Membaca Novel

Lihatlah, aku sekarang sedang membaca novel. Asal kau tahu saja, sampai sekarang sebenarnya aku masih belum terlalu suka membaca novel. Aku hanya terpaksa membacanya. Kau tahu, kan? Aku ingin jadi penulis. Aku ingin juga membuat novel. Tapi bagaimana bisa menulis novel kalau tak pernah membaca novel? Pasti aneh!

Dulu sebenarnya kau juga yang menjadi motivatorku untuk membaca novel. Mungkin diksimu apik pun karena hobimu itu. Jadi kuputuskan, aku tak ingin kalah darimu! Kalau kau bisa melahap banyak novel, kenapa aku tidak bisa juga? Lalu kusadari bahwa membaca novel untuk keperluan belajar menulis novel atau karya fiksi lainnya penting juga. Aku lalu tak terlalu peduli sudah seberapa banyak novel yang kau baca, tapi seberapa banyak pelajaran yang terserap dari novel yang kubaca. Dan itu lebih memusingkan.

Ketika membaca bukan hanya sekadar membaca, di sanalah keruwetan bermula. Jangan sampai berlembar2 halaman yang terbaca tak masuk sedikitpun ke dalam otak. Lebih menyedihkan lagi ketika kau tak mampu mengambil hikmah dari novel itu. Setidaknya aku harus bisa melihat gaya bahasa, diksi, poin2 yang membuat novel itu terasa begitu menarik. Analisa yang memusingkan. Haha… Tapi memang harus dibedah seperti itu.

dan sekarang novel yang belum jua selesai dibaca adalah “please look after mom”. Yasudah, aku mau lanjut baca dulu. Sampai jumpa di resensi bukunya yaa! ^^b

19 responses

  1. @mba leyla: aku ikut dan menang. Hoho.. Coba dibaca deh mba. Menarik. Ada banyak POV gitu :)@om iqbal: manis sekali.. Hahaha.@ziyy: iya, betul. Dulu aku prefer baca nonfiksi karena jelas isinya. Jadi ketika aku harus baca novel, maka harus ada yg kudapatkan!@kiki: yaph, yg kubawa waktu nginep itu. Blum selesai. Hehe..

  2. Aku masih asik baca. Alasanku kembali adalah ingin berbagi kutipan di novel ini.”Tahukah kau, apa yang terjadi pada segala sesuatu yang kita lakukan bersama-sama di masa lalu? Ketika kutanyakan hal ini kepada anak perempuanku, walau sebenarnya kaulah yang ingin kutanyai, anak perempuanku berkata, ‘aneh sekali mendengarmu mengatakan hal seperti ini, ibu,’ dan dia bertanya, ‘bukankah hal2 itu mestinya terbawa dan memengaruhi masa kini, bukannya lenyap begitu saja?’ susah sekali kata2nya! Apakah kau mengerti apa maksudnya itu? Dia bilang, segala sesuatu yang telah terjadi itu sesungguhnya ada di masa kini, hal2 di masa lalu bercampur dengan hal2 di masa sekarang, dan hal2 di masa sekarang bercampur dengan hal2 di masa depan, dan hal2 di masa depan bercampur ddngan hal2 dari masa lalu; hanya saja kita tidak bisa merasakannya. Namun sekarang aku tak sanggup lagi meneruskannya.”aku paling suka dengan novel2 yg banyak memberikan kutipan menarik seperti di atas. Terlepas dari paragrafnya yang panjang (dan ini tergolong pendek jika dibandingkan paragraf2 lain yang bahkan sepanjang satu halaman penuh.)

  3. Setuju. Seerti kata Clara Ng, “Menulis adalah hasil dari kita membaca.” :)Buat sebagian orang, membaca memang membutuhkan perjuangan, perjuangan menyisihkan waktu, itu salah satunya. *ini ngomong sambil ngaca buat diri sendiri jugak, kakak* :-p

  4. ninelights said: Setuju. Seerti kata Clara Ng, “Menulis adalah hasil dari kita membaca.” :)Buat sebagian orang, membaca memang membutuhkan perjuangan, perjuangan menyisihkan waktu, itu salah satunya. *ini ngomong sambil ngaca buat diri sendiri jugak, kakak* :-p

    *pijem kacanya dong mba ranaaa…😀

  5. jaraway said: aku juga masih agak susah suka fiksi…hihihi

    iya, pas di kampus itu makananku non fiksi, jadi pas disuruh baca fiksi agak2 lemot. padahal dulu jaman smp n sma kenceng juga baca fiksinya :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s