(Rumah Kenangan) Rumahku di Kebun Binatang

Tak banyak yang mengetahui bahwa dulu, di dalam kawasan Taman Margasatwa Ragunan (TMR), terdapat kompleks perumahan milik karyawan kebun binatang tersebut. Ayahku yang bekerja di bagian kesehatan hewan menempati sebuah rumah dinas di sana. Setiap kali kuceritakan hal ini pada teman-temanku, tanggapan yang seringkali muncul yaitu, “Di kandang berapa?” Begitulah. Ragunan memang identik dengan kebun binatangnya. Maka, aku memilih untuk tak banyak bercerita tentang rumahku di sana karena tak ingin lagi mendapat tanggapan yang serupa.

Keluargaku tinggal di kompleks perumahan yang dikelilingi pepohonan serta kandang-kandang hewan. Kawasan kompleks sendiri dibatasi oleh pagar kawat tinggi yang kalau diperhatikan hampir mirip seperti kandang, hanya isinya bukan hewan, tapi kumpulan manusia. Jika dilihat dari gerbang utama kompleks, maka rumahku terletak di tengah-tengah rumah dinas lainnya. Tapi aku tak harus selalu masuk melewati gerbang utama karena sekitar 15 m dari depan rumah, ada sebuah gerbang kecil untuk akses keluar-masuk kompleks.

Jalan besar di depan gerbang kecil yang ditumbuhi Clitoria ternatea (kembang teleng) dengan warna biru bunganya yang mencolok menjadi batas antara rumahku dan kandang kasuari (sekarang menjadi Pusat Primata Schmutzer). Dulu, hukuman paling menyeramkan jika anak-anak ayah melanggar aturan adalah memasukkan kami ke kandang burung besar itu. Tentu saja itu hanyalah ancaman yang tak pernah benar-benar dilaksanakan. Tapi, itu sudah cukup membuat kami menjadi anak yang penurut dan tidak cengeng.

Bagiku, kenangan tentang rumah di Ragunan bukan hanya terpaku pada bangunan tempat kami melepas lelah. Aktivitas yang menyertai selama keluargaku tinggal di dalam kawasan kebun binatang tersebut tak dapat lepas dari ingatan. Aku ingat momen saat berjalan kaki dari sekolah yang terletak di luar TMR hingga ke rumah. Atau saat kami menginap di masjid Ragunan selepas shalat tarawih. Aku pun masih ingat saat seluruh penghuni kompleks memperingati 17 Agustus dengan mengadakan lomba gebuk guling di taman perahu dekat kandang buaya.

Aku menghabiskan sebagian masa kecilku di rumah dengan area bermain yang luas. Ada banyak kegiatan ketika liburan atau selepas sekolah yang bisa dilakukan bersama anak-anak karyawan lainnya. Kami memetik jambu monyet, berburu biji pohon Adenanthera pavonina (saga pohon) untuk dijadikan biji congklak, mengambil duri landak langsung di kandangnya, dan hal-hal unik yang mungkin tak akan didapatkan di tempat lain.

Kadang, kenyamanan ketika bermain harus terusik oleh desas-desus perihal lepasnya hewan dari kandangnya. Pernah suatu kali kami harus mengungsi di menara pengamatan dekat kandang gajah karena seekor rusa lepas. Lain waktu, saat hendak memasuki area kompleks, aku beserta kakak dan dua sepupuku harus lari terbirit-birit karena dikejar orang utan. Sayangnya, salah satu sepupuku harus mendapat luka cakaran karena ia lebih menyelamatkan sandalnya yang copot ketika yang lain sibuk menyelamatkan diri masing-masing.

Dan rumah, seberapapun kecilnya ia, tetaplah menjadi tempat yang nyaman untuk kembali. Ya, rumahku tidaklah besar. Hanya ada dua kamar untuk tujuh orang penghuni di rumah tersebut. Selain itu, ada ruang tamu, dapur, dan kamar mandi. Di bagian dapur terdapat pintu belakang yang menghubungkan halaman samping tempat ibu biasa menjemur pakaian dan kasur. Di halaman depan yang cukup luas ditanami beberapa tanaman. Yang paling kuingat adalah tanaman dengan daunnya yang khas, berbentuk seperti kupu-kupu.

Rumahku jauh dari gambaran rumah yang sering dipakai untuk syuting sinetron. Tak ada tingkat yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua. Lantainya pun belum berkeramik. Tapi ada kehangatan di dalamnya. Rumah bukan hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Bukan pula menjadi persembunyian paling aman jika ada hewan yang dikabarkan lepas dari kandang. Rumah adalah tempat berkumpulnya keluargaku. Tempat ayah kembali sepulangnya dari kerja. Tempat ibu memasak dengan penuh cinta. Tempat kakakku bercerita seputar Setan Pulo (daerah di sekitar kandang buaya) dan kisah misteri lainnya. Tempat aku bermain dengan adikku yang mungil.

Rumahku menjadi tempat istirahat sementara bagi teman-teman TK beserta guru dan para orangtua yang mengadakan jalan-jalan ke kebun binatang. Rumahku menjadi tempat berteduh beberapa pengunjung dari berbagai kota ketika hujan turun dengan derasnya. Rumahku memang sederhana. Tapi alangkah bahagianya ketika merasa bahwa rumah kecil itu bisa bermanfaat bagi yang lain. Bukankah hal itu lebih baik dibanding rumah besar nan megah tapi terlihat sepi dan tak berpenghuni?

Tujuh belas tahun berlalu semenjak munculnya kebijakan TMR bahwa tidak diperkenankan ada bangunan kompleks perumahan karyawan di dalam kebun binatang. Aku sempat sedih karena harus meninggalkan rumah dinas itu. Apalagi saat itu berkembang kabar bahwa rumah kami digusur karena akan dibangun kandang baru tetapi pada kenyataannya selama beberapa tahun tak ada pembangunan di sana.

Ayahlah yang kemudian menjelaskan bahwa kebijakan tersebut memang perlu dibuat. TMR sudah cukup berkembang. Karyawan bertambah, termasuk bagian keamanannya. Kompleks perumahan untuk karyawan sendiri dipindahkan ke suatu tempat yang tak jauh dari kawasan kebun binatang. Ayah sendiri memutuskan untuk kembali ke rumah asli kami di Lenteng Agung, rumah yang hingga sekarang menjadi tempat tinggal kami.

Meski sudah tak tinggal di Ragunan lagi, aku masih sering keluar-masuk kebun binatang. Kalau ingin masuk, tak perlu membeli tiket. Cukup bilang, “Mau ketemu ayah.” Karena saat itu memang ingin bertemu ayah. Kadang mengikuti acara yang diadakan kantornya. Kadang diajak ibu yang hendak mengikuti kegiatan Darma Wanita.

Saat ini ayah sudah pensiun jadi aku tak terlalu sering lagi ke Ragunan. Tapi sesekali masih ke sana, kadang hanya untuk menjadi pemandu bagi teman-teman atau saudara jauh yang datang berkunjung. Maklumlah, sampai sekarang pun aku masih ingat seluk beluk kebun binatang. Ke mana arah menuju Pintu Barat, Timur, dan Utara. Di mana letak masjid, kantin, termasuk kandang hewan-hewannya.

Dan kenangan tentang rumah di masa kecilku masih tetap tersimpan dalam ingatan meski kini rumah itu telah rata dengan tanah.


Keterangan foto:
1 – Foto menara pengamatan tempat aku dan teman-teman menunggu hingga rusa yang lepas pergi menjauh. Dulu rasanya menara itu begitu tinggi. Setelah dilihat kembali, kok pendek yaa?
2 – Foto ai kecil sewaktu berumur 2 tahun.. Ternyata dari kecil aku sudah hobi naik motor. Hahay. Foto ini diambil di depan rumah. Emm, sebenarnya rumahku tidak terlalu terlihat. Yang terlihat jelas justru rumah tetanggaku. Tapi secara penampakan tak jauh beda. Oya, saat itu belum memakai jilbab. Jadi rambut dan kakiku terlihat. Waaah, aurat euy! Makasih buat kiky-chan yang mau meng-edit fotoku. Jadi semakin terlihat unyuuu. Hoho..
3 – Foto ini (dan foto pertama) diambil belum lama, sewaktu pagi-pagi mengantar kakak ke Ragunan. Posisi Shiro itu menunjukkan letak rumahku yang dulu. Sekarang lahan itu kosong, sebagian lagi dijadikan kandang. Kapan-kapan, kalau kalian ke Ragunan, mampir ke rumahku yaa? Hihi..


***
Rumah LA yang juga menyimpan banyak kenangan,
28 Oktober 2011 pk. 10.26 wib
Tulisan ini diikusertakan dalam lomba Rumah Kenangan yang diadakan Mba Intan. Info lombanya bisa dilihat di sini. Terbuka juga kesempatan bagi teman2 yang bukan kontak Mba Intan loh. ikut yuk…

81 responses

  1. evanda2 said: waduuh serem juga ya kalo yang lepas it macan or singa..😉

    hehehe… alhamdulillah lepasnya malem2 dan itu langsung ditangani karyawan setempat jadi ga sampe kompleks mba ^^

  2. imazahra said: Weleh, kisah kenanganku mirip dengan salah satu fragmen hidupku :-)Aku juga pernah hidup di ‘hutan’ Ai :-)Ini sedang mencoba menuliskannya kembali😀

    waah, iya kah? ayoo mba ima ditunggu tulisannya yaa ^^b

  3. @mbaktyasehehe.. Kayaknya sih cukup berpengaruh. Kecerdasan naturalku jadi lebih tinggi dibanding kecerdasan yg lain. Bahkan tadinya disuruh ayah jadi dokter hewan, tapi aku malah pilih bio :))@tintin1868eaaa, mba, maksudnya tuh 17 thn berlalu semenjak aku meninggalkan ragunan. Aselinya mah tinggal di sana sampe SD Kelas 1 :p

  4. hehehe… gapapa. kalo inget2 saat itu emang seru banget mba. aku juga suka ketawa. lah, kita udah semangat banget lari2, eh, sepupuku malah sibuk ambil sendalnya :pmakasih udah vote tulisanku yaa🙂

  5. ayanapunya said: berasa punya banyak piaraan dong, ai🙂

    eeh, komen mba aya kelewaaaat.. makasih udah vote tulisanku yaa mba :)punya banyak peliharaan sih nggak, tapi punya banyak “teman” kayaknya :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s