Doa Arwah 7 Hari (part 1)

Ini kali kedua aku mengikuti acara 7 hari meninggalnya tetangga di desa kami. Sebuah “tradisi” yang jauh berbeda dengan acara rowahan di Jakarta. Di sini, jamuannya lebih mirip hajatan pernikahan. Undangan yang datang tak hanya bapak2. Para ibu pun turut serta hadir. Dan hampir semua memakai pakaian putih2 *dan lagi2 aku merasa saltum. Ke sini gak bawa jilbab putih soalnya ^^”. Tapi Bu Haji kata, “Tidak apa2 asal jangan warna merah.”

Di Gorontalo, kematian & kegiatan yang terkait dengannya memang diidentikkan dengan warna putih biru. Putih untuk takziyah dan doa arwah 7 hari. Sedangkan biru untuk kostum doa arwah 40 hari. Paduan warna biru putih digunakan untuk kain penutup keranda mayit, payung & hidangan makanan yang akan disajikan.

Acara baru dimulai selepas isya tapi ba’da maghrib para undangan sudah datang dan mengisi kursi2 plastik yang tersedia. Yaph, tak ada lesehan di atas karpet atau tikar karena acara dilakukan di luar rumah, di bawah tenda bambu yang dibuat.

con’t

3 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s