book-a-lova | Desember ’11

Aku udah sempat bahas di jurnal sebelumnya tentang aktivitas membacaku di bulan Desember lalu. Bawa banyak buku dengan harapan bisa dituntaskan hingga akhir bulan ternyata nggak kesampaian. dari lima buku yang kubawa, hanya satu buku yang berhasil dituntaskan. wohoho… Menyedihkan!!!

Etapi seperti biasa, aku akan membuat pembenarana-pembenaran. hahah.. jangan ada yang protes karena ini lapakku!

Jadi, sewaktu di Gorontalo itu, ada banyak hal baru yang kudapatkan. Tentang bentang alamnya, karakter penduduknya, bahasanya, makanannya. Perhatianku seolah tersedot untuk mengetahui lebih banyak tentang kota di sebelah utara Sulawesi itu. Maka, waktu yang ada digunakan untuk mengamati lingkungan sekitar. Sepanjang perjalanan, kalau tidak dihabiskan untuk memandang deretan pepohonan di kiri kanan jalan, berbincang dengan Evi, tak ada hal paling nikmat selain tidur di angkot. wehehe…

Aku juga sempat khawatir sih, jangan-jangan aku memang belum begitu cinta dengan kegiatan membaca ini. Bisa dibilang ada banyak waktu luang selama di sana. Terlepas dari rasa sayang jika melewatkan momen berbincang dengan Evi dan orang-orang Gorontalo, harusnya aku masih menyisihkan waktu untuk membaca beberapa halaman setiap harinya. Ya, membaca setiap hari.

Harap maklum aja yaa kalo di bulan ini pun laporannya nggak bagus-bagus amat
Berikut daftar buku-buku yang “disentuh” selama bulan Desember:

1. Flipped – Wendelin van Draanen
Dalam sehari, buku ini langsung habis kubaca. Novelnya yang ringan dan dua sudut pandang yang disajikan membuatku penasaran untuk mengetahui kelanjutan ceritanya. Novel ini udah kubuat review-nya. silakan mampir ke sini.

2. Segalanya Bagiku – Jazim Naira Chand dkk.
Buku ini merupakan kelanjutan dari buku Ibuku Adalah. Masih bercerita tentang sosok ibu yang luar biasa. Membaca kumpulan kisah di dalam buku ini membuatu sadar akan satu hal. Setiap ibu yang luar biasa itu memiliki satu hal yang sama: inspiratif.

Oya, sedikit cerita, buku ini (dan seri sebelumnya) awalnya diterbitkan secara indie. Lalu karena penjualannya yang baik, bukunya kemudian diadopsi ke penerbit mayor (masih di perusahaan yang sama sih). Aku lalu belajar bahwa promosi yang gigih bisa sangat membantu kesuksesan sebuah buku, meski tetap ada hal lain yang juga mendukung.

Dan buku ini tertinggal di Boalemo, Gorontalo Utara sebelum aku menyelesaikannya

3. Please Look After Mom – Kyung Sook Sin
Awal membeli buku ini karena ingin ikut lomba nulis yang diadakan Gramedia. Tapi sampai lomba ini berakhir aku belum tuntas membacanya. Hoho.. Ada lima bab dalam novel ini tapi bab pertama belum juga tuntas. Agak2 bingung dengan alurnya euy! Lambat pula.. Belum lagi capek liat paragrafnya yang cuma ada satu dalam satu halaman. Tapi sebenenrnya sang penulis bisa menggambarkan sosok ibu dan perasaan yang menyelimutinya dengan baik.

4. 7 Keajaiban Rezeki – Ippho Santosa
Ada 7 keajaiban, tapi aku baru baca sampai bab keempat. Buku motivasi bisnis ini sebenernya nggak terlalu berat untuk dibaca. Tapi nggak pengen asal lalu juga bacanya. BIsa2 bukunya selesai dibaca, eh, aku malah nggak dapet apa2. Lagipula, intinya mah praktek yaa!

Dan buku Ranah Tiga Warna dibawa doang tapi nggak dibaca selama di sana. wkwk…

Oya, buka Goodreads lalu kembali diingatkan untuk mengisi Reading Challenge di tahun 2012. Okeh, aku akan membuat target yang lebih tinggi dari tahun lalu. Kalau tahun lalu jumlah buku yang harus kubaca adalah 51 buku. Maka, di tahun ini aku menargetkan baca 52 buku. *nutup mata karena malu liat targetan temen2 GR tinggi2 banget

InsyaAllah ketemu lagi di Book-a-lova Januari 2012 yaa… Emm, tapi kira2 format penulisannya perlu diubah ga yaa?

***
Ruang tengah,
3 Januari 2012 pk. 13.37 wib
Semangat membaca, Ai!!!

14 responses

  1. akuai said: Tapi nggak pengen asal lalu juga bacanya. BIsa2 bukunya selesai dibaca, eh, aku malah nggak dapet apa2. Lagipula, intinya mah praktek yaa!

    Betul. Bukunya mas Ippho yang ini memang bukan untuk dibaca, tapi untuk ditulis (pada halaman kosong) dan dipraktekkan. Go.. Go… !… dari situlah bisa dibuktikan bahwa: Leaders are Readers

  2. fightforfreedom said: Betul. Bukunya mas Ippho yang ini memang bukan untuk dibaca, tapi untuk ditulis (pada halaman kosong) dan dipraktekkan. Go.. Go… !… dari situlah bisa dibuktikan bahwa: Leaders are Readers

    harusnya saya merangkul sepasang bidadari dulu, tapi karena kelamaan jadi milih lanjut baca aja.. #curcol😀

  3. melodisenja said: tempo hari nemu blog anti ippho di blogspot, heheBtw ai+ziy ada kopdar klub buku dr @klubbuku jakarta, tp sy jg blm tau byk infonya cm tau ada kopdarnya aja😀

    ehehe.. karena dianggap kata2nya sang motivator ingin “dikultuskan” bukan? mau dong link-nya :Dhwaa, ga gaul sama @klubbuku euy. ntar aku malu2 :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s