[GTO] Sepotong Episode di Boalemo

Kalau aku dan Evi harus ngekost dan cari makan sendiri, lain halnya dengan Seli, teman satu proyek kami yang homestay di rumah warga setempat. Ini adalah pilihan, ada kelebihan dan kekurangannya. Poinnya tentu ada pada seberapa kita bersyukur atas apa yang diberikanNya.

Penuh warna. Terbayar sudah perjalanan selama 3 jam oleh kisah yang diukir bersama sebuah keluarga yang hangat dan ramah. Dimulai dari kekhawatiran mereka saat kami menumpang mobil pribadi karena angdes yang membawa kami tak bisa mengantar sampai ke tempat tujuan. Lalu untuk teh manis hangat pertama yang kami cicipi semenjak di Gorontalo. Untuk obrolan larut malam yang seringkali diisi gelak tawa karena keterbatasan bahasa. Untuk jaminan rasa aman dan kenyang. Dan berakhir sudah “libur” akhir pekan kami di Desa Tapadaa. Esok, kita orang su harus “kerja” jo!😀

Makasih untuk bekal makan malamnya yaa, Ti Mama. Hoho..

***
Boalemo,
18 Des 11 pk. 14.22 wita
dan adanya tulisan ini semoga menjadi pengingat yaa, Kak Nay! ^^

7 responses

  1. @topanaduh, pan, kita ini dapet sinyal aja udah sesuatu banget. #alesan :p@om iqbalhahahaha :ngakak: ane gan!@eviatau kalo nggak, bu upik balik dari makassar trus ngajak kita orang nginep di kota #teteupngarep

  2. @ziyy dan om hensebenernya lebih sering pake bhs indonesia, tapi ada beberapa dialek yg bisa cepat dipelajari.bahasa gorontalo itu kaya. Satu kata bisa banyak makna. Banyak pakai huruf o. Kalo dengerin bahasanya sih emang cukup enak didengar. Tapi ga ngerti :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s