book-a-lova | April ’11

Dalam sepucuk surat kepada putrinya, F. Scott Fitzgerald menulis: “Gaya yang bagus tak akan terbentuk jika kamu tidak menyerapnya dari setengah lusin pengarang kelas atas setiap tahunnya.” Dan ingat, kamu membaca untuk menulis.

Kutipan itu kuambil dari salah satu bahasan dalam Buku Sakti Menulis Fiksi. Seperti yang juga pernah kudengar dari para penulis, bahwa jodohnya menulis itu membaca. Jika ingin menghasilkan tulisan yang bagus, maka harus rajin membaca. Sepakat kan? Aku pun sering menemukan banyak temanku yang hobi membaca, ketika menuangkan idenya ke dalam tulisan, maka tulisannya tersebut akan terlihat indah

Bulan ini agak sulit membagi waktu antara menulis dan membaca (kau tidak menganggapku sedang beralasan kan? Hehe..). Aku sih inginnya seimbang. Banyak baca, banyak nulis juga. Tapi ternyata nggak mudah yaa? Pertengahan bulan pertama lebih banyak kuhabiskan untuk menulis. Baru setelah itu larut dalam kegiatan membaca. tapi masih sempat nulis sih.. Nulis yang ringan-ringan. (Eeh? Bukankah selalu ringan? Hadeeuh.. )

Berhubung aku sedang ingin mengasah kemampuanku dalam menulis fiksi, maka bulan ini aku lebih banyak membaca karya-karya fiksi. Sebenarnya masih berat untuk membaca novel. Tapi kupaksakan diri untuk membacanya. Secara runut dan tidak tergesa-gesa. Lagipula stok novel (pinjaman) di rumah masih numpuk euy! Bulan ini juga bisa melahap dua kumcer. Horeee… Kangen. Udah lama nggak baca kumcer.. Sedang ingin bikin kumcer juga sih. Jadi bisa belajar dari buku itu.

Baiklah… inilah daftar buku yang kubaca selama bulan April ini. Masih sedikiiiit… ini juga udah ngos-ngosan di akhir bulan. Tapi setidaknya target minimal jumlah buku yang dibaca sama dengan yang bulan lalu tercapai juga. Sila sila dibaca.

  1. Ayahku (bukan) Pembohong – Tere Liye: “Sebaiknya jangan baca novel dulu ketika sedang sibuk penelitian.” Itulah bujukan mautku pada seorang adek kelas yang memamerkan novel itu. Maka, novel yang baru saja dibelinya itu dengan cepat berpindah tangan. hoho.. kupikir aku takkan menangis membaca novel ini, tapi nyatanya pertahananku jebol juga di cerita-cerita akhir. Seperti biasa, Tere Liye menjelaskan sebuah cerita dengan begitu sederhana. Tapi ia berhasil mengaduk emosi pembaca bahkan jauh melewati apa yang diceritakannya.
  2. Aku Ingin Menjadi Istrimu – Asma Nadia & Biru Laut: Ternyata sebelumnya aku udah pernah baca beberapa cerpen yang ada di kumcer ini. Tapi tetap aja dibaca ulang. Habis dibaca dalam waktu sehari. Dan tulisanku yang berjudul “Tiga Menit Yang Menentukan” sepertinya memang terinspirasi dari kumcer ini.
  3. Senja Bersama Rosie – Darwis Darwis: “Aku tak mengerti. Apakah Tere Liye lelah bercerita atau tak ingin meneruskan kekejaman takdir yang membelenggu Tegar dan Rosie. Yang pasti, aku kecewa dengan endingnya. Urusannya tak sesederhana itu, Bung!” Itulah pesan yang kukirim via SMS kepada temanku sesaat setelah merampungkan novel ini. Membuat aku melupakan paragraf pembukanya yang menyadarkan, serta pesan-pesan kehidupan yang sderhana namun luar biasa (eeh, tapi saat menulis jurnal ini aku malah mengingatnya lagi. Hee..)
  4. 9 Summers 10 Autumns – Iwan Setyawan: suka suka suka suka. Suka dengan gaya penulisnya ketika bercerita. Dengan alurnya yang santai. Dengan diksinya yang melankolis. Dengan endingnya yang manis sekali…. Aaah. Tapi nggak suka ketika di akhir-akhir sang penulis menceritakan kegiatan merokoknya. Huh! Sungguh bikin ilfeel.. Oya dua novel ini bikin aku mupeng untuk menjejak Gunung Rinjani dan menyapa Danau Segara Anakan. Akhir tahun nanti ikut naik nggak yaa?
  5. Par Avior Par Email – Ifa Avianty & Taufan E. Prast: Ini kumcer yang baru dibeli kemarin malam. Sebuah efek “cuci mata” di Fesbuk (Festival Buku) Depok yang digelar di lantai dasar Depok Town Square (Detos) hingga 2 Mei nanti. Ah,, knapa selalu tergoda dengan buku-buku murah yaa? Huhu. Btw, membaca kumcer ini menambah pengetahuan tentang gaya penulis dalam menulis cerpen. Ah, tapi Ifa Avianty gayanya sudah khas sekali di sini..
  6. Buku Sakti Menulis Fiksi – Tim Annida: Eeh, ini sejak kapan bacanya yaa? Baru selesai dibaca malam ini. Buku ini bisa dibilang lengkap. Menjawab Tanya yang bergelayut dalam pikiran para penulis pemula ketika ingin menulis. Menjelaskan secara runut tentang kenapa harus menulis hingga peluang menulis di beberapa media.
  7. Mantan Kiai NU Meluruskan Ritual-ritual Kiai Ahli Bid’ah Yang Dianggap Sunnah – H. Mahrus Ali: Ini buku pinjaman. Punya adik kelasku di SMA. Salut.. masih kelas X bacaannya kayak gini. Jauhbanget dengan diriku yang bacaannya ga jauh dari komik. Meski judulnya kalau menurutku masuk kategori “ngajak ribut”, tapi isinya bagus juga. Ada contoh-contoh kasus yang kemudian dibahas oleh sang penulis tentang landasan syar’inya. (belum selesaiii.. baru dibaca sekitar 15 %).
  8. Hafalan Shalat Delisa – Tere Liye: Akhirnya kembali melanjutkan novel ini. Inginnya sih diselesaikan bulan April ini. Ternyata belum selesai. Kepincut sama buku yang lain sih. Buku ini sempat dipinjam kakakku. Selesai dibacanya hanya dalam kurun waktu dua hari. Wews.. salut deh sama ibu yang satu ini. Di tengah kesibukan kerjanya, ngurus anak dan juga suami, ternyata masih sempat baca juga. Eliana juga berhasil dilahapnya. Hwaa… aku aja belum baca. Dan ketika main ke rumah, kakakku bilang bahwa ia menangis tersedu saat membaca novel ini. Buku yang sangat bagus. Ah, ternyata aku pun menangis di halaman yang sama dengannya. Jadi semangat untuk menuntaskannya neh..

Hmm.. sebenernya mau cerita tentang komunitas cumi, tapi tulisanku kayaknya udah kepanjangan deh. Yo wes, dicukupkan sahaja. Sampai jumpa di bulan Mei ceria, insyaAllah

20 responses

  1. Hahaha, emangnya waktu lagi sibuk penelitian, ka ai emangnya ga baca novel ka? :pwiy, banyak juga yah ka.Bulan ini aku cuma baca 2 buku. Bidadari-bidadari surga dan Ayahku (bukan) pembohong.Sisanya baca jurnal.

  2. topenkkeren said: banyaaak..senja bersama rosie adalah kisah india versi bang darwis. hw..

    iya kah? Ah, tapi knapa endingnya gitu sih? Mungkin karena banyak kritikan itu makanya daun jatuh endingnya seperti itu yaa?😀

  3. fightforfreedom said: mbak Ai, ini saya baca dari lepi.. tulisannya tanpa paragraf dan spasi lho :)Alangkah lebih baik kalo diperbaiki susunannya.

    hoho, iya pak. Trims masukannya. Sudah menyadarinya. Kemarin tuh jaringannya lagi dudul.. Udah keburu ngantuk untuk ngedit2. Lola pula..

  4. mylathief said: Bnyak tere ly, euy’amelia pun habis dilahap’. Eh? Ini amelia mana?

    Harus diakui, buku karangannya memang bagus2 sih. Makanya mungkin nanti aku pun akan membaca serial anak2 mamak.Eeh, kok amelia? Kan kutulis eliana..😀

  5. indev said: Hahaha, emangnya waktu lagi sibuk penelitian, ka ai emangnya ga baca novel ka? :pwiy, banyak juga yah ka.Bulan ini aku cuma baca 2 buku. Bidadari-bidadari surga dan Ayahku (bukan) pembohong.Sisanya baca jurnal.

    emm, kayaknya sih tetap baca vy. Hoho. Aku pinjam ABP dari Nani. Dia punya 3 novel, jadi kuculik 1 dgn alasan itu. Berhasil. :Dbagus.. Bagus.. Membaca jurnal juga penting n_nb

  6. berry89 said: nomer 8 belum baca sebelumnya? bagus kan?😀

    belum pernah hay.. Hoho. Telat yaa? Gapapa lah.. :pdi awal2 agak kesulitan untuk nerusin critanya. Tapi mulai dapet feelnya pas tsunami itu.

  7. wah, ai mesti nambah satu daftar buku fiksi sebagai koleksi nih. hihi…Pelahap Maut itu para pembantu setia Lord Voldemort, musuh bebuyutan Harry Potter. Ada di buku ke-5, Harry Potter dan Ordo Phoenix.Hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s