Saranku, Patahkan Saja, Dik!

Aku butuh camilan. Rasanya ada yang kurang jika malam ini tak ada camilan yang menemaniku menulis. Biasanya mereka setia menemani. Tapi tadi sore sudah kuhabiskan. Persediaanku tinggal sebungkus permen Yuppi. Cukuplah satu menit untuk mengunyah2 permen itu. Tidak. Aku butuh yang lain.

Pukul 9 malam. Gang sempit rumahku mulai sepi. Beberapa warung yang menjual kebutuhan sehari-hari juga sudah tutup. Tapi ada satu warung favorit. Yang masih setia menunggu pembeli hingga pukul 11 malam nanti. Di sanalah aku membeli beberapa camilan, termasuk permen Yuppi. Hoho..

(hei, aku baru mau masuk ke inti cerita.. tetaplah membaca tulisanku yaa! ^^v)

Aku masih melihat-lihat makanan yang bisa kubeli, hingga kemudian seorang bocah kecil berusia sekitar 9 tahun meminta sesuatu pada si ibu penjaga warung. “Mau nesle sebungkus” katanya. Sesungguhnya aku tak terlalu jelas apa yang anak itu minta. Nesle? Sepertinya bukan? Mungkinkah maksudnya susu nestle?

Dan akhirnya kutemukan jawabannya. Saat mata ini tak lagi melirik ke arah makanan2 yang gurih. Saat mata ini justru tertarik ke arah apa yang digenggam sang bocah. Bungkusan itu. Bungkusan yang kukira susu itu. Ternyata sekotak rokok.

Hei, Dik, kok bisa2-nya sih bapakmu menyuruhmu membeli racun itu? Tidakkah ia malu? Racun itu yang membuat kau dan ibumu terbatuk-batuk karena asap yang dikeluarkannya. Racun itu yang seharusnya tak ia tularkan kepada keluarganya. Meski hanya dengan merokok di depanmu. Meski hanya dengan menyuruhmu membeli barang tak berguna itu.

Sudahlah. Aku tak bisa apa-apa. Tak sempat bertanya-tanya padanya. Mataku kini kembali tertuju pada makanan yang tergantung di warung itu. beli apa yaa?

Dan lagi. Jika tadi seorang bocah laki-laki. Kini seorang bocah perempuan memasuki warung itu. Tampak riang. Tak ada raut lelah apalagi mengantuk meski kini sudah larut malam (tentu bagi anak seumurannya. Kira-kira usianya 5 tahun.) Bocah yang manis itu pastilah anak yang penurut. Mau saja disuruh-suruh.

“Bu.. samsunya satu batang.” Kata bocah itu. suara cemprengnya kembali mengalihkan perhatianku yang kini mengamati minuman dingin di dalam cooler. Oh, tidak! Kenapa kau juga yang harus membeli racun itu, Dik? Sedih aku melihatmu memegang batang racun itu.

“Hati-hati pegangnya.. awas patah!” kata ibu penjaga warung itu. Dan bocah itu memang benar-benar anak yang penurut. Hati-hati, dipegangnya rokok itu. Melewatiku yang berbisik pelan namun meyakinkannya. “Patahkan saja, Dik!”

***
Kamarku (yang selalu) Berantakan
17 April 2011 pk. 21.34 wib
Bersyukur karena ayah tak pernah memintaku membeli rokok.

44 responses

  1. akuai said: Tapi ada satu warung favorit. Yang masih setia menunggu pembeli hingga pukul 11 malam nanti.

    Di deket kosan aku sampe jam 2 an… Pernah bangun kelaparan, ga bisa tidur lagi, belis susu dancow jam 2 an, hehehe

  2. azizrizki said: selalu suka style tulisannya aii do hate smokers (>_<)

    hehe, makasih kiki. selalu suka komenmu yang memujiku. halah :piyaa, ketika aku mengetahui bahwa seseorang perokok, sekeren apapun dia, maka hilang sudah kerennya itu😀

  3. firstychrysant said: Di deket kosan aku sampe jam 2 an… Pernah bangun kelaparan, ga bisa tidur lagi, belis susu dancow jam 2 an, hehehe

    ga berani ke luar jam segitu X(

  4. rifzahra said: Kamar berantakan…ciri org sanguin yak? Hehehe :p

    yayaya, aku kayaknya emang sanguin banget.. karena yang berantakan itu akan melejitkan inspirasi :))

  5. srisariningdiyah said: mengerikan

    bangeet.. lah, parahnya ini dalam satu malam ada 2 bocah. entah seharian itu ada berapa anaka yang diajarkan bapaknya (secara ga langsung) untuk mencintai rokok.

  6. mylathief said: janganlah kau membuka sendiri apa2 yg sdh Allah tutupiha ha

    oh, jadi kamarku yang berantakan tuh aib yaa? aku sih ga masalah kalo orang lain tahu. pun kurasa, berantakan itu perihal suka atau tidak suka. heee…

  7. lyakeyen said: rrrrracuuuunnn…..*bapaknya tega*

    betul… pokoknya yang harus disalahkan pertama kali tu bapaknya. anank ga boleh disalahkan..*btw, sebenernya ga pasti juga li dia disuruh bapaknya atau siapa. hehehe

  8. akuai said: betul… pokoknya yang harus disalahkan pertama kali tu bapaknya. anank ga boleh disalahkan..*btw, sebenernya ga pasti juga li dia disuruh bapaknya atau siapa. hehehe

    iya siyh..bisa juga ibunya *loh lebih parah*

  9. lyakeyen said: iya siyh..bisa juga ibunya *loh lebih parah*

    dan jangan sampe juga anaknya yang konsumsi. tidaaaakkk!soalnya pas aku suruh patahin rokoknya itu dia malah nolak gitu..*yaiyalah..

  10. larukufever said: iya ka Ai, aku juga gak suka banget perokok!alhamdulillah juga di keluarga gak ada yang perokok, hehemungkin gak suka karena gak terbiasa ya dan jangan sampe deh jadi terbiasa!😀

    mantaaaaab….! lanjutkan shel…! (maksudnya cari suami yang bukan perokok juga, hoho..) ^^b

  11. akuai said: emang kalo bilang kamar gw berantakan tuh aib yaa?

    berhubung ini di blog yang diset everyone, menurut gw ga perlu aja, kecuali kalo dalam rangka ngobrol berdua gw doangini menurut gw loh ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s