Tiga Menit Yang Menentukan

“Dek, dulu tuh yang bikin Mas merinding justru bukan saat mengucap qabul di depan bapakmu.” kata Mas Isa sembari menyerahkan helm padaku. Kami baru saja menyaksikan akad nikah teman kampusku. Undangan laki-laki dan perempuan dipisah sehingga kami baru bisa bertemu kembali di parkiran masjid.

“Trus pas kapan, donk?” tanyaku penasaran. Satu tahun sudah usia pernikahan kami. Tapi sepertinya baru kali ini Mas Isa bercerita tentang perasaannya ketika akad pernikahan kami itu. Aku tak menyangka, suasana akad nikah yang sakral dan penuh haru ternyata mampu mengembalikan kenangan suamiku.

“Yaa, kayak tadi itu. Pas Ajeng memohon restu ke orangtuanya. Apalagi dulu kan kamu pake acara nangis segala. Mas memang nggak lihat wajah kamu waktu itu, tapi mendengar suaramu yang berat dan terbata-bata itu bikin Mas merinding,” jawab Mas Isa.

Aku tak suka menangis. Saat membaca permohonan restu pada bapak pun sebenarnya aku tak menangis hingga berderai airmata. Hanya mata yang berkaca-kaca. Tapi tentu saja diselimuti rasa haru yang tak terkira. Sebentar lagi, bapak akan melepas gadis semata wayangnya. Mempercayakan kehidupanku selanjutnya pada seorang pria yang baru kukenal selama tiga bulan. Aku pun ikut hanyut dalam nostalgia pernikahan kami yang baru seumur jagung.

“Mas semakin diingatkan. Bukan hanya status Mas yang akan berganti. Tapi juga ada tanggung jawab yang bertambah. Seiring restu yang dihaturkan pada bapakmu itu, Dek.” lanjut Mas Isa di sela-sela waktu menunggu lampu merah berganti warna. Aku masih setia mendengarkan dari balik punggungnya.

Tiga menit prosesi ijab qabul itu berlangsung. Bahkan Mas Isa hanya membutuhkan waktu sebelas detik untuk mengucap qabul dan melahirkan kata SAH dari para saksi. Tiga menit itu menentukan segalanya. Perubahan status. Pelepasan tanggung jawab. Awal kehidupan yang akan menambah peran yang harus dilakoni oleh kami berdua. Dan tentu saja sebuah mimpi yang akhirnya terwujudkan.

Semoga tiga menit itu akan selalu terkenang. Hingga takkan pernah terucap kata pisah. Bahagia hingga kembali bertemu di surga-Nya. Aamiin.

***
Kamar Imaji,
23 April 2011 pk. 17.30 wib
Efek selepas menghadiri akad nikah neh…😀

54 responses

  1. akuai said: waktu nikahan abang juga barengan sama meninggalnya nenek. jadi ayah digantiin sama abang. sedih juga😦

    maksudnya walinya digantiin sama abangku yang lain :p*khawatir kalimatnya membingungnkan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s