[NgoBrAy] Ayah Ngambek?

Saat Si Adek sedang berhias di depan cermin di kamar depan, aku menegurnya, “Kenapa?”. Sebenarnya tak ada alasan yang melatarbelakangi pertanyaan itu. Hanya ingin menyapanya saja. Abisnya serius banget sih ngacanya. Hehe.. *kakak yang iseng* Tapi sepulang kami beraktivitas di luar rumah atau sebelum adikku berangkat ke kampus biasanya kami berbincang sejenak di dalam kamar. Temanya campur-campur: mulai dari bahas tingkah keponakan sampai kegiatan kampus adikku.

“Kayaknya ayah marah sama gue,” kata adikku kemudian. Heh? Nggak menyangka pertanyaanku yang hanya satu kata ternyata bisa mengorek info yang tak terduga.Ternyata diamnya adikku karena memang ada sebabnya. Kukira karena belum sarapan saja.

“Kenapa?” balasku. Duh, Si Kakak nggak kreatif banget bikin pertanyaan deh

Diceritakanlah segalanya oleh adikku. Tentang ia yang terlambat menjawab panggilan ayah semalam. Tentang ayah yang terlihat menghindarinya pagi hari ini.aku cuma bilang, “Cup cup, jangan sedih yaa!” hehe, nggak ding! Aku hanya mengatakan bahwa akan mengonfirmasi hal ini pada ayahku.

Sambil icip-icip tempe goreng yang renyah, aku bertanya pada ayah. “Ayah ngambek sama Lisdha?” tanyaku. Adikku sudah berangkat ke kampus. Di ruang tengah itu hanya ada aku dan ayah. Aku jelaskan tentang obrolan dengan Si Adek pagi tadi. Ayah lalu berkata bahwa ia tidak marah ataupun ngambek. “Masa’ orangtua ngambek sama anaknya. Nggak lah!” kata ayah meyakinkan. Hwaa.. Si Ayah so sweet banget deeeh…

“Tapi yaa kalo disuruh itu harus segera. Jangan bikin orangtua nunggu lama-lama,” tambah ayah. Hwee.. ternyata masih ada lanjutannya toh? Dalem euy! Apalagi kalo mengingat apa yang dilakukan orangtua untuk kita sedari kecil hingga dewasa. Bayangkan! Apakah ibu akan menunda untuk menyusui bayinya yang menangis kelaparan? Apakah ayah akan diam saja tanpa memikirkan kehidupan rumah tangga yang harus dipimpinnya?

Obrolan singkat bersama ayah pagi ini memberikanku kesadaran baru untuk lebih berbakti sebagai seorang anak. Jangan menunda untuk menjawab panggilan ayah. Karena nggak selamanya panggilan ayah itu mengandung perintah untuk melakukan sesuatu. Kadang ayah memanggil kami untuk berbagi makanan, entah itu buah atau camilan. Tak jarang ayah juga menyuruh kami untuk melakukan hal-hal kebaikan kok. “Udah adzan, sholat maghrib dulu! Waktu maghrib itu singkat!” atau “Udah makan belum? Sebelum tidur makan dulu!”

Menutup obrolanku dengan ayah, kutanyakan satu hal padanya, “Ayah kenapa nggak nyuruh Ai?” dan dengan santai ayah menjawab, “Gimana cara nyuruh orang yang lagi tidur?” Heee…

Jadi kemarin malam tuh ayah meminta adikku untuk memasukkan motor ke dalam rumah. Biasanya kalau aku bawa motor, sesampainya di rumah, motor langsung kumasukkan. Tapi karena kemarin nggak bawa motor, jadi belum sempat dimasukkan. Sekitar jam 8 malam itu mataku udah beraaat banget. Mungkin karena pola tidur yang berubah juga. Jadi nggak tau deh kalo motor belum dimasukkan oleh adikku karena au sudah tertidur pulas. Hoho…

***
di Balik 3 Jendela,

25 Oktober 2011 pk. 07.52 wib
foto Yotsuba diambil dari sini

27 responses

  1. pianochenk said: wah ayahnya ai ngambek, kalo ayahku dulu gak pernah ngambek, langsung tindakan :::

    paling seram justru kalo ayah cuma diam dan nyuekin kita. huhu..

  2. andiahzahroh said: ayahku ga pernah marahsekalinya marah…serraaaaammm*eh, itu namanya pernah ya? hehehetapi jarang banget marah sii

    hehe.. iyaa An. kemarahan yang terakumulasi emang seram euy..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s