Wish to See You Again (bukan review)

Sepertinya nggak banyak serial drama yang bercerita tentang kehidupan seorang penulis. Yang paling kuingat hanya korama Full House yang dibintangi oleh Song Hye Kyo dan Rain. Ah, pasti banyak yang menonton korama ini. Seingatku bahkan Indosiar menayangulangkan sebanyak 2x. Apalagi ucapan Han Jie Eun “Rajin! Rajin! Semangat!” sempat populer di kalangan penggemar dramanya. Sang pemeran utama, Han Jie Eun diperankan sebagai seorang penulis novel. Sayangnya nggak banyak sisi penulis yang dipaparkan. Mungkin karena ada profesi lain yang lebih banyak diceritakan yaitu aktor, profesi sang suami – Lee Young Jae.

Lalu, kemarin malam, selepas menonton potongan film mandarin di Indosiar, aku melihat informasi tentang tayangan selanjutnya. Judulnya Wish to See You Again. Awalnya kukira sebuah film, ternyata drama Taiwan. Asyik asyik.. Baru episode perdana! Pas lihat opening drama-nya, ternyata pemainnya Vic Zhou, pemeran Hua Ze Lei di drama Meteor Garden. Beberapa personil F4 juga ikut main. Beberapa pemain yang lain juga lumayan kukenal. Cuma jadi berasa aneh aja. Drama yang pemainnya bagus2 gini kok tayangnya jam 11 malam. Nasibnya sama kayak Meteor Garden dulu. Tapi kalo sekarang kayaknya gegara faktor menjamurnya korama. Bahkan dorama yang dulunya jadi primadona pun tersisih. Jadi inget beberapa bulan lalu lihat dorama Hana Kimi jam 12 malam. Hwee…

Wish to See You Again sekali tayang langsung 2 episode sekaligus. Cerita dibuka dengan adegan di sebuah kamar. Seseorang duduk memandang layar laptopnya. Fokus banget. Lalu jemarinya mulai ketak-ketik di atas keyboard. Dari sini aku langsung bisa menyimpulkan bahwa sang pemeran utama adalah seorang penulis. Hwaa…. Makin semangat nonton deh! Apalagi rasa kantuk belum jua datang karena ba’da maghrib tidur sebentar.

Xu Le, adalah seorang penulis novel best seller yang menggunakan nama pena Ye Ce (gini ga yaa nulisnya?) dalam setiap karyanya. Meski sudah banyak buku yang ditelurkan, tapi ia kerapkali dihinggapi penyakit writer’s block. Sudah berhari2 ia berdiam di kamar hotel bintang 5, The Sherwood. Ia bahkan melarang petugas kebersihan masuk untuk membersikan kamarnya yang berantakan. Sebulan lagi naskahnya sudah harus jadi, tapi ia baru menulis sebanyak dua halaman. Berbagai cara ia lakukan seperti minum vitamin otak, ngemil, hingga mencoba berbagai eksperimen dudul, sayangnya tak ada ilham yang hadir (entah kenapa bukan kata inspirasi yang dipakai).

Xu Le sempat putus asa. Ia menutup laptopnya, lalu berkata, “Daripada menhasilkan buku jelek yang akan ditertawakan orang, lebih baik jadi asap yang menghilang.” Tapi saat ia melihat apel di meja kerjanya, ia teringat sahabatnya, Xiao Ma, yang mengatakan bahwa jika ia memegang apel, maka adrenalin akan terpacu dan ilham akan muncul. Ia pun mencobanya. Apel di tangan kanan, pisau di tangan kiri. Dan benar saja, tiba2 di atas kepalanya sudah ada rangkaian kalimat yang menari-nari. Xu Le sangat senang. Ia pun menari2 sambil masih memegang pisau. Kau tahu, melihat ekspresinya itu, aku jadi ingat diri sendiri. Seperti itulah ketika ide tiba2 datang. Bahagia tiada tara.

Sayangnya, kebahagiaan itu sirna demikian cepatnya seiring dengan kedatangan sang editor dan petugas hotel yang dipaksa membuka kamar Xu Le karena sang editor bilang kalau Xu Le mencoba bunuh diri. Xu Le masih menari2 dengan inspirasi di kepalanya serta buah apel dan pisau di tangannya. Hingga satu persatu kalimat di atas kepalanya jatuh ketika petugas hotel yang panik memintanya melepaskan pisau (serta apel) di tangannya. Hyaaa.. Sampai di sini aku pun merasakan kepedihan yang sama. Belum diikat, eh, si ide udah lepas.

Xu Le masih terus mencari ilham. Ia lalu menonton film di bioskop, jalan2 ke taman hiburan, tapi hasilnya nihil. Dalam keterpurukannya, ia teringat 2 orang sahabatnya semasa sekolah. Sahabat yang menjadi pembaca pertama novelnya. Salah satu pesan temannya menurutku sangat keren. Katanya, “Teruslah menulis! Mungkin inilah satu-satunya cara bagimu untuk bersuara keras pada dunia.”

Seorang bibi yang menambah stok cemilan di kamarnya tanpa sadar memberinya inspirasi. Ia ingin menjadi sopir taksi. Dia pastinya akan banyak mendapat potret kehidupan dari obrolan dengan penumpangnya. Di dalam mobil sudah ia siapkan kertas dan pulpen untuk mengikat setiap ide yang masuk. Saat menjadi sopir itu ia tersadar, ternyata menjadi pengamat dan mengamati, serta masuk ke kehidupan orang lain itu susah juga. Namun psikiater yang menjadi tempat ia menumpahkan banyak tanya menasehatinya, “Yang penting kau harus memahami. Menyelami semua yang kau lihat.

Huff.. Huff.. Capek… Udahan aja ah ceritanya. Ini jurnal udah panjang juga kan yaa? Intinya sih suka sama 2 episode pertama ini. Entah episode selanjutnya bagaimana. Khawatir terlalu dramatis dan nggak lagi menceritakan likaliku seorang penulis. Biasanya drama yang lain begitu, kan? Pastinya drama ini memang mengangkat tema cinta dan persahabatan. Bagi para nokturnal, silakan menonton drama ini. Di sini Vic Zhou berperan cukup baik sebagai seorang penulis. Dan dia, emm, terlihat so cute! Hohoho….

***
Ruang TV,
7 September 2011 pk. 12.14 wib
Dan saat jurnal ini selesai ditulis, dramanya baru dimulai. Hadeeh…. Dasar Indosiar!

79 responses

  1. pianochenk said: Tergantng selera emang kalo series. Aku prefer dorama ato kdrama. T-drama or C-drama, kurang suka. Terlalu sinet menurutku. Ai, suka begadang ya? Gak baik loh, kata bang rhoma, hoho.

    beberapa T-drama punya tema yang lumayan bagus menurutku ^^

  2. syatianee said: hoho ii,, aku baru tau istilah ‘korama’… kdrama kali? mentang2 klo jepang dorama…males malem2 nonton tipi… aku cari streamingnya ajah ah..hihi..

    temenku nyebutnya korama soalnya :p

  3. destipurnamasari said: eh kirain smlm aq mimpi ketemu vic zhou, trnyata agak gak sadar kebangun pas TV blm mati.. hoho filmny ituu.. awal yg cukup menarik ^^

    haha.. kamu lucu deh!

  4. drdee19 said: kalau disana aja baru mulai jam sgitu, dsini udah jam 1 malam lewatan kali ya baru mulai…

    heheu.. iya dok..eh, lama ga muncul nih bu dokter… sibuk pastinya yaa! tetap semangat! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s