Dan Kubiarkan Satu Kesempatan Lain Pergi

Cek inbox sodarii.. segera🙂

Tujuh belas menit berlalu semenjak pesan itu terpampang di dinding FB-ku. Langsung saja aku menuju kotak inbox dan membaca pesan darinya. Info lowongan proyek lingkungan. Aku lantas mengerti kata segera yang disandarkan bersama pesan itu. Pengiriman CV paling lambat tanggal 4 Juli 2011. Hari ini.

Sesungguhnya, proyek itu bukanlah proyek biasa. Adalah lokasi proyek itu yang menjadi daya tarik tersendiri, tepatnya untuk kami berdua. Aku ingat, malam itu, dalam perjalanan dari Purwakarta menuju Jakarta, kesempatan itu dibuka oleh pertanyaannya, “Masih berminat ke Borneo nggak?” Pertanyaan yang bisa dibilang cukup sensitif. Kami berdua sering menyebut diri sendiri sebagai “orang2 yang terluka oleh Borneo”. Dialah kawan yang seringkali membersamaiku dalam setiap kesempatan menuju Pulau Impian itu. Maka, ketika pertanyaan itu hadir, aku sadar bahwa selain memiliki potensi untuk menjejak Borneo, kami pun harus siap jika nanti ‘terluka’ lagi.

“Di mana?” tanyaku kemudian. Singkat saja. Dan memang pertanyaan itu yang biasanya dilontarkan pertama-tama setelah kata kunci Borneo diluncurkan. “Derawan,” balasnya. Ah, cukuplah pulau itu menambah keinginanku untuk turut serta. Meski tak pernah memiliki tujuan yang pasti, Pulau Derawan cukup menarik karena sering direkomendasikan teman2 jurusan. Tapi…

Pass😀

Nyatanya, kata itulah yang mewakili balasan pesannya. Aku putuskan untuk tidak mengirim CV ke alamat email yang tertera di info tersebut. Entah karena aku yang tak ingin menantang diri untuk mengambil kesempatan itu atau aku memang menyadari sejak awal bahwa aku tak memenuhi kualifikasi. Hanya tak ingin memaksakan diri. Pun ada pertimbangan lain yang harus kupikirkan dengan matang.

Sepertinya impian untuk menjejak Borneo kini hanya sebuah rasa penasaran belaka. Semakin terluka, semakin penasaran untuk ke sana. Tak peduli ke belahan Kalimantan yang mana, yang penting aku sudah pernah pergi ke sana. Konyol! Begitu kah? Kupikir, aku hanya menyulam harapan kosong yang sebenarnya hanya angan belaka. Dan aku butuh waktu sejenak. Kembali mendongak ke langit asaku. Apa saja tujuanku, yang mana yang harus kuraih lebih dulu, bagaimana caranya agar aku bisa menggapai asaku, dan terpenting adalah mulai mengeksekusi mimpiku. Rasanya, dengan begitu, impian jadi terasa lebih hidup.

man jadda wajada, masihkah ia melekat dalam dinding jiwa?

***
Di Balik 3 Jendela,
4 Juli 2011 pk. 05.40 wib
Yang kayak gini tuh gaya tulisanku bukan sih? ^^a

39 responses

  1. akuai said: tapi tulisan ini udah mencirikan diriku belum sih, om hen? Masih bingung dengan gaya tulisan (yang sering dibilang mirip gaya tulisan orang lain, huhu)

    tentu saja sudah, dong … he he he …ciri tulisanmu sudah melekat ketika kau menuliskannya …jika isi benak setiap orang berbeda-beda, maka apa yang dituliskan dari benak itu pun pastilah khas … he he he …

  2. yayaya, jadi inget kata2 dosenku di salah satu seminar skripsi, ‘diskusi soal hasil penelitian boleh2 aja, tapi jangan coba2 minta dibikinin pembahasan sama yang lain. Pasti ketahuan. Karena tulisan tiap orang tuh beda.’sejalan sama komen om hen neh..

  3. mylathief said: aku sudah berkali-kali ke borneo nggak segininya😀

    itulah bedanya.. hanya orang2 terluka-lah yang bisa merasakannya.. ahaha, apa sih?!😀

  4. sayarbiant said: mau nemuian apa (siapa) ai di borneo??

    itulah.. karena target dan tujuannya ga jelas makanya gw bilang ini sebagai harapan yang kosong. ga jelas. haha…

  5. sayarbiant said: dimana ada kemauan pasti suatu saat ada jalan

    jadi inget quote yang dibikin bareng temen:there is a will there is a waythere is a way, there is a chance😀

  6. malambulanbiru said: Ahaha *baca pertanyaan di kalimat terakhir*boleh komentar? *ngerasa harus sedikit bertanggung jawab menjelaskan*

    loh loh? ada apa ini mba des?dirimu tak bertanggung jawab atas apapun kok😀

  7. malambulanbiru said: Aduh, Ai, maap maap. Ternyata komenku yang lalu bikin sedih..Oke, lupakan aja kalau gitu, ya. Maap sekali lagi🙂

    eh eh, komen yang mana sih mba des? yang di postingan tetangga itu yaa? aku cuma baru dapet masukan tentang gaya penulisan setelah ngobrol2 bareng temenku kok ^^vsantai saja…🙂

  8. malambulanbiru said: Oh ya.. Sip! Lega kalau gitu🙂

    eh, tapi tapi.. gaya penulisanku ini sebenernya gimana sih mba des? masih ga jelas yaa? kiblatnya banyak. haha…

  9. Ahaha.. Kiblat banyak mah gapapa. Aku sebenernya cuma pingin jelasin yang kemarin di tempat tetangga. Itu komen aku sebagai pembaca–bukan berarti ‘menilai’ atau ‘menyalahkan’ gaya tulisan Ai. Tapi tar.. kalau aku uda onlen pake kompie deh yah ;ptapi kalau yang ini udah agak beda kok sama si punya tetangga *lirak-lirik nyari si tetangga*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s