“kopdar”

Seringkali, kopdar itu terlaksana secara tiba-tiba. Atau cenderung dipaksakan. Dalam hal ini, kata dipaksakan merujuk pada suatu aktivitas yang harusnya nggak bisa disebut sebagai kopdar, tapi dianggap demikian karena satu dan lain hal. Untuk lebih jelasnya, silakan baca cerita berikut. Halah..

Sore itu langit cukup cerah. Beberapa mahasiswa terlihat memasuki area Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI). Yang lain mengisi waktu dengan berolahraga lari atau bersepeda. Sisanya duduk manis menunggu bis kuning di halte. Dan suara cicit gerombolan burung cucak kutilang di atas pohon Akasia menambah ramai suasana kampus hijauku.

Aku awalnya berdiam di Lt. 2 masjid yang menyejukkan itu. Lalu, sebuah SMS yang kutunggu-tunggu pun datang. Seorang kawan memintaku untuk keluar dari MUI dalam waktu sepuluh menit. Baiklah, kukemasi barang-barangku dan bergegas menuju halte. Shiro kutinggal di parkiran karena rencananya kami akan pergi menggunakan motornya.

Satu menit. Dua menit. Sepuluh menit. Hingga setengah jam aku duduk di halte itu, barulah sebuah SMS datang lagi ke HP-ku. Seorang kawan yang kutunggu mengabarkan kembali kalau ia tak jadi memintaku untuk menemaninya. Ceritanya panjang (ia menyampaikannya via SMS, nada penyesalan pun tergambar jelas)

Dan kubalas: “Heheh… Gpp. Gw lg seneng kok. Jd mw ktmuan g? Gw msh d halte.”

Yaph. Aku saat itu nggak merasa kesal. Malah senyamsenyum ketika membalas SMS darinya. Pasalnya tak lama sebelum SMS-nya masuk, sebuah kabar membahagiakan datang dari cwiderland. Aku menang kuis yang diadakan @lingkarpena dan berhak mendapat sebuah buku dari sang penerbit. Cihuy… (ceritanya akan disajikan terpisah, insyaAllah).

Selain itu, aku berhasil menangkap satu potret untuk #ReadingEverywhereProject. MasyaAllah… jarang2 kan ada yang menyempatkan diri baca Quran di sela-sela menunggu bikun? (Sayang dia terlalu muda #eaaaa #maksoood?)


Oya, aku belum cerita yaa siapakah gerangan seseorang yang kutunggu itu? Dialah Ludi alias pemikirulung. Mungkin ada yang sudah bosan dengan nama itu atau justru ada yang merindukannya. Hoho… Lama ia tak muncul di kampung MP karena saat ini sedang mengemban tugas yang mulia sebagai Pengajar Muda di Aceh Utara sana. Tsaaah..

Adalah hal yang amat langka bisa berjumpa Ludi di Jakarta. Seharusnya ia baru kembali dari Aceh delapan bulan lagi. Tapi karena ada acara pernikahan (bukan Ludi yang menikah, tenang saja, hoho) makanya ia cuti sejenak. Momen pulang kampung inilah yang kemudian dimanfaatkan Ludi untuk bertemu denganku (jiaaah, bukan ding!). Yang ada mah dia malah belanja2 di sini –Jakarta memang kota belanja yaa, hoho.

Gw ud sampe ni.dmn lu?
Gw d lt. 2
Kbwh aj dah.ad ira dsini
Oke.

Ludi akhirnya sampai juga. Aku yang sudah kembali masuk ke masjid UI dan duduk di lantai dua pun turun. Tak menyangka bahwa Ira (hayawi) akan datang juga. Sebelumnya, aku menelepon Ira menanyakan kabar Ludi yang saat itu nggak bisa dihubungi. Dari suara ramai yang kudengar, kupikir saat itu Ira berada di kereta atau pinggir jalan dan hendak pulang ke rumahnya (analisa ngasal).

Saat aku turun menyusuri anak tangga itulah kulihat dari kejauhan ada yang dadahdadah ke arahku. Haha.. Ini mata makin dudul ajah. Minus kacamata udah lumayan gede tapi masih burem aja. Nggak jelas melihat ada dua makhluk yang duduk di selasar dekat danau UI.

Ira kemudian begitu bersemangat dan berkata, “Eh, kita kayak lagi kopdar nih!” Aku dan Ludi menatapnya heran. Mungkin kalau dijewantahkan ke dalam kata akan berbunyi, “Kopdar dari Hongkooong?” Tapi mengingat Ira termasuk akhwat UI nan shaliha, kami tak jadi berkata demikian. Huehehe.. piss, Ra!

Ya, bagi aku dan Ludi, pertemuan kami ini tak bisa disebut sebagai kopdar. Sebelumnya kami pernah bertemu. Eh, sering malah. Kalau ada kegiatan sekolah atau kajian di kampus. Nah, sedangkan kopdar itu kan seringkali diidentikkan dengan pertemuan perdana, di mana orang2 yang hadir belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi bagi Ira, kopdar itu sesuatu banget. Xixi.. Maklum, Ira sekalipun belum pernah ikutan acara kopdar, meski ia ingin sekali (Ira, 2011).

Maka, semakin menjadilah kebahagiaan Ira manakala datang dua sosok lain yang nimbrung –yang usut punya usut ternyata MP’ers juga (sayangnya nggak aktif). Pertama, adiknya Ira (lupa nama dan ID-nya apa). Kedua, Tery Marlita aka terymarlita (yang ternyata udah CA. Hyaaa..). Seingatku, acara “kopdar” denga Tery juga pernah kubahas di jurnal sebelumnya.

“Dia penulis novel yang sampe sekarang nggak ketauan bukunya yang mana loh, Ka..” kata Ira menjelaskan. Yang kemudian dibalas oleh Ludi, “Aku juga udah nerbitin buku, kalian nggak tau kan?” Haha.. Akhirnya semua ngaku-ngaku udah punya buku gegara nama samaran yang tak diketahui itu.

Btw, tulisan panjang ini kalau diubah ke dalam peristiwa yang terjadi sore itu aslinya sebentar banget loh. Kami hanya berbincang selama kurang dari setengah jam. Itupun disambi transaksi transfer film dan K-drama antara Ludi dan Ira. Kopdar yang apa banget kan? Haha. Maklumlah, “Ini tunjangan kesepiannya Kak Ludi,” tukas Ira.

Selepas maghrib, aku dan Ludi pun berpisah dengan Ira dan yang lain. Tak lupa sebelumnya berfoto bareng sang penulis yang tak ingin disebutkan nama dan tak jua ingin terekspos wajahnya. Hwehehe…

Tery-Ai-Ira-Ludi

Dan tulisan ini kupersembahkan untuk Ira yang disela-sela obrolan kami berujar, “Tapi tulis yaa kak, tulis!” Hohoho.. Baiklah, Ira.. Nih, udah kutulis special untukmu ^___^b

27 responses

  1. asik ai, mski ziyy lebih pengen diajarin pak zai.sekali ketemu waktu pertemuan perdana gitu, lgsg kagum euy. asik aja cara berceritanya.sayang waktu itu ngga ketemu ust. lili.ust yg pengen bgt ditemui

  2. @faraziyyaaku juga pengen ketemu ust zai cuma blum kesampaian. Kalo pak edi n ust lili sih udah pernah. Hoho..@nisachem05tunggu 8bln lg yaa. Kecuali nisa mau beliin tiket PP buat dia..@luvummihadeuh… #TepokJidat

  3. @akunovikapan yaa kapan yaa kapan yaa kapan yaa? 100x :p@yuniezalabellaiya mba yun. Bahkan aku 2x ketemu dia. Hehe.. Ludi udah balik ke aceh hr ahad lalu..@fathia27rhmeaaa.. Tebak ga yaaa?😛

  4. @tantodikdikkalo sy minta k-drama lama: sassy girl chun hyang. Yg agak baru itu king of bread. Ini bagus ka. Hoho..@nurjanahwafahehe.. Gapapa njee. Gada syarat minimal kok. :d@ikhwatiislamehm.. Semudah itukah kau melupakan kopdar (dudul) kita mba? Hehe.

  5. waaaah.. kak aiiii! trimsi udah ditulis beneran… Aamiin aje dah buat doanya (merujuk pada “ira, akhwat UI nan shaliha) hohohohoho..akhwat solihah mana ada yg transaksi k-drama di selasar masjid [-___-“]akhirnya daku kopdaaaar!!! heheheeniwei foto kita berempat kagak bisa kebuka :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s