[LOMBA AKU] Ce i es te i ka

Kalau ditanya kue apa yang jadi favoritku sebenernya susah juga jawabnya. Aku suka makan kue. Kue apa aja boleeeh. Haghag. Maklum, aku kan omnivora. Tapi mungkin lebih suka kue yang nggak terlalu manis soalnya aku udah manis. Mungkin kue favoritku itu yang gurih dan nggak bikin nyelap (bahasa apa ini? ^^a). kalo dimakan rasanya momogi alias mau-mau lagi.. Dengan kriteria itu, aku telah menemuka jawabannya.

Adalah cistik yang setiap tahunnya selalu tersaji di meja ruang tamuku. Ada yang tau makanan apa itu? Cistik sebenernya berasal dari kata cheese stick atau stik keju. Seiring berjalannya waktu, hingga nama itu sampai di kampungku, namanya pun disederhanakan jadi cistik. Mungkin karena pada praktek pembuatan cemilan ringan ini, keju yang seharusnya bisa menjadi bahan utama tak lagi dimasukkan ke dalam adonan. Kalopun ditambahin keju, takarannya nggak sebanding dengan banyaknya terigu yang digunakan. Maklum, hemaaaat, beib! ^^v


Sama seperti kacang goreng, kalo udah makan cistik tuh rasanya nggak mau berhenti. Sambil nonton, sambil nyemil. Sambil ngobrol dengan tamu-tamu, sambil nyemil cistik lagi. Kayaknya nggak akan jadi gemuk deh cuma gara2 cistik (survei ini dilakukan ke diri sendiri, penulis tak menjamin jika hal tersebut juga berlaku bagi yang lain, wkwk). Maka, tak heran, kalo kue yag satu ini cepeeeet banget abisnya. Padahal mah proses pembuatannya harus melalui serangkaian proses yang panjang *lebay mode: ON.

Dulu, waktu masih ada ibu, cistik selalu dibuat sendiri. Bahan2nya tersedia (terigu, gula, dll diperoleh dari parsel buat ayah). Alatnya juga tersedia. Nggak perlu pake oen pula. Trus waktunya ada (maklum, ibuku kan ibu RT alias ibu rumah tangga..). Soal tenaga, ibu tinggal mengerahkan ketiga putrinya untuk gotong royong membuat cistik. Hoho.. Biasanya bikin cistik pas anaknya udah libur sekolah. Jadi pagi2 udah mulai bikin adonan kue, setelah itu siang sampai sore kegiatan menggiling adonan dan memisahkan stik yang masih menempel satu dengan yang lain. Kadang, kegiatan menggoreng adonan baru selesai malam hari. Wajarlah, secara ibu bisa bikin adonan sampe 3 kg. o.O

Btw, aku merasa peran ibu sangat penting di sini. Entah ibu menyadarinya atau memang hanya naluri yang bermain di sini (aku belum sempat bertanya pada ibu), tapi bagiku, saat itu ibu sedang mendidik anaknya untuk belajar menjadi ibu. Bukan dengan berkhotbah tentang ini-itu, tapi langsung melibatkan anaknya dalam setiap pekerjaan seorang ibu rumah tangga. Okelah, kau nantinya mungkin menjadi wanita karir. Tapi bukankah wanita karir pun tetap harus memikirkan urusan dapur?

“Siangin sayurnya.. Itu cucian jangan dicampur yang putih dengan yang warna.. Kalau abis nyuci piring, jangan lupa wastafelnya dibersihkan..” Mungkin saat anaknya masih kecil atau remaja, hal itu hanya tertangkap sebagai sebuah kalimat suruhan. Tapi setelah kehilangan ibu aku baru menyadarinya (heh, telat banget :P). Bahwa setiap kalimat perintah ibu mengandung kebaikan. Hanya aku saja yang belum bisa memahaminya.

Maka, kadang aku seringkali berpesan pada teman-temanku yang sering menceritakan kegiatan masak-memasaknya bersama ibu mereka atau saat aku mendapat kue/camilan buatan ibu mereka. “Jangan lupa minta resepnya sama ibumu yaa!” Kadang ada yang merasa pesanku ini terlalu menyeramkan. Tapi kan kita nggak pernah tahu umur seseorang. Karena itulah yang kemudian kualami. Aku nggak punya satupun resep milik ibu, termasuk resep cistik ini.

Sekarang, harusnya sih masih bisa bikin cistik sendiri. Kalo mau tau resepnya tinggal googling atau tanya tante. Tapi. Emm,, maleeees . hehew. Cistik masih setia jadi kue favorit di rumah. Ia masih tersaji manis di atas meja setiap Lebaran tiba. Tapi bukan buatan sendiri. Kalo nggak beli, biasanya suka dapet dari tante. Alhamdulillaaaah….😀

***
Home sweet home,
23 Agustus 2011 pk. 15.36 wib
Pengennya sih diikutkan dalam lomba di sini. Eeh, tapi kan aku jurinya yaa? Hoho.. makanya, yang lain ikutan dooonks. Masih ditunggu sampe tanggal 25 Agt nanti ^^b

52 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s