three years ago

Tengah malam. Aku masih terjaga. Bukan karena insomnia yang kembali menyapa. Sekitar jam sembilan malam tadi aku sudah tertidur. Sebuah pilihan yang jarang sekali kuambil di tengah beberapa pekerjaan yang harus kulakukan. Tapi sepertinya itu adalah pilihan yang tepat. Tidur lebih awal, bangun lebih awal. Dalam heningnya malam, aku jadi lebih leluasa menuntaskan tugas-tugasku.

Tiga tahun yang lalu, aku pun masih terjaga. Tapi kondisinya berbeda. Aku belum tidur sejak pagi. Tak banyak yang kulakukan sepanjang hari itu. Tapi sesungguhnya tubuh ini lelah. Belum lagi ditambah hati yang campur aduk oleh aneka perasaan, mungkin lebih banyak duka. Kusimpan airmata yang seharusnya tumpah. Yang kemudian menimbulkan tanya di hati kerabat dan kawan-kawanku, “Ke mana airmata itu?” Airmata itu bukan untuk mencari simpati. Hanya, mungkin bagi mereka, menangis adalah sebaik-baik ekspresi kesedihan. Entahlah. Bagiku, menangis itu kegiatan yang melelahkan. Tapi sejujurnya, aku tak mengerti mengapa aku seperti itu.

Aku masih menunggu beberapa orang kawan yang akan bertandang ke rumahku. Mungkin kurang ahsan bertamu ke rumah seseorang pada waktu tengah malam, meski beberapa pemuda sering melakukannya ketika kawannya ultah. Atas nama ‘surprise’, katanya. Tapi, kala itu, kuizinkan mereka datang ke rumahku. Tiga pria dan tiga wanita. Mereka semua adalah kawan-kawan di kampusku. Sengaja mempercepat kepulangan mereka dari sebuah survei penelitian di daerah Tasikmalaya setelah mendapat berita yang kukabarkan via sms. Mungkin kabar yang sama juga datang dari yang lain. Entahlah. Aku tak pernah tahu bagaimana mekanisme penyebaran berita itu.

Pukul dua dini hari, mereka tiba di rumahku. Setelah sebelumnya berbincang santai di teras depan rumah nenekku. Dan tak lupa menyapamu. Mereka harus istirahat, Bu. Raut kelelahan cukup tergambar di wajah mereka setelah perjalanan yang panjang. Aku masih belum bisa tidur sebenarnya. Tapi sepertinya aku pun harus istirahat. Selepas shubuh nanti, ada banyak hal yang akan kulakukan. Di kamarku yang sempit, yang wanita tidur berhimpitan, layaknya pepes ikan, makanan favoritmu. Yang pria tidur di ruang tamu. Tetap tertidur nyenyak meski hanya beralaskan tikar. Sedangkan aku tidur di kamar depan, di kamarmu.

Kau pun tertidur, Bu. Tidak di rumah mungil kita, tapi di rumah ibumu. Dan itu adalah tidur terlama sepanjang hidupmu. Tidur yang membawamu pada sebuah ketenangan yang kau damba. Bagaimana rasanya, Bu? Apakah kau lega setelah terlepas dari suntikan obat-obatan dan rangkaian alat yang terpasang di tubuhmu? Kau tak pernah memberikan jawabannya. Tapi aku yakin, suatu hari nanti aku pasti akan merasakan ketenangan itu. Pasti.

Selepas senja, tiga tahun yang lalu. Kau sempurna menutup matamu. Menghentikan kerja jantungmu. Menghembuskan nafas terakhirmu. Saat itu kusadari bahwa kau tak akan pernah bangun lagi di pagi hari dan membuatkan segelas teh manis untukku.

Epilog
Kadang, aku khawatir tak dapat membedakan mana yang seharusnya kulakukan dan tidak kulakukan. Dulu, setahun yang lalu saat milad ibuku, aku pernah ‘memarahi’ adikku yang datang ke kuburan ibu dan memberikannya setangkai mawar merah. Atau sesiapa yang curhat di kuburan ibu untuk menumpahkan masalahnya. Untuk apa? Bukan begitu caranya bersikap terhadap orang yang telah meninggal. Kemarin, ayahpun mengingatkan tentang hari kematian ibu.

“eh, ini tanggal sebelas yaa? Udah tiga tahun mama meninggal, Ai.”
“iya”
“berarti udah seribu hari”
“ngapain sih pake diitung2?”
“kenangan”
“didoain aja”
“tadinya ayah mau bikin nasi kuning..”
“ga usah! Mending uangnya dikasih buat Bang Samin deh..” (kemarin itu 40 hari kematian Bang Samin, tetanggaku. Aku juga bilang ke ayah bahwa seharusnya keluarganya nggak usah mengadakan acara ‘selametan’. Memaksakan diri memberi sembako kepada warga yang hadir, tapi keluarganya sendiri sebenarnya masih kekurangan. Bukan mendukung, tapi daripada berhutang, lebih baik dibantu.)

Ya, aku khawatir. Jangan2 tulisan yang kubuat setiap tahun ini pun sama saja, tidak perlu dilakukan. Tapi aku tak bermaksud demikian. Meski aku tak ingin terjebak pada suatu momen, nyatanya tanggal kelahiran dan kematian ibu melekat kuat di ingatanku. Dan tentang ibu, entah kenapa jalinan kata yang kutulis mengalir begitu deras setiap kali aku mengingatnya. Ibuku kini menjadi inspirasiku dalam menulis. Jadi, sekali lagi, meski tak ingin terjebak pada momen, keinginan untuk bercerita dan berbagi terus mendesakku hingga akhirnya terasa lega ketika aku berhasil melahirkan sebuah tulisan. Jika kurang berkenan, maaf yaa! Anggap saja aku sedang mengikat makna dari potongan cerita di masa lalu.

***
di Balik 3 Jendela,
12 Oktober 2011 pk. 02.03 wib
Robbighfirly.. Robbighfirly.. Robbighfirly.. Waliwaalidayya warhamhuma kamaa Robbayaani soghiiro..

15 responses

  1. TTmirip meski dalam konteks yang berbeda.titin gak suka berbagi cerita sedih ttg diri sendiri, tapi bercerita adalah ttg mengabadikan moment yang bahkan mungkin hikmah itu hanya buatku.sama. takterlihat tangis di depan orang, kdg khawatir terjebak pd hal yg berlebihan.aah, ngomong opo, Tin?hehe

  2. Di dalem kamar depan ada akhwat2 lain yang tidur sebelum 3 akhwat itu dateng Ai. Jadi inget,waktu itu.. Diah brangkat ke tempat dosen ba’da Ashar, sholat di RS Bunda,nengok Mama Ai for the first time,trus nyaksiin ayah Ai bilang alat2 bantu yg ada di Mama mau dilepas smua *masih inget raut muka Ayah Ai waktu bilang gt*..Pulang dari rumah dosen di Parung,skitar jam 22.00, langsung pergi ke rumah Ai karna ditelp temen2..*dan senin Diah sidang TA*. Tp,kaga’ pernah nyesel ngambil pilihan itu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s