Proses

Asri mengamati Difi yang memasuki area parkir. Dari lantai dua Coffee Shop itu, ada banyak pemandangan yang menarik untuk diamati. Pengunjung wanita yang kesulitan memarkirkan motornya. Seorang ayah yang menggandeng penuh kasih sayang putri kecilnya. Muda-mudi berjalan bersama ke luar Coffee Shop. Tertawa. Terkadang saling mendorong. Sayang sekali pertemuan dua sahabat itu berlangsung siang hari. Padahal jika malam menjelang, kerlap kerlip lampu jalanan dan kendaraan bermotor akan menciptakan kombinasi warna yang cantik.

“Ciee,, sekarang udah ada yang nganter-jemput neh..?!” goda Asri ketika Difi sudah naik ke lantai dua. Kini mereka duduk berhadapan. Difi meletakkan helm di kursi. “Iyaa, donk! Makanya, kapan kamu nyusul?” kata Difi. Asri yang tak bisa membalas lagi cuma bisa nyengir. Dasar kompor!

Tak terasa satu jam berlalu. Obrolan seputar bisnis yang sedang mereka geluti pun dicukupkan. Berganti tema yang tak membuat dahi berkerut.

“Kira-kira kapan yaa aku dapet SIM?” tanya Asri sambil mengaduk Frappuccino yang tinggal sedikit.

“Emangnya blum dikasih izin sama Bapakmu?” balas Difi cepat.

“Prosesnya juga susah yaa ternyata!”
Asri tak terlalu menangkap ucapan Difi. Gadis itu masih melanjutkan ceritanya.

“Iyaa, banyak yang harus diurus. Apalagi kalo keinginan orang tua kadang beda..”
Difi menjelaskan dengan semangat.

“Iyaa, bener bangeet.. Sebel deh! Bapakku sebenernya nggak masalah kalau harus ngeluarin biaya yang besar. Duh, tapi kan bukan biaya yang jadi masalah utamanya..”
tambah Asri. Semakin antusias.

“Iyaa, iyaa, aku ngerti. Trus kamu udah istikharah?”
tanya Difi.

“Hah? Emang perlu yaa?”
balas Asri heran.

“Hadeuh… Kamu ini gimana sih? Istikharah itu bisa memantabkan hati kamu, As. Biar proses dengannya berjalan lancar. Aih,, jadi siapakah calon pendampingmu itu? Kasih tahu aku donk?! Heheu..” Wajah Difi yang awalnya serius pun mulai berubah. Senyam-senyum nggak jelas. Alisnya naik turun.

“Eeh?” Asri mulai menangkap ada sesuatu yang salah dengan sahabatnya. “Fi, yang aku maksud itu proses pembuatan SIM-ku di kantor polisi loh!”

Pesan: Jika ingin mengganti topik pembicaraan, mungkin sebaiknya beritahu terlebih dahulu lawan bicaramu. Terlebih jika ia pengantin baru. Wkwk..

***
Ruang Tengah,
05 April 2011 pk. 22.30 wib
Awas, nanti terkatalisasi! ^0^

41 responses

  1. akuai said: alhamdulillah, udah.. Sekitar 1,5 tahun yang lalu. Kamu punya juga ga?

    hmhm,, haduh , jadi inget pesan penulis diatas ,, begini katanya :”Jika ingin mengganti topik pembicaraan, mungkin sebaiknya beritahu terlebih dahulu lawan bicaramu…”😀

  2. akuai said: baiklah, kutekankan. Aku sedang membahas tentang Surat Izin Mengemudi – SIM. Eeh, kamu berpikir yang sama kan?😀

    kukira, kk sudah mendapatkan Surat Izin M*****H.. haha😛

  3. nisachem05 said: aku SIM dr polisi uda punya ai..tp ijin mengemudi dr ortu lg dicabut..*kembali jd angkoters..^^

    eeh? Kenapa? Pernah kecelakaan yaa? Waktu awal2 bawa motor aku juga pernah ga dapet izin ayah gegara jatoh dan motornya rusak lumayan parah :p

  4. eyeoflight said: Ternyata urusan SIM bisa membingungkan ya?

    dulu, waktu bikin SIM, ayah pengennya sehari jadi. Gapapa deh ngluarin banyak uang. Tapi bisa efisien dalam hal waktu. Kalo ngurus sendiri kan repot. Dan seringnya tes tertulis ga lolos :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s