[NgoBray] Risiko Penulis

Melihat anaknya yang sejak tadi pagi hampir tak lepas dari laptop, memaksa ayahku untuk bertanya, “Belum selesai, Ai?”

“Belum,” kataku, masih dengan mata yang tertuju ke layar laptop.

Senang rasanya ketika ayah sudah mulai bisa memahami mimpiku. Meski kadang masih suka bercanda, “Menghasilkan duit nggak tuh?” Aku lalu menatap ayah. Nyengir. “Bisaaaa…” kataku, disusul dengan ucapan dalam hati, bisa diusahakan, hehe..

Tak lama ayah bilang, “Kamu jangan nulis tentang si XXX, Ai.” Eeh, kenapa? Kok tiba-tiba ayah bicara begitu? Tapi belum sempat aku menanggapinya, ayah sudah berujar lagi, “Nanti dia (yang punya cerita) marah.”

Hmm. Dulu aku memang pernah cerita ke ayah kalau aku ingin membuat novel tentang kisah seseorang yang memiliki masalah hidup yang cukup pelik. Aku ingin tulisan itu bisa menjadi pelajaran bagi siapa saja yang membacanya. Tapi ayah sepertinya khawatir orang yang punya cerita nggak suka kisahnya kuangkat ke dalam novel.

“Atau nggak usah pake nama dia,” lanjut ayah.

Haha.. aku tertawa mendengar ucapan ayah. “Yaiyalah.. Namanya pasti akan disamarkan. Ai cuma butuh ceritanya yang inspiratif aja,” kataku. Maklumlah, ayah memang nggak terlalu mengerti karya fiksi. Aku lalu mencoba menjelaskan kembali tentang novel dan sejenisnya.

“Karena kenyataan itu kan belum tentu bener, Ai,” kata ayah menutup obrolan kami tentang novel. Oh, ya, maksud ayah mungkin bahwa apa yang kita lihat belum tentu merupakan kenyataan yang sebenarnya. Kita seringkali secara sepihak menyimpulkan sebuah perkara benar atau salah, tapi sebenarnya kita nggak tahu apa-apa. Tepatnya, hanya secuil kisah yang kita ketahui tentang seseorang, dan terkadang, hal itu tak cukup menggambarkan keseluruhan orang tersebut.

Tapi membuat sebuah karya fiksi tentu akan lain ceritanya. Ide mungkin bisa saja datang dari kisah nyata yang terdengar oleh kita, meski hanya sepotong. Tapi kita bebas mengembangkannya, membumbuinya, dan membuat takdir untuk ending kisahnya.

Aku jadi ingat bahwa tadi pagi aku pun memikirkan hal ini. Bahwa sudah menjadi risiko penulis bahwa karyanya nanti akan dikait-kaitkan dengan kehidupannya. Dianggap tulisan itu merupakan perasaan sang penulis yang sebenarnya. Hahaha… Dan kupikir para penulis akan tertawa dan berkata, “terserah!” Setiap pembaca berhak menyimpulkan apapaun setelah membaca karya seorang penulis. Pun dengan penulis, Ia juga berhak menyimpan rahasianya. Apaka karyanya tersebut nyata atau rekaan belaka.

***
di balik 3 jendela,
29 januari 2012pk. 08.02 wib
itsuka…

–foto dari sini

35 responses

  1. akuai said: Melihat anaknya yang sejak tadi pagi hampir tak lepas dari laptop, memaksa ayahku untuk bertanya, “Belum selesai, Ai?””Belum,” kataku, masih dengan mata yang tertuju ke layar laptop.Senang rasanya ketika ayah sudah mulai bisa memahami mimpiku. Meski kadang masih suka bercanda, “Menghasilkan duit nggak tuh?” Aku lalu menatap ayah. Nyengir. “Bisaaaa…” kataku, disusul dengan ucapan dalam hati, bisa diusahakan, hehe..Tak lama ayah bilang, “Kamu jangan nulis tentang si XXX, Ai.” Eeh, kenapa? Kok tiba-tiba ayah bicara begitu? Tapi belum sempat aku menanggapinya, ayah sudah berujar lagi, “Nanti dia (yang punya cerita) marah.”Hmm. Dulu aku memang pernah cerita ke ayah kalau aku ingin membuat novel tentang kisah seseorang yang memiliki masalah hidup yang cukup pelik. Aku ingin tulisan itu bisa menjadi pelajaran bagi siapa saja yang membacanya. Tapi ayah sepertinya khawatir orang yang punya cerita nggak suka kisahnya kuangkat ke dalam novel.”Atau nggak usah pake nama dia,” lanjut ayah.Haha.. aku tertawa mendengar ucapan ayah. “Yaiyalah.. Namanya pasti akan disamarkan. Ai cuma butuh ceritanya yang inspiratif aja,” kataku. Maklumlah, ayah memang nggak terlalu mengerti karya fiksi. Aku lalu mencoba menjelaskan kembali tentang novel dan sejenisnya.”Karena kenyataan itu kan belum tentu bener, Ai,” kata ayah menutup obrolan kami tentang novel. Oh, ya, maksud ayah mungkin bahwa apa yang kita lihat belum tentu merupakan kenyataan yang sebenarnya. Kita seringkali secara sepihak menyimpulkan sebuah perkara benar atau salah, tapi sebenarnya kita nggak tahu apa-apa. Tepatnya, hanya secuil kisah yang kita ketahui tentang seseorang, dan terkadang, hal itu tak cukup menggambarkan keseluruhan orang tersebut.Tapi membuat sebuah karya fiksi tentu akan lain ceritanya. Ide mungkin bisa saja datang dari kisah nyata yang terdengar oleh kita, meski hanya sepotong. Tapi kita bebas mengembangkannya, membumbuinya, dan membuat takdir untuk ending kisahnya.Aku jadi ingat bahwa tadi pagi aku pun memikirkan hal ini. Bahwa sudah menjadi risiko penulis bahwa karyanya nanti akan dikait-kaitkan dengan kehidupannya. Dianggap tulisan itu merupakan perasaan sang penulis yang sebenarnya. Hahaha… Dan kupikir para penulis akan tertawa dan berkata, “terserah!” Setiap pembaca berhak menyimpulkan apapaun setelah membaca karya seorang penulis. Pun dengan penulis, Ia juga berhak menyimpan rahasianya. Apaka karyanya tersebut nyata atau rekaan belaka.***di balik 3 jendela,29 januari 2012pk. 08.02 wibitsuka…–foto dari sini

    hahaha.. betul banget ka.. ^_^

  2. akuai said: Bahwa sudah menjadi risiko penulis bahwa karyanya nanti akan dikait-kaitkan dengan kehidupannya. Dianggap tulisan itu merupakan perasaan sang penulis yang sebenarnya. Hahaha… Dan kupikir para penulis akan tertawa dan berkata, “terserah!” Setiap pembaca berhak menyimpulkan apapaun setelah membaca karya seorang penulis. Pun dengan penulis, Ia juga berhak menyimpan rahasianya. Apaka karyanya tersebut nyata atau rekaan belaka.

    deuuh, gw juga gitu Ai. Tiap gw bikin ilustrasi suwami ischri selalu dikaitkan kalo itu impian gw. atau stiap gw gambar akhwat biasanya selalu dikaitkan dengan seseorang didunia nyata. amfyuun deh, repot juga yeah jd orang ngetop *halah :))

  3. Hmmmmm aku sekarang jarang nulis … Eh lebih tepatnya jarang nyentuh keyboar dan jarang ngenet nih :pHahaha aku juga seperti itu. Dan karenanya pernah dinasehatin secara khusus sama kakak2 sepupu, disuruh jangan terlalu terbuka untuk bercerita masalah pribadi…Padahal mah yg kutulis itu bukan masalahku… ( Itu hanya interpretasiku aja terhadap masalah tsb :p )

  4. setobuje said: deuuh, gw juga gitu Ai. Tiap gw bikin ilustrasi suwami ischri selalu dikaitkan kalo itu impian gw. atau stiap gw gambar akhwat biasanya selalu dikaitkan dengan seseorang didunia nyata. amfyuun deh, repot juga yeah jd orang ngetop *halah :))

    eeh? nasib ilustrator ternyata ga juh beda yaa? haha.. baru tau. yaa orang ngetop emang kudu bersabar yaa je.. *buat diri sendiri juga :))

  5. yuniezalabella said: Hmmmmm aku sekarang jarang nulis … Eh lebih tepatnya jarang nyentuh keyboar dan jarang ngenet nih :pHahaha aku juga seperti itu. Dan karenanya pernah dinasehatin secara khusus sama kakak2 sepupu, disuruh jangan terlalu terbuka untuk bercerita masalah pribadi…Padahal mah yg kutulis itu bukan masalahku… ( Itu hanya interpretasiku aja terhadap masalah tsb :p )

    huhu.. iya kangen mba yun niiih ^^etapi dari apa yang kita tulis sebenernya bisa sedikit menggambarkan siapa kita lewat pemikiran2 kita. tapi kalo tulisannya tulus dari hati ya🙂

  6. faraziyya said: apa ya, ai?hehhe.intinya, ngambil ide dr ceritanya org lain pun, etisnya, beritahu.konfirmasi lah.hehhega nyambung yak? -.-a

    oh, i c..tapi aku seringkali ga bilang2, hehe.. kalo tulisannya udah jadi baru deh bilang. :ptapi bagaimanapun, kan para pembaca itu tetap ga tau darimana ide itu datang. dan setiap penulis ga bisa selalu mengatakan darimana inspirasi itu datang :))

  7. akuai said: tapi bagaimanapun, kan para pembaca itu tetap ga tau darimana ide itu datang. dan setiap penulis ga bisa selalu mengatakan darimana inspirasi itu datang :))

    hu’um hu’umtadi aku cuma keingatn postingan itu.soalnya, orang yang ceritanya diambil lalu dibukukan eh buku itu best seller, merasa punya perlu adanya konfirmasi.mb anaz ambil contoh galaksi kinanthi tasaro GK, yg sbelumnya sudah mengkonfirmasi bahwa memang cerita itu diambilnya dari kisah seorang tkw.

  8. faraziyya said: hu’um hu’umtadi aku cuma keingatn postingan itu.soalnya, orang yang ceritanya diambil lalu dibukukan eh buku itu best seller, merasa punya perlu adanya konfirmasi.mb anaz ambil contoh galaksi kinanthi tasaro GK, yg sbelumnya sudah mengkonfirmasi bahwa memang cerita itu diambilnya dari kisah seorang tkw.

    iya iya.. sepertinya emang perlu juga sih.tapi kadang aku ga bener2 menceritakan kisah seseorang, diambil cuplikannya aja, jadi kalopun ada yg baca, ga akan disadari itu kisah siapa. paling yg punya cerita aja yg ngerasa, meski dia ga bisa memastikan juga bener atau nggak kalo itu kisahnya😀

  9. perempuanlangitbiru said: mksdnya td mw quote yg aq share di fb itu ka..dr hp kok jd malah quote smuanya yak?

    oooh.. hp-nya canggih juga yaa bisa ngequote tulisan? hehe.. setahuku utk komentar, yg ke-quote yaa emang semuanya..

  10. akuai said: huahaha… besokbesok kita akan lebih banyak memakai kata ini mba. jangan sampe lupa yaa :))

    iyaaaah :Dtapi sejak kapan gitu aku udah cuek, kok karena imajinasiku banyak, hehe… jadi, satu inspirasi bisa cerita ke mana2 :Dyah u know lah😛

  11. mylathief said: Penulislah yg membuat certa jd menarik :p

    nanti deh yaa aku bikin ramuannya. secara bahan2nya udah lumayan banyak juga inih :))*kalo ga sibuk juga.. ^^v

  12. akunovi said: iyaaaah :Dtapi sejak kapan gitu aku udah cuek, kok karena imajinasiku banyak, hehe… jadi, satu inspirasi bisa cerita ke mana2 :Dyah u know lah😛

    khas mba novi lah..tapi seru juga tuh ketika imajinasi begitu liar.lalu tersadar, pengembangan ceritanya udah jauuuuh banget dari ide awalnya :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s