Apakah kau masih mencintainya?

11 Oktober 2008

Kupandangi pria bertubuh gembul itu. Tak kutemukan gurat kesedihan di wajahnya. Hanya sedikit kecemasan yang tergambar. Sore ini, ia benar-benar sibuk. Berdiskusi dengan para suster, sesekali mendengarkan saran dokter, menyapa famili dan kerabat yang datang silih berganti (yang bagiku sungguh mengganggu). Ah, lihatlah, bahkan pria itu masih bisa melayangkan senyuman terbaiknya.

Pikiranku tak karuan. Sejak kapan? Entah. Sepertinya hanya hari ini saja. Dan sikap pria itu ikut menambah beban pikiranku. Istrinya sudah dua pekan terbaring di rumah sakit. Tapi ia masih bisa makan enak, makan di restoran mahal dekat rumah sakit. Tetap berangkat ke kantor meski tanpa teh hangat dan cium tangan istri tercinta. Hei, benarkah ia cinta? Masihkah cinta hadir dalam hati pria berumur lima puluhan itu?

Lorong rumah sakit itu mulai ramai. Keluarga inti telah berkumpul di kamar pasien. Terlalu sempit untuk menampung seluruh keluarga. Beberapa memilih menunggu di luar kamar. Pria itu ada di dalam, menyaksikan tenggorokan sang istri dimasukkan selang kecil setelah dokter memberi perintah, “suction!”. Aku tak mengerti apa yang mereka sedang upayakan-dan entah sampai kapan. Yang pasti, aku mampu menangkap dengan baik arti suara tangisan yang tiba-tiba pecah.

Pria itu (lagi-lagi) tak menunjukkan kesedihan yang luar biasa. Hanya sebentar ia bertahan di dalam kamar. Lalu bergerak menghindari keramaian. Pria itu berdiri dengan gagah di ujung lorong. Menekan tuts handphone, menelepon teman kantornya. Suaranya agak parau saat mengabarkan, “Istri saya meninggal..”

Tidak ada airmata yang membasahi pipi. Kesedihan itu tak terpancar dengan jelas. Tentang perasaan di dalam hatinya? Aku tak terlalu memikirkannya lagi.

☆ to be continued☆

28 responses

  1. akuai said: Aku juga bersyukur hari itu ga ikut kamu pergi, Di. Hehe.. Bisa2 moment saat si pria menelpon temannya itu terlewatkan :p

    emang Diah ngajak kemana?makan yaak?ato ke rumah dosenDiah jg ngeliat wajah tenang pria itu, saat membubuhkan tanda tangan..bliau masih bisa tersenyum ramah ke Diah, waktu Diah tanya ada apa..Ai di dalem ruangan tempat wanita itu terbaring..

  2. @allsip sip ^^bmakasih udah mau berkunjung, baca, dan komen…@mylathiefiya.. Padahal hampir aja pergi karena hari itu mendadak bad mood (penjelasannya ada di cerita one year ago, hehe..)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s