Pagiku, Pagimu, Pagi Kita Semua

(aku tak menyangka bahwa tulisanku akan sepanjang ini… Selamat Pagi dan selamat membaca, kawanz!)

Pagi yang cerah. Langit tampak bersih setelah semalam hujan mengguyur kotaku yang panas. Aku terbangun saat adzan shubuh berkumandang. Ayah sudah bersiap menuju ke mushola di dekat rumah. Pagi itu aku bangun dengan sebuah kesadaran baru. Pagiku harus diawali dengan sebuah kelegaan hati. Aku akan melakukan ini. Melakukan itu. Sebuah ide menulis telah siap untuk dilepaskan.

Pagi yang cerah. Setidaknya sebelum sebuah SMS itu terdengar dari kamar tengah. Ponselku ada di kamar depan saat itu. Kubiarkan saja. Hingga SMS selanjutnya datang. Dua pesan yang sama. Berita kematian seorang pejuang dakwah. Ustadzah Yoyoh Yusroh meninggal dunia karena kecelakaan dalam perjalanannya menuju Jakarta. Innalillahi wa innaailaihi raaji’un. Dan berdatanganlah SMS yang mengabarkan hal yang sama. Secepat status di facebook yang di-update, kicauan di twitter, quicknote, BBM, dan media apapun yang bisa dijangkau untuk mengabarkan kepergian seorang ibu yang luar biasa. Tapi jangan berharap berita itu masuk berita di televisi nasional dengan cepat. Pagi itu hanya ada dua pembahasan. Nazaruddin atau kisruh kongres PSSI.

Semendung apapun hati ribuan orang yang mendengar berita kematian itu, tetap saja pagi itu langit begitu cerah. Tak ada awan kelabu yang mengantarkan paket-paket hujan. Hanya airmata yang keluar dengan mudahnya selepas shalat dhuha. Dan semakin mengalir deraslah linangan airmata itu manakala mengingat apa saja yang telah sosok itu berikan untuk dakwah. Perjuangannya. Pengorbanannya. Begitulah kematian. Bukan hanya sebuah keniscayaan yang akan memanggil siapa saja yang bernyawa, tetapi juga menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja yang menyaksikannya.

“Kenapa orang-orang baik itu dipanggil dengan cepat yaa?”

Sungguh, itu hanyalah pertanyaan retoris yang kuajukan saat seorang kawan memperbincangkan kepergian seorang penulis, Nurul F. Huda. Yang kupahami, tak akan ada orang baik di akhir zaman nanti. Maka, mereka dijemput terlebih dahulu agar tak merasakan kehancuran dunia yang fana ini. Nurul F. Huda, Yoyoh Yusroh, dan entah siapa lagi.

Ustadzah Yoyoh Yusroh. Apakah aku mengenalnya dengan baik? Nama itu pertama kali kudengar saat menjejak tingkat satu di kampus. Seorang kawan pernah bercerita tentang pentingnya berinteraksi dengan Alquran. Salah satunya dengan menghafalkannya. Maka, ia pun menyinggung sosok Ustadzah Yoyoh yang suatu kali dalam sebuah kajian pernah bertanya kepada audiens, “Usianya berapa?” dan dilanjutkan dengan pertanyaan, “Sudah hafal berapa juz?” Ah, itulah kekagumanku yang pertama padanya. Meski tak pernah secara langsung bertatap muka.

Aku mungkin memang tak terlalu mengenal Ustadzah Yoyoh. Terakhir kali aku mendengar suaranya saat ia berorasi di depan ratusan ribu kader dan simpatisan PKS dalam aksi kepedulian rakyat di Timur Tengah. Maka, saat SMS kematian itu diteruskan ke teman-teman yang biasa kukirimi tausiyah, satu dua bertanya padaku, “Dia siapa, Ai?” Dan aku hanya memberi sebuah gambaran sederhana. “Ustadzah Yoyoh adalah seorang anggota dewan yang sukses mendidik tiga belas orang putra-putrinya menjadi anak-anak berkarakter Qurani.”

Pagi yang cerah di Lenteng Agung. Dan masih tetap cerah saat aku tiba di sebuah lembaga tahsin untuk menghadiri acara tasmi quran. Ingin sekali aku segera menulis seperti yang lain. Menceritakan betapa terguncangnya hatiku pagi itu. Tapi aku memilih untuk pergi. Agenda tasmi itu sudah ditetapkan jauh-jauh hari. Bukankah Ustadzah Yoyoh pun seorang yang tak pernah lalai dengan agendanya? Entah mengapa sosoknya memengaruhi pikiranku.

Kegiatan tasmi nyatanya tak sampai selesai kuikuti. Mbak Amirah yang ternyata juga hadir di acara itu mengajakku untuk takzih ke rumah Ustadzah. Sempat terlintas keraguan di hatiku. Ikut nggak yaa? Aku kan nggak terlalu kenal dengan beliau? Tapi, pentingkah, Ai? Kapan lagi memenuhi hak-haknya sebagai seorang muslim? Ke undangan pernikahan rajin, masa’ kalo nyelawat jadi bimbang gini? Ya Allah… Maka, berbekal keyakinan bahwa akan semakin banyak lagi pelajaran kematian yang kudapatkan di sana, maka aku pun menyanggupi tawaran Mba Amirah.

Berita itu memang menyebar dengan sangat cepat. Kediaman Utadzah Yoyoh di perumahan Kalibata mulai ramai dikunjungi. Jenazah masih dalam perjalanan, tapi semua sabar menunggu beliau. Tak ada obrolan yang sia-sia. Di halaman depan rumah, di teras rumah anggota dewan yang lain, di masjid, semua memperbincangkan kebaikan beliau selama hidupnya. Akupun yang sempat mengamati perkembangan berita tentang kepergian ustadzah via multiply akhirnya ke luar dari operamini itu. Memilih untuk membuka mata, telinga, dan hati lebih lebar. Menangkap semua hikmah, sekecil apapun itu.

Ponsel sudah kuatur dalam modus diam. Hanya sesekali aku mengamatinya, khawatir ada pesan dari Rifi atau teman seperjalanan tadi. Seorang ibu asal Bengkulu yang duduk dan berbincang denganku kemudian mengajak ke masjid, mengambil air wudhu. “Soalnya nanti pasti bakal antri.” pesannya. Kuikuti langkahnya sambil kembali berbincang tentang kebaikan-kebaiakn ustadzah.

Masjid sudah ramai. Kurasakan energi kebaikan itu menyebar ke seluruh penjuru masjid. Sekali lagi aku dibuat takjub. Betapa kebaikan itu mengelilingi hari-hari sang Ustadzah, bahkan di hari kematiannya. Kuamati sekeliling. Selebaran berisi tata cara sholat jenazah sudah disebar. Masih kudengar segelintir orang yang memperbincangkan kebaikan beliau. Yang lain memilih duduk, memegang alQuran dan mulai membacanya. Bukankah itu lebih baik daripada bergosip atau menceritakan hal yang tiada manfaatnya?

“Jenazahnya sudah datang.” Seorang ibu yang duduk di sampingku menyampaikan berita yang baru saja diperolehnya lewat SMS. Masjid sudah penuh sesak. Semua ingin ikut menyolatkan jenazah ustadzah Yoyoh. Maka, tatkala peti berselimutkan bendera negara itu memasuki masjid, seketika itu pula tangis kami tumpah. Isakannya menggema di setiap sudut masjid. Jenazah itu begitu dekat. Seolah mengetuk-ngetuk dinding jiwa. Bekal apa yang nanti kau bawa? Sudah cukupkah?

Allahummaghfirlaha warhamha wa’aafiha wa’fu’anha..

Tangis itu kembali pecah manakala doa untuk sang mayyit itu dipanjatkan selepas shalat jenazah. Semoga apa yang ustadzah harapkan dalam untaian SMS indah yang dibacakan sebelum jenazah dikebumikan di Tangerang terkabulkan. Semoga ustadzah dapat berbincang dengan Khadijah, Aisyah, dan wanita-wanita ahlul jannah. Aamin Yaa Rabbal ‘alamin..

Pagi yang cerah. Dan memang pagi akan selalu tampak cerah. Pagiku, pagimu, pagi kita semua. Yang membedakan hanyalah pemahaman kita. Apakah pagi ini, pagi kemarin, dan pagi nanti akan sama saja. Ataukah akan selalu ada semangat baru, pelajaran berarti yang kita dapatkan. Meski dalam bentuk pesan-pesan kematian. Dan alangkah indahnya jika kenangan tentang ustadzah diwujudkan dalam bentuk aksi nyata. Terus beramal kebaikan. Seimbang antara berdakwah dan berkeluarga. Menjadi hafidz-hafidzah yang akan menggetarkan musuh-musuh Islam.

***
Di Balik 3 Jendela,
24 Mei 2011 pk. 09.00 wib
tak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan..

11 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s