Gang Sempit Beraspal Itu

Kususuri gang sempit beraspal itu. Udara dingin menembus kaos lengan panjangku. Hujan yang baru saja mereda menciptakan kesejukan di malam ini. Kukira hanya tadi pagi saja hujan berani menampakkan diri. Menyapaku yang dibalut oleh rasa rindu. Memang takkan ada bintang gemintang. Tapi suasana yang dibangun selepas hujan malam ini begitu serasi dengan pikiranku yang liar berlari ke sana ke mari.

Adalah rumah yang menjadi tempat terhangat untukku kembali. Rumah yang harus kulewati melalui gang sempit beraspal itu. Yang tampak megah oleh hiasan kasing sayang ibu dan ayah. Serta pernak pernik kehidupan bersama kakak adik yang menambah cantik rumah mungil kami.

Dan kita berjalan bersisian. di gang sempit beraspal itu. Aku dan kamu.


(pengennya bikin karya yang nyastra dikit, yang agak2 puitis, tapi nggak bisa euy. Baru 2 paragraf aja udah capek. -capek kok dipelihara, Ay! Hadeuh!- Apalagi pas lihat note terbaru adikku yang ngutip tulisan Seno Gumira Ajidarma dalam novel Kalatidha. Kalah jauh euy… *yaiyalah… -___-“)

***
Teras depan rumah,
28 Juni 2011 pk. 20.28 wib
Kau bukannya tidak pintar, hanya memiliki pola pikir yang berbeda dengan lelaki kesayanganmu itu, Dik! Ishbir yaa..

15 responses

  1. topenkkeren said: Baca kalathida, i. Bagus!Tapi kalau pengen puitis baca linguae atau sepotong senja. Eh, bukumu sudah ada?

    di rumah cuma ada kalathida :D*nanti yaa pekan depan kukirim ^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s