ai no ame

Hujan yang turun setelah mendung menyelimuti kota Bogor mengingatkanku pada sebuah obrolan dengan seseorang. Sebut saja namanya Ludi (Halah…). Dia temanku. Sebenarnya dia tak pernah mengakuinya. Mungkin baginya, lebih baik disebut saudara daripada teman biasa. Sholihat betul, kan? Kemarin, kami bertemu di sebuah festival kuliner. Rencananya, setelah itu, kami akan pergi bersama ke acara pernikahan seorang kawan. Tapi, hujan yang turun membuat kami harus menunda perjalanan. Hingga hujan mereda. Aku nggak bawa jas hujan. Nggak keren banget kan kalau menghadiri undangan dengan kondisi basah kuyup?!

“Gimana sih? Katanya lo suka hujan. Tapi mengeluh pas hujan turun.”

Aku kurang ingat bagaimana redaksionalnya. Intinya, Ludi heran karena dia melihat diriku yang tidak konsisten. Seseorang yang menyukai hujan harusnya tidak mengeluh ketika hujan turun. Jika sudah suka, maka tak boleh terselip benci atau kalimat ketidaksukaan. Sejenak aku berpikir, lalu berkata, “Emang siapa yang bilang gue suka hujan?” Seingatku, aku tak pernah menyatakan bahwa aku suka hujan. Tidak seperti kesukaanku pada semangka. Aku dapat dengan lantang berkata, ‘Aku suka semangka’. Tapi untuk hujan, benarkah aku juga suka? Entahlah.

“Setau gue, lo, iqbal, fajar, itu orang-orang yang suka hujan.” Ludi mulai menjelaskan. Kesimpulannya tersebut lahir bukan dari pernyataan lisanku, tetapi dari SMS-ku yang seringkali menyinggung soal hujan. Kuakui, hujan memang memberikan banyak hikmah. Bahwa hujan itu seperti paket kehidupan. Ada rintik-rintik yang romantis, pelangi yang indah, ada pula petir yang mengagetkan. Satu paket yang harus disyukuri. Dan bukankah hujan bisa mendatangkan keberkahan?

Denial. Sebuah penolakan. Mungkin itulah yang menurut Ludi sedang kualami. Aku sebenarnya suka hujan. Hanya menolak perasaan tersebut. Dan hal itu kerap kali memang dialami seseorang. Hei, ingat tidak? Bahkan seorang sahabat sekaliber Umar bin Khaththab pun pernah mengalaminya, ketika Rasulullah saw wafat. Hmm, tapi aku memang sungguh tak mengerti. Dan debat panjang antara aku dan Ludi sekali lagi membuatku berpikir, benarkah aku suka hujan?

“Mbak, menurutmu, aku suka hujan, nggak?” tanyaku pada seorang saudari yang menerobos hujan bersamaku.

“Iya.” jawabnya cepat.

“Kok gitu?” tanyaku lagi.

“Ai kan sering bercerita soal hujan.Lewat SMS-SMS.” katanya.

Ah, ya. Kini aku mengerti. Rasa suka terkadang terlihat bukan dari sebuah kalimat yang lantang diucapkan, tetapi dari tingkah laku. Tindakan-tindakan. Kerja. Bahwa rasa suka atau cinta adalah sebuah kerja nyata. Aku mungkin tak pernah mendeklarasikan rasa sukaku pada hujan. Tapi nyatanya, hujan memang mampu menarik perhatianku. Membuatku ingin bercerita tentangnya. Hei, bahkan aku begitu menikmati hujan yang turun di Bogor. Meski mungkin banyak yang merasa itu hal biasa.

Dan sepertinya, aku memang menyukai hujan. Dengan caraku sendiri.

***
Di Balik 3 Jendela,
6 Desember 2010 pk. 01.27 wib
Lalu, tiba-tiba teringat masa kecil, saat berada di dalam bis. Memandang air hujan yang menetes di sisi jendela. Selalu suka moment itu. Dan ibu duduk di sampingku, menemani perjalananku.

43 responses

  1. akuai said: Dia temanku. Sebenarnya dia tak pernah mengakuinya. Mungkin baginya, lebih baik disebut saudara daripada teman biasa. Sholihat betul, kan?

    (padahal sebenernya ga begitu, tapi yang penting aamiin dulu)aamiin..

  2. akuai said: Jika sudah suka, maka tak boleh terselip benci atau kalimat ketidaksukaan

    gw koreksi..kalau kau menyukai sesuatu, maka mestinya kau bahagia manakala dia datang, dan bukannya mengeluh atau bersungut-sungut, itu menurut gw

  3. Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang sedang merindu..Aku suka hujan.. krn dia salah satu inspiratorku. Dan karena hujan kita main hujan-hujanan…

  4. armeliarizkyhidayati said: aku juga sukaaaaaaaaaaaaaaa sekaliiiiiiiiiiii😀

    terlihat romantis, yaa ki? :ptrus nulis2 nama di jendela yang berembun deh. Hehe..

  5. yuniezalabella said: Aku suka bunyi hujan yg turun diatas genteng dan diatas atap mobil.

    saat ini yang lebih nyaring terdengar justru suara air hujan yang bersentuhan dengan bebatuan dan aspal🙂

  6. topenkkeren said: aku, selalu bahagia saat hujan turun karena kubisa mengingatmu untukku sendiri..

    aku selalu bahagia saat hujan turun. Tanpa perlu mengingatmu😀

  7. mfanies said: Tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting airnya turun tidak terkira…(lanjutin sisanya)mas tiarrahman pernah posting list lagu2 hujan sampe 14 lagu….banyak😀

    iya betul. Tapi masih kalah jauh sama lagu2 cintrong. Hehe..

  8. akuai said: Lalu, tiba-tiba teringat masa kecil, saat berada di dalam bis. Memandang air hujan yang menetes di sisi jendela. Selalu suka moment itu. Dan ibu duduk di sampingku, menemani perjalananku.

    janji jangan sedih yaa..😀

  9. uchiha17 said: Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang sedang merindu..Aku suka hujan.. krn dia salah satu inspiratorku. Dan karena hujan kita main hujan-hujanan…

    lagu apa yaa? Ga terdengar. Atau aku yang tak sedang merindu? :p

  10. ukhuwahkita said: hujan…selalu ada keberkahan didalamnya…dan memang selalu ada romantisme yang layak dikenang ketika hujan datang…..merindukan masa lalu saat hujan datang…hehehe…

    ihiyy.. Kenangan apa tuh? :Dbukan saat kita foto2 saat turun hujan kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s