Perkenalkan, Aku Jejak di Atas Pasir


“Tap.. Tap.. Tap..”

“Itu suara langkah kakimu?”

“Bukan..”

“Lantas?”

“Aku hanya menirukan suara langkah kaki mereka. Yang meninggalkanku di atas pasir.”

“Jadi, kau…”

“Perkenalkan, aku jejak di atas pasir.”

“Hmm.. Sepertinya aku mengenalmu.”

“Benarkah? Apa yang kau ketahui dariku?”

“Kau tak abadi.”

“Yaa, begitulah. Aku dapat dengan mudah hilang tersapu ombak.”

“Tapi kadang tak sesederhana itu.”

“Maksudmu?”

“Kadang, sekali sapuan ombak saja tak cukup. Ada jejak-jejak yang masih membekas meski terkena ombak berkali-kali. Sulit sekali hilang.”

“Tapi seperti yang kau katakan sebelumnya, tetap saja jejak yang tertinggal itu tak kan abadi.”

“Yaa, kau benar! Akan ada suatu mekanisme yang menghapusnya. Disengaja ataupun tidak.”

.
.
.

“Hei..”

“Apa?”

“Kau tak ingin melanjutkan perjalananmu?”

“Emm.. Belum. Memangnya kenapa?”

“Aku hanya khawatir.. Langkah kakimu.. Meninggalkan jejak yang mendalam di atas pasir ini. Sulit terhapus. Eeh, kau mengerti, kan?”

***
Di Balik 3 Jendela,
04 April 2011, pk. 23.16 wib
Mendapati jejak2ku kurang dari setahun yang lalu. OMR! (>.<)>

28 responses

  1. @pemikirulungbukan ga bisa ilang, tapi sulit terhapus. kan udah dibilang, tak ada jejak yang abadi. :D@moestoainyuk, marii!@mylathiefhehe, kurang lengkap, maksudnya jejak di atas pasir pantai.Kalo pasirnya di gurun, maka anginlah yg akan menghapusnya. Sederhana saja.@vivfeesilakan, vi ;)@azizrizkiiya, begitu ki :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s