[Nogu Story] Sejenak di Kelas IPS

Ruang kelas XI IPS 1.

Hah? Sedang apa aku di ruang ini? IPS? Sejak kapan aku mengajar anak-anak sosial? Pertanyaan2 itu kemudian menguap seketika. Hampir semua murid berseragam batik itu kini sudah mengalihkan fokusnya padaku.

Eeh,, jangan menatapku heran begitu? Apakah tatapan ini yang selalu kalian berikan untuk wajah baru yang memasuki kelas kalian? Mengapa tidak kalian jawab saja salam terbaikku sambil tersenyum bersahabat. Dengan tatapan yang lembut tentunya.

Oh, aku harus bilang apa?

“Ehm.. Sekarang jam pelajaran BTA kan yaa?” kataku mengawali. Agak gaduh. Yang satu bilang bukan. Yang lain mengangguk patuh. Barisan terdepan (yang umumnya diduduki oleh anak2 rajin dan nggak banyak aksi) request supaya nggak usah belajar aja. Bukan karena mereka mulai dihinggapi rasa malas. Tetapi karena ada ulangan sejarah yang harus mereka hadapi setelah jam pelajaran ekonomi ini. Hmm… Dan ada juga yang masih komat-kamit menghafal point2 penting dari bab Revolusi Amerika. Tak peduli dengan kehadiranku.

“Baiklah.. Sambil menunggu kakaknya yang masih dalam perjalanan, kalian belajar sejarah aja dulu. Oke?” kataku (sok) bijak.

Aiih.. Tak terasa 6 tahun berlalu begitu cepat. Aku yang dulu duduk di antara 39 siswa SMA yang lainnya kini duduk di kursi guru. Berada di barisan terdepan yang menghadap mereka. Benar saja. Dari sini semua terlihat jelas. Jadi sepertinya agak berlebihan jika seorang guru dijuluki ‘si mata elang’ (Ini pernah disandang oleh guru SDku, hoho).

Kelas IPS. Aku pernah memiliki angan2 untuk duduk di kelas ini. Selain karena jurusan di PTN yang ingin kuambil setidaknya lebih mudah diraih jika aku belajar ilmu2 sosial, tapi suasana sebagai anak IPS itu kadang tampak begitu menyenangkan. Tak perlu memakai tas ransel dengan beban yang tak wajar. Ada buku paket, LKS, buku tulis untuk catatan, buku tulis untuk latihan, buku coret2an (eh?). Bahkan kadang ada juga guru yang meminta buku untuk PR dibedakan. Bayangkan, satu pelajaran saja kau harus membawa minimal 5 buku. Bayangkan lagi jika pelajaran matematika, fisika, dan kimia dijadwalkan bersama dalam satu hari. Apa kau mau membayangkannya lagi? Bahwa tas berisi buku2 itu harus diletakkan di pundakmu, dibawa ke lantai tiga, dengan badan yang kurus pula. Eeh, kau tidak sedang membayangkanku kan? Haha.

Maka, membaca komik adalah refreshing yang menarik. Imadoki, Dan Detective School, Kungfu Komang, dan sederet komik lainnya menjadi teman di kala jam istirahat tiba. Itupun kalau nggak ada PR. Hyaaa… Tapi tapi tapi.. Aku senang jadi anak IPA. Bakatku sepertinya memang di sini. Jadi kenapa kelas IPS hanyalah angan yang tak perlu diwujudkan karena aku lebih bisa bertahan di zona anak eksakta. Membayangkan bisa ‘bersantai-santai’ seperti anak IPS mungkin hanya satu bentuk refreshing otak yang mengepul dengan rumus dan hafalan.

“Yang penting konsep, Nak!” Ah, kata2 Pak Agusman tiba2 terngiang di kepalaku. Guru Fisika itu tak pernah mengajarkan kami untuk menghafal rumus atau mendapatkan nilai ulangan tinggi. Yang penting kami mampu memperoleh pemahaman yang baik tentang ilmu yang diajarkannya. Tapi tetap saja, setiap kali bertemu, dan ketika Pak Agus menanyakan kabarku, jawaban yang seringkali terlontar adalah, “Saya masih nggak suka sama fisika, Pak. Susaah..”

Ups! Tutornya sudah datang. Aku cao dulu yaa kawanz! ^_^

***
Dari R. Kelas XI IPS 1 sampai R. Avis,
12 Mei 2011 pk. 07.49 wib
Nggak bawa charger. Komen yang masuk dibalasnya nanti2 yaa, insyaAllah n_n

46 responses

  1. aku pernah berkali-kali masuk kelas XII SMA pas masih mahasiswa dulu. Sosialisasi.Ternyata kalau di depan kelas aku bisa ngomong kenceng juga, soalnya harus menang saing di depan anak2 yang rame itu dan jadi guru, harus tau segala ya..kalo lagi di depan mereka, seolah2 aku tau segala :pDalam rangka apa Kak di SMA?Baca cerita kak Ai, aku jadi kangen masa2 SMA. Kangen ngerjain soal2 matematika, fisika, kimia… huhuuu

  2. eeeeh ai jangan sepelekan anak sosial :Paku SMU IPA dan selalu juaraaa😛 preetssketika takdir membawaku di jurusan HI which is IPS mustinya ternyataaaaa aiiiii IPS ituuu susyyeeeeeehtidak ada panduan bagaimana membaca segitu banyak buku dan referensi agar bisa membuat paper dalam satu malam, dan bagaimana bisa menjadi debater yang handal, logic serta ilmiah dalam forumtidak ada rumusnyaaaaaa ituuu bikin oleeenggyaaaajadi tidak ada yang lebih mudah dan keduanya tidak comparablekarena keduanya memiliki pemenuhan kecerdasan tersendiri…

  3. andiahzahroh said: Ternyata kalau di depan kelas aku bisa ngomong kenceng juga, soalnya harus menang saing di depan anak2 yang rame itudan jadi guru, harus tau segala ya..kalo lagi di depan mereka, seolah2 aku tau segala :p

    iyaa… suara harus kenceng sampai ke sudut terbelakang ruang kelas..dulu temenku pernah bilang, kalo ke kelas itu bawa buku yang tebaaal banget. setidaknya bisa memengaruhi psikologis mereka. yang penting sih PD sama jawaban kita😀

  4. andiahzahroh said: Dalam rangka apa Kak di SMA?Baca cerita kak Ai, aku jadi kangen masa2 SMA. Kangen ngerjain soal2 matematika, fisika, kimia… huhuuu

    dalam rangka mengurus bimbel di sma tersebut :Daku juga kangeeen.. terutama pelajaran matematika. tapi kok sekarang malah ga terlalu ngerti sama soal2nya yaa? parah parah!

  5. topenkkeren said: IPS gak senyantai itu juga kali, i.

    kan kata bersantai-santai-nya diberi tanda kutip. pastinya memang ga mudah. tapi ada kalanya rumput tetangga selalu lebih indah😀

  6. mylathief said: Aku gperlu bw buku2 erlangga bnyk2. Slain beberapa memang gpunya, seringnya memang pinjem ke kelas sbelah. Pinjem k anak2 yg rajin..

    eeh… dilarang sebut merk! hoho..jadi dirimu bukan anak rajin, om? ga bawa buku aja bisa pinter gitu yaa… -____-“

  7. emokidonlastevening said: :)) saya dulu masuk IPA gara2 nilai IPS saya lebih jelek dr nilai IPA… terpaksa masuk IPA

    eheheh… sepakat! tapi kalo ada kelas bahasa, kayaknya aku bakal masuk kelas itu deh.. :))

  8. cinderellazty said: eeeeh ai jangan sepelekan anak sosial :Paku SMU IPA dan selalu juaraaa😛 preetssketika takdir membawaku di jurusan HI which is IPS mustinya ternyataaaaa aiiiii IPS ituuu susyyeeeeeeh

    eeeeh… emang di bagian mana yaa aku bilang menyepelekan IPS Nty..?? maaf deh kalo gitu. ga maksud ke sana soalnya.. lah kalo diizinkan, aku juga mau kok jadi anak IPS. hoho..

  9. nanazh said: yah namanya anak alam (baca:ilmu alam) nyasar juga ke ranah sosial (eh, akuntansi deng)… ya kebanyakan dari mahasiswa STAN kek gitu tuh🙂

    sejak awal perlu dibimbing tuh bakatnya ke mana.. meskipun nggak ada ilmu yang mubazir, tapi kalo terkait optimalisasi pemanfaatan ilmu itu memang sebaiknya sejak awal sudah diarahkan ke bakatnya..

  10. yudimuslim said: Jadi ai kurus ya? Pasti porsi mie acehnya dah kurang? Hohohoho

    hadeeeeh… kurus atau nggak yang penting sehat kak :Ddari dulu2, kalo beli mie aceh mah cuma satu porsi…

  11. yuniezalabella said: Pak Agusman idolakuuuu….

    idolaku jugaaa…. eh eh si bapak itu emang banyak fansnya. hoho..btw, pak agus nggak berubah loh mba.. wajahnya masih fresh.. semangatnya juga nggak kalah sama anak muda😀

  12. akuai said: meskipun nggak ada ilmu yang mubazir, tapi kalo terkait optimalisasi pemanfaatan ilmu itu memang sebaiknya sejak awal sudah diarahkan ke bakatnya..

    *manggut2…

  13. cinderellazty said: “Selain karena jurusan di PTN yang ingin kuambil setidaknya lebih mudah diraih jika aku belajar ilmu2 sosial”

    jiaaaah… maksudnya gini loh jeung anty..aku dulu pengen banget ambil sastra jepang. nah, kalo aku ambil IPA, berarti pas SPMB aku harus belajar soal2 IPS. makanya kubilang lebih mudah kalo aku belajar di kelas IPS. hoho..

  14. Rajinnya standar saja. Kalo ada pr, dan sdang ingat, ya dkerjain. Kalo yg ‘sunah2’ dan agak merepotkan, bs ditinggalkan..Dl pas usai pngumuman spmb dan dnyatakan masuk, aku bdoa bnyk2 smga stan g lolos. Hoho. Dua kutub ilmu yg bd jauh menurutku

  15. akuai said: iyaa… suara harus kenceng sampai ke sudut terbelakang ruang kelas..dulu temenku pernah bilang, kalo ke kelas itu bawa buku yang tebaaal banget. setidaknya bisa memengaruhi psikologis mereka. yang penting sih PD sama jawaban kita😀

    Kalau yang ini aku gak setuju say.Kita gak perlu menampilkan citra ‘ tahu segalanya’. Karena memang tak ada manusia yang seperti itu.Justru, kita harus mengenalkan kepada anak-anak sikap yang tepat, manakala kita gak yakin/gak tahu tentang sesuatu.Kalau ada anak-anak yang pertanyaannya gak bisa kujawab, biasanya aku bilang : ” Maaf aku belum tahu jawabannya, yuk kita cari sama-sama jawabannya….atau ….. Maaf untuk sekarang, aku belum tahu. Nanti kalau aku sudah tahu, aku jelaskan ke kamu ya “.Dan ketika kita memang tahu jawabannya, kita harus menyampaikannya dengan bahasa tubuh yang meyakinkan sambil menjelaskan data-data dan referensinya.***Dengan tidak langsung, kita sudah mengajarkan kepada mereka untuk tidak menjadi orang yang asal omong.

  16. akuai said: idolaku jugaaa…. eh eh si bapak itu emang banyak fansnya. hoho..btw, pak agus nggak berubah loh mba.. wajahnya masih fresh.. semangatnya juga nggak kalah sama anak muda😀

    Hahahaha dari dulu banyak yang kesengsem sama pak guru fisika yang satu ini.Cuma dia deh, sampai sekarang, guru Fisika yang keren, ekspresif, dan terlihat mencintai bidang yang ia ajar :))

  17. akuai said: kan kata bersantai-santai-nya diberi tanda kutip. pastinya memang ga mudah. tapi ada kalanya rumput tetangga selalu lebih indah😀

    bahasa jawanya: sawang sinawang.

  18. destipurnamasari said: mmh,, waktu SD nilai IPSku paling tinggi (he)waktu SMA masuk IPAskrg kuliah di jurusan yg klo di unpad masuk ipa, di ugm masuk ips

    ga jelas yaa? hehe.. berarti kamu hebat dest😀

  19. lyakeyen said: aku ga suka pelajaran fisikaaaaa… tapi nilaiku tak pernah kurang dari 8..aneh yah..

    sugooooiiii…. ntar anakmu jadi piner fisika kalo gitu #eh

  20. haaa….aku anak IPS lho :D…bangga jadi anak IPS, mau kasih penjelasan dan contoh saat ulangan bisa suka2.. :p enggak terikat buku..keculai sejarah yang gurunya textbook banget.. ^^ berkembang sampai sekarang malah jadi ‘ahli'[insyaAllah] Strategi Hubungan Internasional ^^

  21. aku juga bangga jadi anak IPA. ehehe.. itu dia, karena otakku ini seringnya berpikir in box, jadi lebih cocok sama IPA. tapi memang perlu menyeimbangkan otak kita sih ^^

  22. lyakeyen said: tapi aku sungguh ga suka fisika..masa kl tiap pelajaran fisika aku sakit peruuut..

    hah? segitunyaa… aku paling cuma keringet dingin kalo ketemu guru killer :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s