Apakah kau masih mencintainya? (Lanj.)

ada baiknya baca dulu cerita sebelumnya di sini

12 Oktober 2008

Bangku-bangku di ruang tamu sudah dipindah ke halaman depan rumah. Kursi dan tenda sudah disiapkan sejak semalam. Banyak tamu yang datang. Keluarga dekat, keluarga jauh, teman, kerabat, yang wajahnya sangat familiar sampai yang tak kukenal sama sekali. Pagi ini pun masih ramai. Masih dengan ucapan yang sama, “Yang sabar, yaa!” atau “Tegar, yaa!”. Dan aku masih acuh. Aku belum dapat mencerna dengan baik nasihat mereka. Sabar untuk apa? Kenapa harus tegar? Saat ini, pesan langit yang kutangkap hanya tentang kematian. Ia niscaya.

“Tetap, yaa… matching!” kata kawan dekatku. Dipandanginya sekali lagi penampilanku.

“Emm,, nggak sengaja, kok.” aku pun ikut memandang diri sendiri. Pesan wanita itu masih kuingat dengan baik, “Pake’ baju jangan nabrak-nabrak!” Mungkin karenanya aku jadi terbiasa, tak terkecuali di hari duka ini.

“Salut, deh. Tegar banget yaa?!” lanjut kawanku sambil memandang pria itu. Ia dipuji lagi. Hmm.. Benarkah ia tegar? Lalu ke mana ia saat wanita itu -istri si pria tua- dimandikan, dikafankan. Bahkan saat keluarganya diberi kesempatan terakhir untuk mencium kening dan pipi wanita (yang juga bertubuh gembul), ia tidak turut serta. Dan kusadari bahwa sejak hak-hak wanita itu ditunaikan, pria itu tidak ada. Mungkin di luar rumah, (seperti hari-hari sebelumnya) menyambut tamu yang hadir.

Apakah kau masih mencintainya? Ingin sekali kutanyakan hal itu kepadanya. Tapi hingga wanita itu dikebumikan, aku tak sempat bertanya pada pria itu.

12 Oktober 2010

Pertanyaan itu sudah terjawab. Meski aku tak pernah menanyakan langsung pada pria itu. Tiga bulan sejak kematian istrinya, ia jatuh sakit. Cukup parah. Diagnosa terakhir menyatakan pria itu menderita penyakit ginjal. Dua pekan sekali harus cuci darah. Wajahnya layu, badannya kurus. Banyak yang bilang sakitnya karena rindu pada sang istri. Bayangkan, 22 tahun hidup bersama lalu tiba-tiba harus terpisahkan, maka kerinduan pastilah merupakan akibat dari cinta yang tumbuh di dalam hatinya. Benarkah itu cinta? Ah, saat itu aku masih belum terlalu yakin. Mungkin juga karena beban pikiran yang lain atau sistem tubuhnya yang menua.

Hingga suatu hari, entah kapan, mungkin enam bulan setelah itu, aku memutuskan untuk tak lagi bertanya. Yang kuingat, saat itu pagi hari. Seorang dokter hewan datang menjemput pria itu. Urusan pekerjaan. Namun, sebelum berangkat, mereka asyik berbincang di ruang tamu. Aku ada di kamar depan, mendengarkan. Sebuah ketaksengajaan yang akhirnya memaksaku untuk menjadi pendengar obrolan dua pria.

Entah bagaimana awalnya, yang jelas pria itu kemudian bercerita tentang istrinya. “Terus terang saya malu, Pak, sama istri saya. Ilmu agamanya lebih bagus dibanding saya. Dia rajin ikut pengajian-pengajian.” Pria itu mulai memuji. Sesekali tertawa mengingat kelucuan yang kadang diciptakan istrinya. Lalu menangis. Iya, aku yakin ia saat itu menangis. Isakannya terdengar jelas. Lalu berkata, “Saya sedih, Pak, waktu istri saya terbaring di ruang ICU. Salah apa dia? Ibadahnya rajin, nggak suka nyari musuh juga.”

Yaa Rabb, aku seolah diajak untuk kembali mengingat memori yang telah lalu. Anak-anaknya diajak ke restoran agar tetap memiliki selera makan. Tetap bekerja karena itulah tanggung jawabnya. Toh sebelum berangkat dan pulang kerja ia tetap hadir menyapa istrinya, meski tanpa balasan. Dipilihnya ujung lorong yang sepi, menjauh dari keramaian, kumpulan orang-orang dengan wajah yang pilu. Dia mungkin menangis saat itu, tapi tak pernah ia tampakkan pada anaknya, keluarganya. Dan mungkin ia memilih di luar rumah saat istrinya dibungkus kain kafan karena di sanalah ketegarannya tercipta. Dan tangisannya, hanya secuil dari wujud cinta yang dipersembahkan si pria tua untuk sang istri.

Aku tahu betul wanita itu. Cintanya membuat ia mudah cemburu. Ia cemburu saat ada mahasiswi muda yang bekerja sama dengan suaminya. Ia pun cemburu saat suaminya memanjakan anak-anak gadisnya. Harusnya ia tak perlu cemburu. Cintanya berbalas. Bahkan hingga nyawa terenggut dari jasadnya.

Wanita itu sungguh beruntung. Dialah ibuku. Pria gembul itu ayahku. Dan aku lebih beruntung lagi, karena menjadi salah satu anak mereka.

☆ fin ☆

53 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s