Menjejak Borneo. Kapan?

saat SD dulu..
Borneo adalah sebuah kata asing. Mana aku tahu kalau Borneo adalah Kalimantan. Nyatanya, memang Kalimantan lebih familiar di telingaku. Namanya hadir di buku pelajaran IPS sejak kelas.. kelas… Emm, entahlah. aku lupa . Maka, kesanku pada Borneo (atau kalimantan) adalah sebuah pulau besar dengan bentuknya yang unik (jika dilihat dari peta) seta memiliki kebudayaan yang menarik: suku dayak, mandau, tarian2 (yang, maaf, aku juga sudah lupa namanya, hehe).

saat SMP dulu..
Borneo adalah sebuah pulau yang menjadi tempat tinggal sementara om-ku (adik ayah). Ia dimutasi ke daerah Berau. Akhirnya aku tahu bahwa Borneo adalah Kalimantan. Haha,, telat beut dah! Belum ada obsesi untuk mengunjungi Kalimantan. Hanya merasa, sepertinya asyik juga jika bisa “jalan-jalan” ke luar pulau jawa. Aiih,, lalu kemudian baru sadar bahwa ternyata ayahku pernah ke sana. Hoho..

saat SMA dulu..
Borneo adalah pulau yang hampir tak pernah kubicarakan. Lebih sering ngomongin Jepang kayaknya. Haha.. Sebenernya bibit2 japan freak itu udah sejak SMP. Tapi trus keinginan untuk bisa ke Jepang baru lahir pas berseragam putih abu-abu.

saat masih jadi mahasiswa dulu..
(aiiih, gayanya! padahal mah baru ganti status baru beberapa hari ini, khekhe..)
Borneo adalah pulau yang harus kukunjungi. Ingin sekali menjejakkan kaki di sana. Merasakan udara di hutan hujan tropisnya, melihat langsung orang utan atau mungkin bekantan yang bergerak dari satu pohon ke pohon yang lain. Ah, rasanya setiap anak Biologi yang senang ke lapangan punya keinginan yang sama sepertiku.

saat itu harusnya aku berduka, 12 Oktober 2008..
Borneo terasa begitu dekat. Seorang saudara yang sedang berada di Kalimantan meneleponku. Seingatku, dia sama sekali tak bertanya tentang kapan dan di mana ibuku dikebumikan. Dia justru menghiburku (atau cuma mau pamer yaa,? hihi..). Katanya, “Ai, di sini banyak elang loh! Sekarang ada yang lagi terbang di atas kepala ane neh..” Entahlah. redaksionalnya agak lupa. Tapi dia sukses membuatku mupeng. Huh! Dasar! Tapi jazakallah khairan yaa, Mail )

saat Borneo mulai memanggil..
Borneo kemudian menyapaku. Awalnya datang dari Kalimantan Timur. Sebuah perusahaan bernama PT Rea Kaltim menawarkan proyek penelitian di sana. (belakangan baru tau kalo mas haitami kerja di sana. hoho..). Ia hadir di saat aku belum memiliki tema untuk penelitianku. Waktunya cukup tepat, tapi sebenarnya aku masih punya kontrak “kerja” sebagai angota dewan. Tsaaah… Maka, setelah menimbang2, ternyata pergi ke Borneo hanya euforia sesaat. Sedih, tapi harus bisa berkata “I will let U go, my Borneo..

Borneo datang lagi. Kini datang dari arah selatan. Waktu kedatangannya tak terlalu jauh dari tawaran pertama. Ada sebuah proyek AMDAL yang bisa dijadikan sebagai penelitian juga. Hmm.. menarik. Sungguh menarik. Tapi lagi-lagi.. aku tak bisa bergabung dalam rombongan yang melakukan ekspedisi di KalSel. Selain karena waktu yang tak kunjung tepat, medan yang harus ditempuh kurang bersahabat denganku yang bergender perempuan ini. Hoho.. Ya sudahlah..

saat itu sore hari, 29 Desember 2009…
Aku masih berharap pada Borneo. Berharap ada penelitian atau proyek yang bisa mengantarkanku ke Borneo. Secara gratis. (Jiah, intinya si Ai ini ga modal, sodara2! ). Maklum lah.. Ke Kalimantan kan butuh duit. Kantong mahasiswa ga akan cukup lah untuk backpacking ke sana. Maka, satu2-nya jalan adalah memanfaatkan proyek yang ada.

Tapi ternyata yang kemudian datang menyapa selanjutnya bukan sebuah proyek penelitian. Ada sebuah tawaran mengajar di Bontang, KalTim. (ternyata beberapa sobat MP-ku juga kerja di sana: Om Iqbal, Mba Lani, Mba Dinda). Sayangnya, karena saat itu Mr. Nou70 sedang tak ingin diganggu alias setiap SMS yang masuk tak bisa dibaca, maka info itu terlambat kuperoleh. Baru di hari terakhir pendaftaran aku baru mengirim CV. Nekat juga sih.. Karena saat itu aku belum mulia penelitian. Hingga akhirnya sebuah balasan email mengabarkan bahwa posisi pengajar telah terisi. Hyaaa…

Saat Balairung terasa sulit digapai..
Borneo agaknya bisa menjadi penyemangatku. Inginnya, aku tanamkan dalam diri bahwa tak boleh ke Borneo sebelum menjejak Balairung. Maka, rumus 3B kemudian dibuat. Balairung-Baluran-Borneo. (tapi akhirnya formasi berubah, malah ke Baluran dulu neh, hehe..). Hmm,,, kemudian menyadari bahwa aku tak semenggebu dulu untuk ke Borneo. Tetap ingin ke Borneo, tapi tidak terlalu.. Ah, mungkin karena hati ini beberapa kali dipermainkannya. Halah..

Saat Borneo kembali memanggil..
(bersambung, udah kepanjangan neh tulisan. xixi.. tunggu lanjutannya yaa! )

55 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s