Semilir Angin di Kala Senja

Aku mencintai semilir angin yang menyapaku di kala senja. Ia telah datang sebelum hujan. Memikatku dengan kesederhanaan dan kelembutan.

Aku mencintai semilir angin yang menyapaku di kala senja. Meski ia tak pernah memilihku untuk jadi yang tercinta. Tak masalah. Aku tahu bahwa cintanya harus terbagi untuk semua. Hingga tak lagi ada cemburu dan dengki yang merusak jiwa-jiwa.

Aku mencintai semilir angin yang menyapaku di kala senja. Meski kini dengan rasa yang berbeda. Seperti air dengan riak-riak kecilnya. Seperti Collocalia linchi yang terbang mengangkasa. Atau seperti pepohonan -yang entah apa namanya- dengan daun majemuknya yang menjuntai. Hingga angin menyatukan sang daun dengan danau yang setia mendampinginya.

Aku mencintai semilir angin yang menyapaku di kala senja. Cinta yang menyejukkan. Cinta yang memberiku kedamaian. Serta inspirasi dan semangat untuk terus bermimpi.

Aku mencintai semilir angin yang menyapaku di kala senja. Dan sayangnya, hanya di kala senja, pada hari ini, di sini. Di danau kampus hijau yang penuh kenangan.

.
.
.

Sore ini Abhi diminta menginap di rumah kawanku. Perawatan akan dilakukan selama 3 hari. Kuharap hari Senin nanti ia sudah bisa menemaniku untuk menggapai mimpi. Setelah memastikan Abhi akan baik2 saja, aku pamit pulang. Tapi angin yang begitu sejuk menyapaku kembali. Membuatku sejenak duduk di pinggir danau dan menulis. Apakah ini puisi? Entahlah. Sepertinya bait2nya kurang bermakna. Lagi2 aku juga lemah dalam diksi. Ada banyak potret yang kuamati: beberapa mahasiswa yang hunting foto, melingkar dan berdiskusi, naik sepeda, atau berjalan kaki di jalur sepeda. Ada pula yang sedang berlatih parkour. Kedamaian itu tak selamanya terasa. Kadang kudengar suara bising pembangunan proyek pelebaran gedung Balairung.

Satu jam sudah aku duduk di sini. Sejak penjaga sepeda menunggu kepulangan sepeda sambil melamun hingga ia tak lagi ada di sebelah kiriku. Udara mulai terasa dingin. Saatnya untuk pulang.

***
DRPM – Danau UI,
14 Oktober 2011 pk 17.52 wib
lihat, dengar, rasakan… Allahumma inni amsaitu minka fii ni’matin wa ‘aafiyatin wa sithr. Faatimma ‘alayya ni’mataka wa ‘aafiyataka wasitsraka fiddunia wal akhirat..

32 responses

  1. cawah said: puisi yg indah dan penuh makna #ciee halahh :Djd pengen ngampus..aplg kl diUI..#ngimpi kale

    emang dapet makna apa? :Dbtw,bisa kok kalo pengen kuliah di ui.. ikut kuliah umumnya aja😀

  2. akuai said: kala senja itu banyak yg mengganggu kencanku. Kau termasuk yg kubalas smsnya dgn cepat. Yg lain kubiarkan menunggu. Berbahagialah, sepiaku. Wekeke…

    *tersanjung*aku menggalau di kelas menghitung menit-menit yang habis gara2 bahasan itu ~_~

  3. pas kamu sms bilang kalo ketemu aisha, aku masih di dekat balairung ui, nty. Tapi takut disuruh mampir ke rumahmu jadi ga bilang2. Wkwk.. Ga bawa shiro soalnya.Eh pas aku balik kupikir kamu beneran ngliat aku. Tapi sayangnya aku ga lewat detos :p

  4. pas kamu sms bilang kalo ketemu aisha, aku masih di dekat balairung ui, nty. Tapi takut disuruh mampir ke rumahmu jadi ga bilang2. Wkwk.. Ga bawa shiro soalnya.Eh pas aku balik kupikir kamu beneran ngliat aku. Tapi sayangnya aku ga lewat detos :p

  5. @mba pia: betuuul…! 100 untukmu! :D@evi: wahaha… Iya. Yg agak bau itu yg dekat mui, vi. Soalnya suka jadi kuburan massal ikan sapu2 :paku abis dari DRPM. Jadi sekalian aja duduk di dekat situ. Udah pewe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s