara.

***
Ruang Tengah,
(meski mungkin dianggap mirip Fahd Djibran, tapi aku memang senang menulis di sini, di ruang tengah rumahku, heheu)
27 September 2010 pk. 07.57 wib
Setelah obrolan pagi yang menentramkan…

34 responses

  1. mungkin memang begitu, kadang, saat ndenger orang cerita..muncul kilatan pikiran, “wah, bagus juga buat cerita”… Awalnya mungkin kita merasa nggak tulus, ada udang dibalik batu, tapi yakinlah, seorang penulis yang baik, yang menuangkan dr apa yg ia dengar, adalah pendengar yang tulus n baik… ketidaktulusan dlm mendengar, tak akan menghasilkan tulisan baik…ha ha….sok serius n berfilosofi

  2. Hmm.. Begitu yaa?Hyaa.. Bisa2 ga jadi brenti nulis neh!–Eeh, jangan2 mylathief ini fans-ku. Sama seperti yang lain, justru tak membiarkanku berhenti menulis. Hehe… *kesimpulansepihak :p

  3. Gw juga suka digituin “wah kayanya bakal ada yg bikin note baru nih” dan pernyataan sejenis yg kadang nyelekit, ih emangnya gw segitunya ya? Btw kata2 gada angin gada ujan kayanya terinspirasi dari gw tuh *sok ngerasa*😀

  4. @luvummiHanya dengan membaca komenmu saja sudah membuatku senyum2 sendiri :DKan sudah kubilang, aku memilih untuk menunggu ending-nya. Karena aku butuh potongan puzzle yang akan membuat kisah itu jadi sempurna :))

  5. @dewayanieAih, mba yanie sempat2nya mampir. Eh, padahal aku berharap dipanggil zahwa lagi. Terdengar cool :pBeneran ruang yang terletak di tengah rumahku mba. Nama lainnya ruang tv, ruang keluarga, hehe…

  6. akuai said: Eeh, jangan2 mylathief ini fans-ku. Sama seperti yang lain, justru tak membiarkanku berhenti menulis. Hehe… *kesimpulansepihak :p

    ha ha..kalau membuat dirimu senang, gpp lah diiyakan. Kalo nangis susah berhentinya kayake, di jakarta jarang yg jual balon terbang..🙂

  7. Jangan lamalama kak ga nulisnya..aku suka nulis tapi keseringan buntu😦..padahal pas di otak udah kerangkai tapi karena kelamaan mungkin yaa jadinya pas ngetik malah nguap tuh yang mo ditulis

  8. daun2kering said: waduuuhhhh…aya2 wae nih Ka Ai, dahHebatnya aku bisa menyumbang inspirasi tulisannya k’ai,, hehe*bangga mode on

    jadi ga perlu segera menikah kan jul, udah dapet inspirasi tuh.. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s