Perkenalkan, Aku Si Penghitung Untung-Rugi


“Ibu, apakah aku ini egois?”

“Mengapa kau tiba-tiba menanyakannya, Nak?”

“Entahlah.. Aku hanya merasa belum bisa bermanfaat bagi orang lain..”

“Kadang, kita akan merasa sangat sedih, menyesal, ketika telah berbuat kesalahan dan mengecewakan orang lain. Itu wajar, Nak. Tapi janganlah hal tersebut membuatmu surut langkah. Menjadi lemah dan menganggap dirimu tak berguna. Setan teramat bahagia melihatmu terpuruk. Selesaikan masalahmu, lalu lupakan. Jika sulit, biarkan saja masa lalu itu membersamaimu. membiarkannya sama saja memberikan kesempatan masa lalu untuk hilang secara perlahan. Jangan bersedih, Nak. Ibu suka melihat senyum di wajahmu.”

“Ibu, mengapa kau begitu mengerti diriku?”

“Tidak, Nak. Allah lebih mengerti dirimu. Ibumu ini hanya sedikit membaca apa yang kau rasa, dari gurat kegelisahan di wajahmu.”

“Ibu…. Atau mungkin, aku ini si penghitung untung rugi?
Aku melakukan apa-apa yang kupikir menguntungkan bagiku. Hanya untukku. Tak peduli bagaimana persaan orang lain. Tak tertarik atas sesuatu yang tidak menguntungkanku. Tak peduli jika ternyata akan ada efek dari keputusanku melakukan semua itu.”

“Kali ini, biarlah hatimu yang menjawabnya, Nak.”

foto dari sini

16 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s