Bintang Dan Ikan Yang Ngojai

Namanya Bintang. Bocah berumur dua tahun itu menginap bersama orangtuanya di rumahku sejak semalam. Mereka datang dari Sukabumi. Saudara ayah. Jangan tanya silsilahnya bagaimana. Aku juga bingung. Pokoknya dia itu anak dari keponakannya sepupu ayah.

Bintang suka sekali melihat ikan yang ada di akuarium ruang tamu. Pagi ini ia berdiri memandang ikan yang berwarna-warni. “ikannya ngojai,” katanya. Aku yang menemani di sampingnya cuma bilang, “Iyaa..” Ah, bahasa anak kecil kadang memang sulit dimengerti. Tapi kemudian ayah yang juga duduk di ruang tamu menjelaskan. “Maksudnya ikannya berenang.. Ngojai.”

Hwee… Jadi Ngojai teh bahasa sunda toh? Yaiyalah… Bintang kan emang tinggal di daerah yang lingkungannya dominan memakai bahasa sunda. Jadi wajar kalau bocah chubby itu menggunakan bahasa yang campur2: Bahasa Indonesia-Sunda.

Jadi ingat, dulu waktu kecil juga pernah diajarin bahasa sunda sama saudara yang seumuran di Sukabumi. Tapi sayangnya ilmu itu menguap. Dan hanya menyisakan dua kosakata: kaditu, kadieu. Haha.. Maka, kehadiran Bintang kembali menambah kosakata bahasa Sundaku. Tentunya aku butuh ayah sebagai translator. Saat melihat ikan yang diam, kubilang, “ikannya kulem.” Lalu saat aku memberinya keripik pisang, kata ayah, “Cau.. Keripik cau.” Yayaya, seru juga!

(Oya, perhatikan kalau anak kecil menerima sesuatu atau sedang makan. Tangan mana yang ia gunakan? Saat aku menyodorkan toples berisi keripik itu, Bintang ternyata mengambilnya dengan tangan kiri. Makan pun begitu. Setelah kucek, tangan kanannya menggenggam gunting kuku. Tapi meski sudah diajarkan agar makan dengan memakai tangan kanan, gunting kuku pun sudah kupegang, ia masih tetap ingin menggunakan tangan kiri. Kutahan tangannya setiap hendak memasukkan keripik ke mulutnya. Kupindahkan dulu keripik di tangan kiri ke kanan. Tapi tangan kirinya seolah refleks ingin digunakan, jadilah dia memegang keripik dengan dua tangan dan memakannya. Hmm… Hal-hal yang terlihat remeh ini yang harusnya diajarkan sejak kecil. Termasuk mengajak mereka makan sambil duduk. Karena susah sekali untuk mengubah suatu kebiasaan.)

Aku lalu ke ruang tengah. Mulai menuliskan kisah tentang Bintang. Hingga tak lama setelah itu, Bintang menghampiriku. Memegang jilbabku dan berkata, “Mau pipiiis…” Hwehehe.. Ternyata dia nggak malu2 lagi. Lebih memilihku dibanding ibunya. Kupegang celananya. Basah. “Eeh, pipis di celana yaa?” tanyaku refleks. Tapi kata ibunya itu hanya air biasa. Fyuuh, syukurlah belum terlambat. Dan pas udah kubuka celananya, dia nggak jadi pipis dooong! Doeenk! Gw dikerjain anak kecil neh! (mungkin dia mengira basah di celana itu karena pipis, hihi)

(ini gaya apa sih Bintang?? haha..)

(Dinda nggak mau kalah… mau difoto sendiri juga ^^)

(Yaudah yaa foto berdua aja.. Eeh, tapi lihat deh gaya Dinda. Itu ceritanya dia lagi bawa kue. hari itu dia milad. nggak ada kue ultah karena mommy-nya sedang dirawat di RS..)

Baiklah, arena bermain selanjutnya adalah di teras depan rumah. Ada Dinda yang menemani. Dan tantenya yang asyik foto-foto. Heheu.. Mungkin ini kebiasaan burukku. Membuat mereka narsis sejak kecil. Bintang dan Dinda senaaang sekali difoto. Mungkin karena menemukan banyak hal yang menarik, sejak kamera berbunyi ketika menangkap gambar, hingga mendapati wajah mereka terabadikan di layar handphone. Dinda sendiri sudah bisa menggunakan kamera di handphoneku. Yang lantas membuat Bintang nyeletuk dengan dialeknya yang khas, “Bisaan si Dinda na..” Hwaaa.. Unyuuu! ^o^

Foto jepretan Dinda..

Foto jepretan Bintang
(dia foto dirinya sendiri karena salah mengarahkan kameranya, haha)

Dasar anak-anak! Yang tadinya kompak foto berduaan akhirnya berebutan ingin memegang handphoneku. Dinda sendiri gampang cemburu. Maklum, selama ini perhatian keluarga tertuju padanya. Setiap hari. Jadi ketika ada orang lain yang lebih diperhatikan, dia pun tak mau kalah. Inginnya ikut serta atau cari2 perhatian. Ini yang sering terjadi kalau Keyla, keponakanku yang lain menginap di rumah. Mereka udah kayak TTM deh. Teman Tapi Musuh. Hehe..

Bagaimanapun, mereka masih anak-anak.

***
Kamar Imaji,
6 Juni 2011 pk. 08.28 wib
Bunda masih harus banyak belajar, Nak!

13 responses

  1. ehehe, iyaa Nty. Aku kira dia ngomong apa gitu.. Ternyata ngojai. Beneran baru tau kosakata itu. :payah punya sedikit darah sukabumi. Itupun sukabumi pinggiran. Maksudnya lebih dekat ke bogor. Haha. Tapi bisa bahasa sunda.

  2. hehehe…latihan Ai…seru dah kalo maen sama anak2, jadi inget Faris yang lancar panggil Aiiii…..tapi ada juga yang dipanggil nyam2..hihi…..Dinda suka jelous ya? jadi inget kaka dza, yang suka jelous juga,qiqiqi…Iya, bagaimanapun mereka tetap anak2…..selalu ada cerita bersama mereka…

  3. ukhuwahkita said: jadi inget Faris yang lancar panggil Aiiii…..tapi ada juga yang dipanggil nyam2..hihi…..

    hoho.. iyaa donk.. nama ai itu emang mudah dilafazkan anak2 ^^*jadi dirimu dipanggil tante nyam2? :p

  4. ukhuwahkita said: Dinda suka jelous ya? jadi inget kaka dza, yang suka jelous juga,qiqiqi…Iya, bagaimanapun mereka tetap anak2…..selalu ada cerita bersama mereka…

    iyaa.. soalnya mereka kan biasa jadi pusat perhatian. jadi pas ada orang lain jadinya cmburuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s