Ibuku Nggak Punya HP

Ibuku Nggak Punya HP. Sebenarnya pernah punya. Tapi, sepertinya hanya berumur kurang dari tiga bulan dalam genggamannya. Bukan karena HP tersebut hilang atau dijambret orang. Yang hilang justru HP milikku (hadeuh!). Mula-mula hanya meminjam HP ibuku. Mengganti simcard dengan alasan banyak pesan penting untukku. Atau sesekali meminta pulsa. Kali ini demi alasan harus men-jarkom.

Ibuku Nggak Punya HP. O, ya, ralat. Sebenarnya pernah punya. Tapi lantas aku menjadikannya seolah milik sendiri (hwaa, maafkan aku, bu!). Hei, tapi ibuku nggak marah. Dulu-dulu juga nggak punya HP. Jadi, ketika dering panggilan telepon atau SMS tak lagi menyapanya, ibuku tak merasa kehilangan. Masih ada telepon rumah. Sepertinya, meski tak fleksibel dibawa ke manapun juga, ibuku lebih akrab dengannya.

Aku bersyukur karena ibuku nggak punya HP. Ya, ya, dulu sempat punya. Sebentar. Eh, tapi aku bersyukur bukan karena HP-nya kemudian jadi milikku (untuk itu juga sih, hayah…). Aku bersyukur karena aku tak perlu cemburu hanya gara2 ibuku lebih asyik bercengkerama dengan HP dibandingkan dengan keluargaku. Masakan ibuku tak jadi gosong hanya karena sebentar-sebentar harus cek notification facebook. Hohoho.. Semakin bersyukurlah karena ibuku nggak punya akun facebook (bukan hanya karena dulu belum demam facebook, tapi HP ibuku juga jadul pisan euy! Nggak bisa akses internet, hihi!).

Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Nggak punya HP. Nggak punya akun FB, twitter, apalagi MP. Gaptek banget deh soal internet. Tak masalah. Aku tetap bangga padanya. Pada ibuku.

***
Ruang Tengah,
22 Desember 2010 pk. 09.33 wib
Ngempi sambil nyuci, hoho..
(Nak, jika suatu hari kau membaca jurnal ini, kuharap kau sudah mengerti bahwa ummi-mu ini seorang penulis yang multitasking ^o^)

30 responses

  1. dhaimasrani said: Bukan begitu kalimatnya Ai, tapi begini :Mama saya punya Hp, tapi gak megang Hp.Hp mama saya pegang karena saya gak punya Hp.Jadi kesimpulannya : Ai yang gak punya Hp

    hahaha… Kesimpulan yg bagus sekali! Tapi sy susah revisi jurnal lagi neh, mas hai. Jadi terima aja redaksional yg udah saya buat yaa!😀

  2. miftamifta said: Beruntungnya kita yg punya Ibu ga pernah punya hape mbk:-)Hehe sms apalagi,malah gak bisa

    iyaa mba mift. Ibuku juga sebenernya ga terlalu jago dalam kirim2 sms. Kayaknya dulu cuma mupeng karena anak2nya punya hp tapi ibuku nggak punya. Tapi tetep aja kalo nelpon mah pake telepon rumah :D*moga anak kita nanti tetap bersyukur meski ibunya punya HP, hehe..

  3. nitafebri said: samaan ibuku juga gak butuh HPudah ada telp rumah..

    iyaa.. kalo ada apa2 langsung telepon. kadang untuk memastikan ke tetangga di sebelah ada di rumah atau nggak juga nelepon. hoho.. :p

  4. langkah88 said: mamahku punya hape.. Dan sering nelpon.. Akunya aja yang jarang nelpon… *jd anak ga insaf2..

    ehheeheh… paling enak memang kalo ditelepon sama mama..pulsa ga berkurang, rasa kangen pun hilang ^___^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s