Aku, Kau, dan Gorengan

“Gorengan itu tak baik, Ai..”

Begitulah pesan yang sering hadir. Sebuah nasihat bahwa mengonsumsi gorengan itu tidak baik. Sesekali makan gorengan mungkin tak mengapa. Tapi kalau terlalu sering dapat berefek buruk. Begitulah, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Maka, yang awalnya tak suka dengan banyaknya minyak yang belum tiris pun kini terbiasa. Pelan tapi pasti, efek yang kecil pun berubah menjadi besar.

Kau pun mungkin pernah merasakannya. Bahwa seringkali, sebuah nasihat tak langsung dipatuhi mengingat kita belum mengalaminya. Dan aku termasuk si bebal itu. Hampir sepekan ini, gorengan menjadi menu sarapan pagi. Seolah tak ada pilihan lain. Lontong plus bakwan. Atau tahu. Atau risol.

Terkadang, camilan di waktu sore atau malam gorengan juga. Hadeuuh.. Parah. Murah meriah sih. Sweet corn dengan harga Rp 8000 cuma dapat segelas kecil. Kalo gorengan kan bisa dapat banyak *perhitungan banget deh, hoho* Maka, tepat di hari ke tujuh, saat sore dan malam hari gorengan mampu menghentikan orkestra di perutku, tanda-tanda itu mulai muncul ke permukaan. Tenggorokan mulai sakit. Sebentar lagi radang kan datang.

Dan akupun mengingat kembali nasihat itu. Terlambat? Tentu saja. Tapi aku mencoba meredamnya. Banyak minum air putih, menambah jumlah butir habbatussauda yang harus ditelan, olahraga… (Emm, untuk olahraga sepertinya belum terlaksana, hoho…). Yang pasti, tak ada kata terlambat untuk sebuah perubahan. Maka, yang harus dilakukan kemudian adalah konsisten dengan langkah prefentif yang dipilih. Sabar dan menahan diri untuk nggak makan gorengan dulu. Sedikit sedikit lama lama kan jadi bukit. Mungkin nantinya aku dapat dengan mudah menghindarinya.

Setidaknya, aku telah mencobanya. Di hari ke-delapan saat membeli gorengan di pinggir jalan.

“Ai, mau gorengan apa?” tanya Teni, kawan seperjalananku.

“Lontong aja, Ten..” jawabku. Meski sebenarnya bakwan itu menggoda seleraku.

“Yakin? Bakwannya nggak?” tanya Teni lagi, meyakinkanku.

“Iya, nggak usah..” jawabku mantab. Tak boleh ragu lagi. Ini demi kesehatanku. Karena radang itu menyakitkan.

Duhai gorengan, ada baiknya kita berpisah dulu. Nanti jika kesehatanku pulih, bolehlah kita bersua kembali. Tapi mungkin juga aku akan terbiasa. Dan meninggalkanmu. Mungkin akan makan kue bolu atau pukis saja. Jangan sedih yaa… Hihi.

***
Kenanga,
12 Maret 2011 pk. 09.22 wib
Sesungguhnya di dalam Habbatussauda (jintan hitam) terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit, kecuali kematian. -HR Bukhari & Muslim

26 responses

  1. kalau buatan sendiri gak apa2 kok,mbak yang dapet hadiah QN ala Tobie.btw,molen juga gorengan,tapi bisa kok gak jadi gorengan. tambahin aja susu kental manis coklat dan ceres. jadinya,molen coklat. ^^

  2. akuai said: Sesungguhnya di dalam Habbatussauda (jintan hitam) terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit, kecuali kematian. -HR Bukhari & Muslim

    aku udah minum ini….

  3. aishachan said: sekarang direbus aja gorengannya *loh*jelly aja ka,,masih murah hehe

    ide bagus chan..:Dkalo mau cemilan murah, cemilin daun singkong tetangga sebelah aja…gratis meriah…:D*ngebayangin ai ngemil singkong langsung dari puunnya…:))

  4. Ganti dengan rebusan ai…singkong rebus, pisang rebus dan jagung rebus. tapi gak ada bakwan rebus ya? hehe….aku juga suka banget bakwan….gimana kalo bikin sendiri…Ayo jaga kesehatan…bookfair masih berjalan…hehehe..ganbatte ai kun….;-)

  5. Saya suka siy gorengan *terutama pisang goreng yg lembek dan manis dan tahu :D*, tapi ga hobby untuk membeli. Klo gorengan tersedia, ya saya cobain, heheheklo pun beli, paling cuma kuat ngabisin 2, ga kuat sama minyaknya.klo evi, agak males beli gorengan, soalnya tiap kali liat minyak di penggorengannya, jadi ga nafsu makannya, apalagi klo warnanya udah item banget. Apalagi klo inget ada tukang gorengan yg sengaja masukin plastik (plastik kan polimer) ke dalam minyak itu, biar gorengannya lebih enak —–> bisa menyebabkan kanker. Wah, pasti ga kepengen beli.

  6. hehehe..jadi ingat waktu-waktu kita makan gorengan bersama :Dkalo gw tenggorokannya emang sensi i, kalo terlalu banyak langsung panas dalam malemnya, ga pernah sampai radang sih, tergantung minyak yang digunakan, kalo gorengan yang bikin sendiri bisa lebih banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s