[W3] Inginku: ke Kotamu

Yogyakarta. Di antara kota-kota besar di Pulau Jawa, Yogjakarta mungkin menjadi kota yang paling sering kukunjungi. Tentu saja Jakarta tak masuk ke dalam hitungan. Aku lahir dan besar di Jakarta. Pastinya akan lebih banyak memori yang kusimpan sebagai kenangan. Tapi tak berarti Yogyakarta menjadi kota yang terlupakan. Aku pun menyimpan banyak cerita di sana.

Dan ternyata kau tinggal di kota itu. Menikmati masa-masa studi hingga gelar sarjana psikologi itu dapat disematkan di akhir nama belakangmu. Kemudian di usia produktifmu, kau merantau ke pulau seberang. Meninggalkan sejenak orangtua yang telah membesarkanmu. Mendiami kota kecil bernama Bontang untuk meniti karir di sana. Benarkah? Mungkin aku terlalu sok tahu. Nyatanya, aku tak terlalu mengenalmu selain hal-hal yang terungkap melalui dunia maya.

Cukup mudah bagiku untuk mencari jejak awal perkenalan kita. Cukup klik see friendship dan terurailah semua. Kau mengundangku sebagai temanmu melalui situs jejaring Facebook di bulan Mei 2010. Tak perlu berlama-lama aku menunggu untuk menjadikanmu sebagai teman meski saat itu hanya ada tiga mutual friends. Kau MP’ers juga. Dan akunmu cukup familiar bagiku.

Dari Facebook lalu ke Multiply. Perbincangan via chat box pun berlanjut lewat SMS. Dan aku masih menyimpan sebuah SMS darimu. SMS yang begitu berkesan di hatiku. Bagaimana tidak? SMS itu dikirim olehmu, seseorang yang tak pernah kuketahui rupanya dalam kehidupan nyata melainkan hanya melalui foto -yang sekali lagi- kuperoleh dari dunia maya.

Baca status ai ttg nasyid sekeping hati, berasa sehati.. aku juga beberapa hari ini mengingat lagu itu ma sepohon kayu..jd inget ttg ruh itu bagai tentara..bla bla bla :* kiss jauh buat ai [Lani PKT – 30/03/11]

Pesan yang kau sampaikan begitu tulus. Ya, aku ingat beberapa waktu sebelum SMS itu datang, kita sempat berbincang tentang sebuah hadits:

Dari Aisyah r.a, Saya mendengar Nabi SAW bersabda : “Ruh-ruh itu bagai tentara yang berbaris. Mana yang bersesuaian berdampinganlah dia, mana yang bertentangan berjauhanlah ia”. (HR. Bukhari)

Maka, ketika kau mengingatkanku kembali melalui SMS itu, bertambah pula rasa cintaku padamu. Betapa indahnya ukhuwah islamiyah. Meski berpuluh-puluh mil jarak yang memisahkan kita, kau terasa begitu dekat. Ah, ingin sekali aku bertemu denganmu, Mbak. Entah itu di Bontang, Jakarta, atau Yogyakarta. Hei, bahkan saat kau kembali ke kotamu untuk mengikat perjanjian agung, aku pun tak dapat menyaksikannya.

Sebelumnya telah berhembus kabar bahwa kau akan menikah. Aku sejujurnya menantikan kabar itu datang langsung darimu melalui undangan yang kau sebar di FB atau MP, seperti yang biasa dilakukan sahabatku yang lainnya. Tapi undangan itu tak jua terpublikasikan. Hingga sebuah SMS darimu kembali datang. Sebuah undangan pernikahan yang kunantikan.

Telah kusampaikan permintaan maafku karena tak dapat hadir dalam hari yang bersejarah dalam hidupmu. Inginku, dapat berkunjung ke kotamu. Tapi Jakarta masih menahanku agar jangan pergi. Maka, izinkanlah aku kembali mengucap sebait doa: Barakallahu lakuma wabaraka ‘alaykuma wajama’a bainakuma fii khair.

Barakallahu Mba Lani

***
di Balik 3 Jendela,
24 Oktober 2011 pk. 06.35 wib
Moga suatu hari bisa bertemu dengan Mba Lani ^___^

dan sebuah SMS yang datang di pagi hari ini seolah melengkapi jurnalku:

“Temanmu yang setiap kali bertemu denganmu selalu mengingatkan bagianmu di sisi Allah lebih baik dari temanmu yang ketika bertemu denganmu selalu meletakkan dinar di telapak tanganmu” (Bilal bin Saad)

foto dari sini

9 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s