Episode Menunggu

Seringkali, kegiatan mengamati sekeliling menjadi lebih menarik daripada menenggelamkan diri bersama buku yang dibaca. Novel “Recipes for a Perfect Marriage” yang sejak tadi menemani episode menunggu seorang kawan ini sebenarnya sayang untuk dibiarkan begitu saja. Tapi potret-potret yang tertangkap oleh lensa mataku sukses membuat aktivitas membacaku terhenti.

Sekitar 5 m dari tempatku duduk, tampak lima orang remaja -yang dugaanku merupakan anak-anak ROHIS yang akan rihlah- terdiri dari tiga orang putri yang asyik berbincang-bincang -sama halnya dengan dua gadis yang duduk berjejer di sebelah kiriku- dan dua orang putera yang duduk tak jauh dari mereka tapi tak ikut mengobrol. Mereka tampak sibuk dengan pikirannya masing-masing. Apakah para pria memang lebih senang menghabiskan waktu menunggu dengan “diam” saja? Entahlah. Hanya mengamati putra dan putri yang duduk di pinggir rel itu membuatku menyimpulkan, begitulah perbedaan di antara mereka. Kontras sekali. Haha..

Di sudut lain.

Ya, aku tahu bahwa menertibkan lalu lintas penumpang serta memberi info tentang jalur kereta mana yang seharusnya didatangi adalah pekerjaannya. Tapi terlepas dari itu, petugas berseragam biru tua itu telah memberi banyak manfaat bagi sesiapa yang kebingungan di sana. Kadang, beberapa penumpang memang tampak sibuk tengok sana sini tapi malu untuk bertanya. Kupikir, meski pekerjaannya bagi sebagian orang tampak biasa saja, tapi coba bayangkan, berapa banyak pahala yang terkumpul setiap kali senyum tulus petugas itu terkembang ketika memberi jawaban?

Saat mengetik tulisan ini via email, aku sesekali memandang sekeliling, lalu pikiranku mengangkasa, lalu mengetik lagi. Saat mengamati suasana stasiun itu, kutemukan begitu beragamnya orang-orang di sini. Meski tentu saja ini hanya sebagian kecil dari seluruh penghuni jagat raya yang lebih beragam lagi.

Menarik memang. Beragam aktivitas, beragam usia, warna kulit, profesi, penampilan, status sosial (pentingkah?). Ada anak-anak kecil yang menggemaskan, nenek-nenek yang masih tampak segar berjalan, muda-mudi yang menikmati weekend bersama kawanannya, para lajang, hingga pasangan suami istri yang tampak serasi… pakaiannya. Hihi. Eh, lalu kutemukan pasangan lain. Dan sepertinya aku kenal.

“Kiki!” seruku.

Perempuan yang mengenakan busana warna merah muda (matching dengan suaminya yang memakai kemeja warna merah maroon) lalu menengok ke arahku. “Ai, yaa? Eh, kok aku lupa wajahmu sih?” katanya pangling. Aku tersenyum menanggapinya. Padahal kami pernah melewatkan satu malam bersama. Haha.

“Abis kondangan juga?” tanyaku.
“Iya, kamu?”
“Aku baru mau kondangan, lagi nunggu temen dulu.”
“Nikahan siapa?”
“Adik tingkat di kampus.”
“Namanya? Jangan-jangan sama.”
“Lina.”
“Oh, beda.”

Tak kusangka bahwa membahas tentang siapa yang menikah menjadi sepanjang itu. Undangan pernikahan yang kuterima memang hadir setiap minggunya di bulan ini. Sehari bahkan bisa dua sampai tiga yang menikah. Belum ditambah janur kuning yang kutemukan sepanjang perjalanan Jakarta-Bogor. Banyak sekali. Musim nikah kah? Ah, kurasa tidak juga. Mungkin memang sudah waktunya.

Aku masih menikmati episode menungguku. Sedangkan perempuan yang duduk di sampingku dan sempat menggerutu, “ah, gw pulang aja deh!” sudah pergi beberapa saat yang lalu. Mungkin ia sudah tak punya waktu lagi untuk menunggu.

***
St. Bogor,
12 Feb 12 pk. 12.04 wib
Menunggu ‘gadis di dalam kereta’

edited pk. 23.16 wib untuk kembali belajar deskripsi ^^b

26 responses

  1. Saat mengetik tulisan ini via email, aku sesekali memandang sekeliling, lalu pikiranku mengangkasa, lalu mengetik lagi. Saat mengamati suasana stasiun itu, kutemukan begitu beragamnya orang2 di sini. Meski tentu saja ini hanya sebagian kecil dari jagat raya yang lebih beragam lagi. menarik. Ada anak kecil, nenek2, para lajang, hingga pasangan suami istri yang tampak serasi. Pakaiannya. Hihi. Eh, lalu kutemukan pasangan lain. Dan sepertinya aku kenal.

  2. bagiku stasiun dan kereta mrupakan etalase kehidupan, slalu ada hal menarik yg disaksikan, mulai dari pertunjukan musik kelas rakyat, drama kehidupan kelas menengah k bawah, sampai toko berjalan dg diskon gede hehehe slain itu memotret stasiun dan kereta mrupakan hobby wajib buat para rf sepertiku😀

  3. faraziyya said: hu’um,kalo di stasiun mah, memang lebih enak menunggu sambil melihat-lihat🙂

    dan membuat orang di samping kita mungkin terheran2 dengan keanehan yang kita buat :p

  4. izzmael said: bagiku stasiun dan kereta mrupakan etalase kehidupan, slalu ada hal menarik yg disaksikan, mulai dari pertunjukan musik kelas rakyat, drama kehidupan kelas menengah k bawah, sampai toko berjalan dg diskon gede hehehe slain itu memotret stasiun dan kereta mrupakan hobby wajib buat para rf sepertiku😀

    etalase kehidupan? menarik! ^^b

  5. akuai said: Kupikir, meski pekerjaannya bagi sebagian orang tampak biasa saja, tapi coba bayangkan, berapa banyak pahala yang terkumpul setiap kali senyum tulus petugas itu terkembang ketika memberi jawaban?

    makanya, jangan malu “bertanya” pada petugas berseragam biru tua itu, agar tidak lama-lama “menunggu”…. ^^v

  6. riodevriza said: makanya, jangan malu “bertanya” pada petugas berseragam biru tua itu, agar tidak lama-lama “menunggu”…. ^^v

    aih,, lalu maksud pemberian tanda kutip itu apa, rio?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s