Cerita di Balik Gang Sempit

Akhirnya pemilihan ketua KaBAR 38 (Keluarga Besar Alumni Rohis 38) berlangsung juga. Lumayan banyak alumni yang hadir, termasuk kandidat ketua KaBAR 38. Yaiyalah.. Harus itu! Masa’ orang yang akan dilantik nantinya tidak hadir? Apa kata dunia persilatan? *biasa aja sih, hehe..

Pemilihan ketua kali ini memang agak unik. Tak lagi melalui keputusan MS alias Majelis Syuro. Pemilihan ketua hanya dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan kepada masing-masing kandidat. Audiens pun ikut serta memberikan penilaian. Tapi tetap ada “juri” yang memberikan penilaian utama. Aku salah satunya. Uhuy.. gaya deh! Eh, tapi dalam acara ini aku lumayan sibuk juga loh.. percaya nggak? ^^

Waktu berlalu. Kini sudah ada dua kandidat kuat yang harus dipilih. Yang satu orang lama sedangkan yang satu lagi orang baru. Tapi meski jarang kelihatan aktivitasnya di KaBAR, orang baru ini memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Pribadinya tenang tapi lumayan cerdas juga. Maka, keputusannya adalah mengangkat orang baru itu sebagai ketua KaBAR periode selanjutnya.

Sebetulnya mengenai keputusan ini, ada beberapa orang yang kurang menerimanya. Mereka masih ingin orang lama yang menjabat. Sayangnya, salah seorang “gacoan” mereka tidak bisa hadir dalam acara ini. Maka, otomatis ia gugur. Tapi, apapun hasilnya, bukankah keputusan syuro tetap harus dijalankan?

Salah seorang juri pun kemudian menenangkan dengan berkata, “Tenang, nanti dia (orang yang tidak dipilih) kan masih bisa diusulkan untuk tahun depan.” Tapi segera disanggah oleh yang lain, “Nggak bisa lah! Dia angkatan berapa? Udah tua! Masa’ mau membatasi gerak dia di masyarakat. Biarkan yang muda-muda ini yang menggantikan untuk mengurus dakwah sekolah.” Aku yang mendengar hal itu cuma bisa manggut-manggut. Betul betul betul..

Acara selesai dengan tertib. Saatnya pulaaang! Eh, tapi sebenarnya aku berencana menghadiri undangan pernikahan setelah ini. Sayangnya, aku tak terlalu paham lokasi resepsinya. Kebetulan saat itu aku bertemu dengan seorang kawan yang istrinya mungkin akan menghadiri resepsi juga. “Saya mampir ke rumah, yaa? Biar nanti sekalian bareng ke acara kondangannya? Gimana?” Sebenarnya selain biar ada teman jalan (jadi nggak takut nyasar), aku juga bisa numpang mandi dulu di rumah temanku. Hihi… Eh, tapi suaminya temanku itu nggak memberi respons, yoweslah aku memilih jalan sendir. Hyaa…

Nah, waktu lagi ambil motor di parkiran itu, tiba-tiba ada seorang wanita dengan rambut a la Demi Moore menghadangku. “Antarkan aku ke pasar!” katanya agak memaksa. Tangannya direntangkan, menghalangi jalanku. Heh? Dia siapa? Kenal juga nggak, tiba-tiba memintaku mengantarnya. Anehnya, ketika motor sudah keluar dari parkiran, aku akhirnya membiarkan wanita itu naik ke motorku. “Sampai ketemu angkot M36 aja,” katanya. Hmm.. Baguslah!

Entah bagaimana ceritanya, dia memintaku kembali ke lokasi awal sewaktu kami bertemu, di dekat warung kecil di antara gang sempit. Di sana aku melihat seorang pria. Wajahnya sepertinya familiar. Ah, yaa. Dia adalah seseorang yang ikut berkumpul di ruangan sebelah, tempat aku melangsungkan pemilihan ketua KaBAR tadi. Sepertinya ia menghadiri pertemuan keluarga. Sempat kudengar, mereka sedang membicarakan anggota keluarganya yang hilang. Saat aku beremu lagi, masih kulihat gurat kecemasan di wajahnya. Mungkin dia cukup frustrasi karena menemukan keluarganya.

Kembali pada wanita itu. Ah, sepertinya ia membawa masalah baru bagiku. Tak jadi ke pasar, ia malah justru mengikutiku. Sempat kulihat ia sejenak bersama seorang wanita lain, terlihat cukup akrab. Entah apa yang mereka perbincangkan. Dan kembali, ia mengikuti. Motor kuparkirkan di jalanan. Kini, satu-satunya yang ingin kulakukan adalah menghindari wanita itu. Aku bahkan sudah lupa dengan agenda-agendaku.

Wanita itu menyeramkan. Freak. Saat aku melewati rel kereta api, aku sudah melihat kepala kereta dari arah kiriku mulai mendekat. Saat itu kupikir aku bisa lolos darinya. Dia pasti akan menunggu hingga kereta lewat dan aku bisa pergi jauh hingga tak berjejak. Tapi tidak. Wanita itu dengan santainya menerobos rel kereta api, mengabaikan suara dengungan kereta yang membuat sakit telinga.

Aku kembali melewati jalan yang sama. Melewati sebuah warung di antara gang-gang sempit. Aku lelah. Maka, aku pun mencari tempat persembunyian sementara untuk beristirahat sejenak. Tapi aku masih dapat melihat wanita itu. Saat itu, wanita yang sama yang pernah kulihat sebelumnya menghampiri wanita yang mengejarku. Dan aku sungguh tak menyangka dengan apa yang kulihat. Mereka berciuman? Ya Tuhan! Jadi, wanita itu lesbi?? Lalu, mengapa dia mengejarku? Apa yang dia inginkan?

Oh, tidak! Wanita itu menemukanku. Aku pun kembali berlari di antara gang-gang sempit itu. hingga kemudian aku bertemu dengan pria berwajah sendu yang kutemui sebelumnya. Kali ini pria itu berjalan dengan seorang wanita, sepertinya adiknya. Entah mengapa aku merasa ia orang baik. Dan ternyata memang benar. Dia mengajakku ke kontrakan kecil di ujung gang. Itu adalah rumah saudaranya. Katanya, aku bisa bersembunyi di sana.

Syukurlah.. aku pun berjalan selangkah di belakangnya. Wanita lesbi itu entah sekarang ada di mana. Tapi, belum lama aku berdiam di rumah saudara pria itu, feeling-ku mengatakan bahwa aku akan ditemukan. Maka, aku segera ngumpet di kamar mandi yang terletak di luar kontrakan, tapi sebenarnya ada dua pintu. Pintu yang satu lagi akan terhubung dengan bagian dalam kontrakan. Dari dalam kamar mandi yang sempit, kudengar wanita gila itu berjalan mendekat. Ia sepertinya mengetahui kalau aku bersembunyi di sini. Segera ia pura-pura menumpang ingin ke kamar mandi.

Aku semakin panik. Kamar mandi telah kukunci. Pria yang baik itu tak mengetahui bahwa aku bersembunyi di kamar mandi. Ia mencoba membuka pintunya. Lalu melihat ke arah dalam kamar mandi dari balik jendela. Aku yang jongkok di pojok kamar mandi segera menyilangkan kedua telunjukku saat mata kami bertemu. Harusnya aku memberikan isyarat dengan meletakkan telunjukku di depan mulut, tapi sudahlah. Toh pria itu mengerti juga. Segera ia katakan pada wanita itu bahwa toiletnya rusak.

Wanita itu seolah tak percaya. Ia pun mengintip dari balik jendela. Aku tak tahu apakah dia melihatku atau tidak. Tapi sepertinya ia tak kehabisan akal untuk menemukanku. Ia seolah dapat menduga bahwa aku akan keluar dari pintu yang terhubung dengan bagian dalam kontrakan. Ia pun menunggu di dalam kontrakan. Hmmpfh.. di saat seperti ini, aku pun tak ingin kehabisan ide. Aku memilih keluar lewat pintu depan. Dan akhirnya aku berhasil kembali masuk ke dalam kontrakan sedangkan wanita itu berada di luar. Kau mungkin akan bingung bagaimana hal itu dapat terjadi. Tapi kupikir, lebih baik kau tak usah tahu.

Wanita itu kini tak sendiri. Dia sudah bersama teman wanitanya menjaga pintu depan kontrakan. Aku ada di dalam bersama seorang remaja putri tanggung, saudara pria itu. Sang pria, yang sayangnya tak kuketahui namanya, sudah pergi entah kemana. Mungkin mencari saudaranya yang hilang. Dari dalam kontrakan, kami mengatur strategi. Menunggu saudaranya datang itu adalah sebuah ketidakpastian. Harus ada cara lain agar dua wanita itu segera pergi.

Aku sudah mengunci pintu kontrakan rapat-rapat. Kupastikan agar dua wanita itu tidak masuk. Tapi sayangnya pintu terbuka dengan mudahnya. Bukan karena didobrak oleh wanita itu, tapi justru saudara pria itulah yang membukanya. Akhirnya aku tahu strategi yang ia gunakan: menyemprotkan baygon ke wajah dua wanita itu.

Ide yang aneh! Aku amat khawatir wanita itu justru akan masuk ke dalam kontrakan dan menemukanku. Aku menyaksikan aksi nekat gadis itu. kulihat kedua wanita itu tak dapat berkutik ketika baygon disemprotkan ke mukanya. Membuat mereka harus kemasukan cairan obat nyamuk itu melalui hidung dan mulutnya. Aku sempat hampir tertawa saat mendapati salah satu wanita itu bersendawa karena terlalu banyak mencicipi baygon. Tapi segera aku tersadar bahwa strategi ini mulai tidak mempan. Mereka kini sudah kebal.
Saat itulah aku menginstruksikan pada sang gadis untuk kembali menutup pintu. Pintu kontrakan yang terbuat dari kayu itu terdiri dari dua bagian. Ada yang bagian atas dan bawah. Aku menutup bagian bawah sedangkan gadis itu menutup bagian atas. Berhasil. Setidaknya detak jantungku bisa sedikit melambat. Sejenak. Ya, hanya sejenak. Karena kemudian aku mengetahui bahwa muncul seorang wanita lain. Badannya seperti bodyguard, wajahnya sangat tidak bersahabat. Sepertinya wanita berambut bondol itu meminta bala bantuan. Ya Tuhan, bagaimana ini?

Aku lalu membuka catatan skenario mimpiku. Aku pun tak tahu bahwa aku memilikinya. Kulihat perjalanan mimpiku masih panjang. Ini bisa jadi baru seperempat jalan. Masih banyak subbab-subbab lain yang harus kujalani. Oh, sungguh aku tak sanggup lagi. Aku lelah. Adrenalinku sudah cukup terpacu.

Maka, kuputuskan untuk bangun dari mimpiku.


Aku tertidur sekitar pukul tujuh dan terbangun pukul sembilan malam. Di ruang tengah kutemukan ayah dan adikku sudah tidur. TV masih menyala. Saat itu kulihat stasiun TV swasta sedang memutar film Pirates of the Caribbean. Percaya nggak kalau kejadian di atas benar-benar hadir dalam mimpiku? Percaya aja lah yaa.. Namanya juga mimpi! Secara garis besar ceritanya sama seperti mimpiku tadi malam. Hanya ada beberapa penggambaran dan sedikit pemotongan cerita (yang ga real banget lah pokoknya, etapi aku masih ingat!).

Sebenarnya, ketika di awal cerita tentang suksesi KaBAR itu, aku memang menjadi tokoh utamanya. Tapi ketika masuk ke latar gang sempit itu, sebenarnya tokohnya udah berubah. aneh kan? Dan kau tahu, semua tokoh itu diperankan oleh bule. Pokoknya bukan orang Indonesia. Haha..

Kalo diingat2, aku sering banget mimpi. Hampir setiap hari. Seringkali aku bisa mengingat mimpiku dengan baik. Seperti dalam tulisan ini. Mungkin juga karena aku segera menuliskannya. Jadi, aku mulai menulis pukul sepuluh dan baru selesai menjelang tengah malam. Rajin amaaaat! Yah, itung2 belajar nulis lah. Tapi kayaknya detilnya masih kurang yaa?? *dan ternyata mimpiku ini bisa sepanjang 4 lembar A4. Apa dijadikan cerpen aja yaa?

***
Di Balik 3 Jendela,
5 Oktober 2011 pk. 23.55 wib
Kadang aku ingin juga membukukan mimpi2ku. Haha.. Mana ada yang mau baca yaa? Tulisan sepanjang ini aja belum tentu ada yang baca sampai tuntas kan? ^^a

15 responses

  1. kaklist said: mimpi itu mencerminkan keinginan terpendam lho.. ayo yg mana ? xixixi..

    yang pasti bukan pengen dikejar2 wanita itu. :Dmungkin ingin ada generasi muda yang bisa jadi penerus organisasiku,atau ketemu pria baik hati di ujung gang sempit itu. wkwkwk

  2. hahahaha uda ikut deg2an padahal.Soalnya dulu Husna n friends pernah di kuntit sama ‘seorang pria’ sejak di bus, dan akhirnya bisa selamat. Karena seorang ibu baik di bus memberikan tempat bersembunyi di rumahnya, sampai ‘pria’ itu pergi.Makanya , dari awal tadi aku fikir beneran :p

  3. topenkkeren said: Ada yang gak beres sejak ketemu wanita itu. Pantes. Mimpi ternyata.

    hohoho.. saya berusaha membuat ceritanya wajar ketika diceritakan kembali. tapi susah. mimpinya memang terlalu aneh :))

  4. luvummi said: Pantes aneh bener :p.Diah pernah mimpi perang Ai. Jalan di genangan air sepinggang *banjir ini mah*.Kalo smalem,mimpi dikejar cowo’ freak. Lg hamil pake lari2an.

    aku pernah mimpi ttg perang a yaa? entahlah.untung cuma mimpi yaa di. gawat juga tuh kalo bumil diajak lari2😀

  5. yuniezalabella said: hahahaha uda ikut deg2an padahal.Soalnya dulu Husna n friends pernah di kuntit sama ‘seorang pria’ sejak di bus, dan akhirnya bisa selamat. Karena seorang ibu baik di bus memberikan tempat bersembunyi di rumahnya, sampai ‘pria’ itu pergi.Makanya , dari awal tadi aku fikir beneran :p

    ternyata ada kisah nyatanya juga yaa mba. wuih serem…😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s