[Ramadhan Giveaways] Ramadhan Tiga Tahun Yang Lalu

Ini tentang Ramadhan tiga tahun yang lalu. Saat aku akan bercerita banyak tentang ibu. Mungkin kau akan bosan. Mungkin tak banyak hikmah yang bisa tersampaikan. Tapi yang pasti, ada banyak peristiwa tak terduga yang kualami. Ada banyak pelajaran yang kudapat. Dan ada kesan yang begitu mendalam di hatiku. Di Ramadhan tiga tahun lalu.

Saat itu bulan September. Bulan kelahiran ibu. Maka, milad ibu tiga tahun yang lalu menjadi terasa istimewa. Doa yang dipanjatkan ibu selepas shalat dzuhur pun begitu istimewa. “Semoga panjang umur dalam ketaatan.” Bahwa tiada guna berumur panjang jika semasa hidup tak digunakan untuk beribadah kepada-Nya. Dan di bulan Ramadhan tiga tahun yang lalu, kurasa doa ibu terkabulkan. Sangat cepat. Meski dengan cara yang juga istimewa. Allah memberinya penyakit sebagai ujian. Tapi Allah jualah yang membimbing ibu untuk taat menjalankan perintah-Nya. Meski kadang harus bersusah payah menggerakkan kakinya yang lemah ke kamar mandi, ibu berwudhu. Shalat. Lalu shalat lagi saat ia lupa sudah shalat atau belum.

Seminggu terakhir di Ramadhan tiga tahun yang lalu, aku melewatkannya di rumah sakit bersama ibu. Menciptakan nuansa baru. Sahur di kantin atau warung mie Aceh depan rumah sakit. Buka puasa di kamar bernuansa putih atau resto di samping rumah sakit. Kadang aku sahur di rumah. Kadang buka puasa di pinggir jalan sendirian. Hingga aku terbiasa makan tanpa masakan ibu.

Ramadhan tiga tahun yang lalu. Banyak sekali yang kupelajari dari ibu. Aku belajar tentang makna kepedulian. Bahwa sesulit apapun keadaan kita, kita harus bisa berbagi. Bahwa apa yang bisa kita bagi tak melulu tentang materi. Malam itu, saat pasien yang sekamar dengan ibu mengeluhkan penyakitnya, ibu berbisik padaku.

“Ay, punya uang nggak?” tanya ibu.
“Untuk apa?” balasku.
“Itu, ibu itu kasian. Kasih uang buat ibu itu..” kata ibu.

Kukatakan pada ibu, “Sudah, nggak usah mikirin orang lain dulu. Mama kan juga lagi sakit..” Tapi setelah itu aku kembali berpikir, kok yaa orang sakit masih bisa mikirin orang lain?! Sedangkan aku…

Mengingatnya membuatku ingin berterima kasih kepada para suster yang merawat ibu. Yang mau menanggapi dengan sabar ceracauan ibu. Para dokter juga sama. Mereka luar biasa. Mungkin itu memang sudah menjadi tugasnya. Tapi tetap saja rasa kagum itu masih ada. Apalagi kalau mengingat dokter dan suster yang mau menghabiskan waktunya di rumah sakit. Menikmati malam takbiran bersama para pasien. Tidak ikut mudik dan melepas kerinduannya akan pulang kampung di lain waktu. Entah kapan. Yang pasti bukan di Ramadhan tiga tahun yang lalu. Karena mereka harus menjaga ibuku dan lainnya.

Dan mungkin pelajaran terbesar di Ramadhan tiga tahun yang lalu adalah tentang kesabaran. Aku belajar tentang makna sabar. Awalnya aku tak mengerti. Mengapa saat ibu dipindah dari ruang rawat inap biasa ke ruang ICU banyak yang memberi nasihat padaku untuk bersabar? Memangnya sabar itu apa? Bagaimana caranya agar aku bisa bersabar? Pertanyaan itu terus menari-nari di kepala. Tak terkatakan. Hingga aku mencari jawabannya sendiri. Mungkin, sabar itu saat aku harus menahan tangis agar tak didengar oleh ibu. Mungkin, sabar itu saat aku harus menjawab tanya yang itu-itu saja dari teman-temanku. Mungkin, sabar itu saat aku harus menunggu sendok yang tak kunjung dibawakan oleh adikku. Mungkin, sabar itu saat aku tak perlu lagi bertanya, “Sudahkan aku bersabar?”

Dan Ramadhan tiga tahun yang lalu. Adalah Ramadhan terakhirku bersama ibu.

***
Kamar Imaji,
10 Agustus 2011 pk. 03.52 wib
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Ramadhan Giveaways. Mupeng Bukavu-nya Mba HTR. Info lombanya bisa dilihat di sini. Yuks ikutan ^^b

57 responses

  1. Subhanalloh… begitu banyak hikmah yang bisa diambil dari kisah ini, ai.. dan biasanya, seorang anak perempuan dapat mengambil begitu banyak hikmah dan pelajaran hidup dari sang ibu… Semoga segala amal ibadah ibu diterima di sisi Allohu Azza wa Jalla…

  2. drdee19 said: Subhanalloh… begitu banyak hikmah yang bisa diambil dari kisah ini, ai.. dan biasanya, seorang anak perempuan dapat mengambil begitu banyak hikmah dan pelajaran hidup dari sang ibu… Semoga segala amal ibadah ibu diterima di sisi Allohu Azza wa Jalla…

    alhamdulillah..allahumma aamiin..kejadian itu juga sempat membuatku kepingiiiin banget jadi dokter. biar ngerti sebenernya apa penyakit ibu.karena waktu sakit orang rumah bener2 ga ngerti ibu sakit apa. dibawa ke dokter tapi dibilangnya cuma darting biasa. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s